Welcome!

Selamat datang ke Max125, sebuah blog yang berisi ide, naskah khotbah, renungan, dan ilustrasi yang telah saya kumpulkan selama beberapa tahun terakhir ini.

Blog ini saya rindukan boleh menjadi sarana bagi kita untuk berbagi ide, pemikiran, materi khotbah, dan bahkan berbagi cerita tentang pelayanan yang kita hidupi di dalam Tuhan.

Saya bermimpi ada sebuah blog berbahasa Indonesia yang mengumpulkan rekan-rekan hamba Tuhan yang melayani di Indonesia dalam sebuah jejaring yang saling memberkati.  Tempat dimana kita berbagi materi-materi pelayanan yang telah kita kembangkan dalam pelayanan kita selama ini.

Saya percaya setiap hamba Tuhan telah diberikan banyak kesempatan untuk mempersiapkan pelayanan dalam bentuk naskah tertulis (mis. naskah khotbah) tetapi mungkin hanya kita khotbahkan sekali di mimbar gereja yang kita layani.   Jika demikian, sayang sekali rasanya, bukan? Jadi mari berbagi melalui blog ini.

Top Priority

Christians Too Busy for God.[1] Sebuah data yang dikumpulkan oleh Charleston Southern University School of Business dari lebih dari duapuluh ribu orang Kristen dari 139 negara yang berusia antara 15-88 tahun menemukan bahwa rata-rata empat dari sepuluh orang Kristen di seluruh dunia berkata bahwa mereka “seringkali” atau “selalu” terburu-buru dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Survey yang memang dilakukan untuk menemukan apa yang menjadi penghambat pertumbuhan rohani ini menemukan bahwa enam dari sepuluh orang Kristen berkata bahwa adalah “seringkali” atau “selalu” benar bahwa “kesibukan hidup menjadi penghalang dalam hubungan kita dengan Tuhan”. Orang Kristen menjadi terlalu sibuk untuk Tuhan. Ini menjadi sebuah fakta yang tidak bisa disangkal kebenarannya.

Yang lebih menarik sekaligus ironis ditemukan dari survey ini adalah bahwa berdasarkan profesi, pendeta (pastor) adalah kelompok profesi yang karena kesibukannya paling terpengaruh dalam hubungannya dengan Tuhan. Sederhananya, profesi yang paling kurang dalam berdoa akibat kesibukan pekerjaannya justru adalah orang yang dianggap seharusnya paling banyak berdoa. Pendeta paling kurang proposional kehidupan doanya karena terlalu sibuk.

Kesibukan adalah penghalang terbesar bagi relasi kita dengan Tuhan

Busy is one demon of our culture. Kesibukan adalah sesosok iblis dalam kebudayaan kita. “Halo, bagaimana kabar anda hari ini?” “Sibuk”. “Bagaimana weekend kamu?” “How was your weekend?” “Busy.” “Apakah anda mau terlibat dalam pelayanan?” “Tidak. Saya sedang sibuk!” Itu jawaban klasik yang sering kita dengar di jaman ini.

Seorang anak muda suatu kali mengirimkan short message kepada pendetanya menunjukkan akronim dari “busy” (sibuk). Busy—Being Under Satan’s Yoke.

Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat. 11:28)

Jika Tuhan Yesus mengundang kita untuk menikmati kelegaan, mengapa kita masih begitu dikuasai oleh kesibukan kita? Kebanyakan kita terlalu sibuk untuk menjaga kesehatan rohani kita. Kita berlomba dengan putaran roda yang sangat kencang sepanjang hari, berusaha menyelesaikan segala sesuatu yang kita anggap penting. Itu sebabnya kebanyakan orang Kristen sering merasa burn out. Keletihan. Masalah yang sama juga terjadi dalam kehidupan para hamba Tuhan.

Bill Hybels, gembala sidang Willow Creek Community Church, suatu hari berkata, “I was so busy doing the Lord’s work, that I was destroying the Lord’s work in me.” (Saya begitu sibuk melakukan pekerjaan Tuhan sampai saya menghancurkan pekerjaan Tuhan di dalam hidup saya). Saya sendiri—seperti banyak hamba Tuhan—harus malu mengaku bahwa itulah juga yang kadang saya rasakan.

Di jaman ini, kita punya kecenderungan buruk untuk mengisi sedikit-banyak waktu lowong kita punya untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang kita anggap penting untuk dibereskan. Kita tidak punya waktu untuk Tuhan di tengah kesibukan kita. Jika demikian, kapan kita memohon Tuhan memimpin, mengkoreksi, dan meneguhkan kehidupan kita? Jika ini sangat jarang terjadi, bagaimana kita merefleksikan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari? Mustahil. Demikianlah kesibukan menjadi alat iblis yang paling efektif untuk menjauhkan kita dari Tuhan.

Dalam sebuah konferensi beberapa tahun lalu, Bill Hybels berbicara tentang Authentic Christianity (Kekristenan yang Sejati). Dia berkata bahwa:

Authentic Christianity is not learning a new set of rules or doctrines, or simply helping those who are less fortunate. Primarily, it is a supernatural walk with a loving God. Authentic Christianity is a living relationship between a God who cares, and his children who know they matter to him.

Kristen sejati bukanlah soal belajar mengenai seperangkat aturan atau doktrin tertentu, atau (bukan juga) soal menolong mereka yang kurang beruntung. Utamanya, ini adalah sebuah perjalanan supranatural dengan Allah yang hidup. Kristen sejati adalah sebuah sebuah relasi yang hidup antara Tuhan yang peduli dan anak-anakNya yang tahu bahwa mereka berarti di hadapan Tuhan.

Kristen sejati memiliki passion kepada Tuhan Yesus yang senang hidup dalam usaha untuk menjadi serupa Kristus. Adalah menyedihkan memahami fakta bahwa saya, anda, dan banyak orang kristen lainnya terlalu sibuk dengan aktifitas kita sehingga kita tidak lagi merasa ini yang terpenting dalam hidup kita.

Kesibukan adalah musuh terbesar bagi pertumbuhan rohani dan keintiman

The key factor in any relationship is time. Faktor kunci dalam semua relasi adalah waktu. Bukan waktu lebih atau waktu sisa, tetapi waktu yang berkualitas. Quality time. Ingatkah waktu kita pertama kali jatuh cinta? Menghabiskan waktu dengan “si Dia” menjadi top priority—dan itu mudah dilakukan. Mengapa? Karena “si Dia” menjadi seseorang yang paling penting sejagad dunia akhirat dalam kehidupan kita. Demikianlah kasih Tuhan sepanjang masa bagi kita. Demikianlah kasih yang Tuhan harapkan dari kita.

Tetapi menyedihkan, alih-alih seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia bersama, hubungan kebanyakan orang dengan Tuhan lebih seperti sebuah pernikahan yang membosankan. Seperti sepasang suami istri yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga sekalipun tinggal bersama, makan semeja, dan tidur seranjang tetapi “sangat jauh”. Masing-masing lebih memikirkan hal lain daripada pasangannya.

Demikian juga orang percaya yang setiap minggu datang ke gereja. Banyak orang yang menyebut dirinya mengasihi Tuhan, tetapi lebih tertarik kepada hal-hal lain diluar gereja daripada menyibukkan diri membangun hubungan yang hangat dan intim dengan Tuhan.

Tuhan Yesus sendiri menggambarkan hal ini dengan perumpamaan tentang benih yang jatuh di tempat yang berbeda. Benih yang jatuh disemak berduri menggambarkan mereka yang mendengar firman Tuhan di gereja, tetapi ketika mereka keluar dari gereja, mereka dikuasai oleh kekuatiran, harta kekayaan, kesenangan duniawi sehingga benih itu gagal bertumbuh.

Hubungan kita dengan Tuhan menjadi dingin. Kita berdoa, tetapi seakan berbicara kepada tembok. Sia-sia. Hampa. Ibadah di gereja menjadi rutinitas. Membaca Alkitab menjadi sebuah keterpaksaan—sekadar tambahan aktifitas dalam agenda yang sudah padat setiap hari. Hati pelayanan semakin pudar. Perlahan kita sendiri lupa mengapa kita datang ke gereja setiap minggu karena menjadi habit semata. Jika ini apa yang sedang anda rasakan, ketahuilah itu sebuah tanda awas yang patut kita perhatikan—sebelum kita kehilangan arti hidup kita. Tenggelam dalam kesibukan tanpa arti.

Apa yang kita teladani dari Tuhan Yesus?

35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. [Mrk. 1:35 ]

45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. [6:45-46]

Slowing Down to Pray

Kita perlu memperlambat kecepatan hidup kita untuk berdoa. Kita perlu berhenti untuk berdoa. Yohanes 21:25 menggambarkan bagaimana Tuhan Yesus melakukan begitu banyak hal selama kehidupannya—begitu banyak sehingga jika semua harus dituliskan, maka tidak akan cukup buku untuk memuat semua kisah yang perlu dituliskan pada masa itu. Tetapi, kita tidak pernah mendengar bahwa Tuhan melakukan semuanya dengan tergesa-gesa ataupun kerepotan karenanya.

Jangan salah paham. Tuhan Yesus sangat mengerti apa artinya sibuk—dalam beberapa kesempatan kita tahu bahwa Ia dan murid-muridNya tidak sempat untuk makan (Mrk. 3:30; 6:31). Kemanapun Ia pergi, dimana pun Ia berada, selalu ada orang yang membutuhkan dan selalu ada pekerjaan untuk dilakukan. Tetapi, Yesus seringkali mengambil waktu untuk menarik diri dari keramaian dan pekerjaannya yang ilahi untuk berdiam diri dan berdoa.

Yesus terlalu sibuk untuk tidak berdoa. He’s too busy not to pray. Hubungannya dengan Bapa di Surga menjadi vital untuk senantiasa tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Bagi Tuhan Yesus, being comes before doing. Being with the Father is much more important than doing something for Him. Kekuatan hadir dari waktu yang dinikmati bersama Tuhan. Dalam doa dan diam mendengar suara Tuhan kita mengalami pemulihan dan kesegaran.

38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. [Lukas 10:38-40a]

Maria dan Marta adalah kakak beradik yang sama sekali berbeda dalam cara mereka menggunakan waktu mereka. Marta selalu berpikir dia tidak punya cukup banyak waktu untuk melakukan banyak hal, sementara Maria mengambil kesempatan terbaik untuk duduk dekat dan mengalami kehadiran Tuhan Yesus. Untuk itulah Maria mendapatkan pujian dan berkatNya.

Menarik diperhatikan bahwa baik Maria dan Marta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengalami Tuhan secara pribadi. Tuhan hadir dalam rumah mereka. Apa yang anda lakukan kalau tahu sebentar lagi Tuhan akan datang ke rumah anda? Maria tentu punya banyak aktifitas rumah harian yang harus Ia lakukan, mungkin ada baju kotor yang belum dicuci, piring bekas makan yang belum dirapikan, mungkin ada beberapa belanjaan yang harus dibeli, dsb. Atau mungkin Ia bisa saja menyapu, mengepel dan rapi-rapi. Tetapi, Maria memutuskan untuk menangkap moment itu untuk Ia nikmati bersama dengan orang yang penting dan sangat disayanginya, Tuhan Yesus.

Maria berkata, “Saat ini, ketika aku memiliki kesempatan ini untuk dekat dengan Tuhan, aku tidak akan menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Aku akan menangkap kesempatan ini untuk menikmati waktuku dengan Tuhan selagi aku bisa.” Ia mengambil pilihan yang bijaksana. Ia tahu tidak selalu Tuhan akan ada di sana. Ia tahu tidak selamanya orang yang dikasihinya akan selalu sempat mampir datang ke rumahnya. Ia tahu tidak banyak waktu Ia bisa mendengar suara Tuhan Yesus. Ini kesempatan yang tidak akan kembali lagi. Maria bukan bermalas-malasan, Ia hanya memilih untuk fokus pada apa yang terpenting.

CEO Quits After Missing Daughter’s Milestones.[2] Seorang ayah yang dianggap high-profile dalam karir dan pencapaian profesional baru-baru ini mengundurkan dari posisinya sebagai CEO PIMCO, sebuah perusahaan management investasi besar di dunia, yang berkantor pusat di Newport Beach, California. Mohammed Al Erian, seorang pribadi sukses yang memimpin perusahaan investasi yang menangani dana tidak kurang dari dua milyar dolar, pada awal Januari 2014 ini meninggalkan semunya hanya karena selembar surat yang ditulis oleh putrinya yang berusia 10 tahun.

Apa yang tertulis dalam surat itu adalah sebuah list yang terdiri dari 22 peristiwa penting dan bersejarah dalam kehidupan putrinya—22 event yang Ia lewatkan karena kesibukannya sebagai profesional. Dalam list tersebut ada hari pertama putrinya sekolah, pertandingan soccer pertamanya, pertemuan orangtua-guru di sekolah, dan parade Halloween. Waktu mendapat surat tersebut, Al Erian merasa amat sangat menyesal karena semua peristiwa penting itu Ia lewatkan karena kesibukannya—rapat, business trip ke luar kota, telephone penting yang harus Ia tangani, banyak agenda dadakan, dsb. Ia sadar bahwa Ia tidak memiliki waktu untuk putri yang sangat disayanginya. Demikianlah selembar surat dari putrinya cukup membuatnya mengambil keputusan penting untuk meninggalkan pekerjaan yang juga dicintainya.

Ia berkata bahwa “kebutuhannya untuk menjadi seorang ayah yang baik jauh lebih besar dari keinginannya untuk menjadi investor yang hebat”. Hari ini Ia bergantian dengan istrinya setiap hari membangunkan anaknya di pagi hari, membuat sarapan, dan mengantarnya ke sekolah. Ia bahkan berencana untuk berlibur hanya berdua dengan putrinya dalam waktu dekat—untuk menebus waktu yang telah banyak Ia lewatkan.

Sadar-tidak-sadar banyak hal yang kita anggap penting dalam kehidupan kita setiap hari membuat kita gagal melakukan yang terpenting untuk kita lakukan. Kesibukan menjadi distraction. Kita mudah kehilangan waktu yang berharga untuk keluarga, untuk berdoa, untuk Tuhan, untuk pelayanan. Bagaimana jika suatu hari Tuhan Yesus datang kepada kita denga sebuah list hal-hal yang telah kita lewatkan tanpa kita sadari selama ini karena kesibukan kita?

Mari datang pada Tuhan Yesus. Mari ambil waktu untuk mengobrol dengan Tuhan lebih pribadi, lebih intens, lebih hangat, lebih intim. Dan lihatlah bagaimana hidup kita akan diubahkan.

[1] Van Morris, Mount Washington, Kentucky; source: “Survey: Christians Worldwide Too Busy For God,” http://www.christianpost.com

[2] http://www.9news.com.au/world/2014/09/25/06/42/high-flying-ceo-quits-after-daughter-sends-him-22-things-he-missed

One Family. One Heart. One End.

[Dikhotbahkan di IEC Singapore – 4 Januari 2015 dengan tema “Bersehati Mantapkan Keluarga”]

Tema khotbah hari ini adalah tema besar gereja kita sepanjang tahun 2015 ini—“Bersehati Mantapkan Keluarga”. Dari judulnya kita menemukan dengan jelas bahwa keluarga lagi-lagi menjadi fokus penting bagi kita. Sepanjang tahun ini kita rindu untuk membangun keluarga yang berkenan dan memuliakan Tuhan. Ini tentu saja berbicara tentang menjadi keluarga yang kuat. Keluarga yang sehat—emosional dan spiritual.

Mengapa ini menjadi isu yang sangat penting?

Karena keluarga adalah fondasi paling dasar dari kehidupan setiap pribadi. Apa yang terjadi dalam keluarga menentukan masa depan setiap pribadi. Seperti apa sebuah keluarga berjalan akan menentukan generasi seperti apa yang dibentuk di masa depan.

Filsuf terkemuka dari daratan Tiongkok, Confusius, sangat memahami akan hal ini. Confusius hidup di masa China kuno pada pemerintahan Dinasty Zhou. Ia adalah seorang tokoh pemerintahan. Pada masa hidupnya, Ia memperhatikan bagaimana bangsanya semakin berantakan dan moralitas menurun drastis. Karena ketidakbenaran dan ketidakadilan yang Ia lihat, Ia mengembangkan sebuah aturan moral baru berdasarkan lima values—kehormatan, kejujuran, pendidikan, kebaikan dan ikatan keluarga yang kuat. Salah satu pengajarannya berkata,

“To put the world in order, we must first put the nation in order; to put the nation in order, we must put the family in order; to put the family in order, we must cultivate our personal life; and to cultivate our personal life, we must first set our hearts right.”

Demikianlah penting bagi kita untuk mengembangkan diri pribadi dan keluarga kita untuk mengubah dunia menjadi dunia yang lebih baik. Adalah penting mengelola dengan baik setiap relasi yang kita miliki. Adalah penting untuk mengelola dengan benar relasi kita dalam keluarga.

Hari ini berangkat dari relasi antara Tuhan dan Abraham, kita akan belajar kebenaran yang penting untuk bersehati memantapkan keluarga kita.

1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. 2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.” (Kej. 17:1-2)

Christian Family is a Covenant Family

Perhatikan bagaimana Tuhan Allah mengelola relasinya dengan Abraham. Jika kita membaca perikop di atas sampai ayat ketujuh, kita akan menemukan setidaknya empat kali kata perjanjian (covenant) digunakan. Tuhan tidak membuat kontrak dengan Abraham. Ia membuat sebuah perjanjian. Perjanjian yang bersifat kekal.

Salah satu masalah terbesar dalam budaya masa kini adalah bahwa terbiasa mengelola relasi kita dengan sistem kontrak. Manusia jaman ini seakan membuat kontrak dalam segala sesuatu yang kita kerjakan dan dalam setiap relasi yang kita miliki. Sementara Tuhan menekankan pentingnya covenant (perjanjian) dalam relasinya dengan kita.

Apakah perbedaan kontrak dan perjanjian (covenant)? Sebuah kontrak berakhir ketika salah satu pihak gagal melaksanakan janjinya. Misalnya, ketika seorang pasien tidak datang pada waktu yang dijanjikan dengan dokternya. Seorang dokter tidak berkewajiban untuk menelpon dan mencari pasien yang tidak datang tersebut. Dokter tidak akan bertanya apa yang terjadi. Ia tidak perlu bertanya sang pasien tidak datang seperti yang dijanjikan. Dokter tersebut tinggal bertemu dengan pasien berikutnya yang sudah menunggu. Sang dokter juga tidak punya kewajiban untuk harus melayani pasien yang telah gagal menepati janji tersebut jika kemudian Ia datang terlambat. Sang pasien tidak dapat menuntut dilayani lebih dulu pada saat terlambat. Mengapa? Karena Ia tidak menepati janjinya.

Sebaliknya, dalam relasinya dengan manusia yang dikasihiNya, Tuhan suatu kali bertanya, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes. 49:15). Alkitab menunjukkan bahwa sebuah covenant relationship lebih menyerupai ikatan orangtua dengan anaknya daripada janji temu dengan dokter. Jika seorang anak tidak hadir di meja makan pada saat makan malam keluarga, kewajiban orangtua untuk mengasihi anaknya tidak menjadi batal. Orangtua akan mencari anaknya dan memastikan bahwa Ia baik-baik saja. Kesalahan satu orang tidak akan merusak relasi atau hubungan tersebut. Mengapa demikian? Karena sebuah covenant tidak bergantung kepada kesetiaan satu pihak. Sebuah covenant adalah sebuah komitmen tanpa syarat untuk mengasihi dan melayani. Sebuah covenant bernilai “apapun yang terjadi” (whatever happens). Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan sebuah kontrak yang selalu diimbuhi kalimat “syarat dan ketentuan berlaku” (terms and conditions apply).

Setelah kita memahami hal ini, sekarang sepatutnya kita memahami betapa bersyukurnya kita sebab kita memiliki Allah Perjanjian. A covenant God. Apapun yang terjadi, seberapa pun kita gagal menunjukkan kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan, Ia tidak pernah membatalkan janjiNya pada kita. Kita memiliki yang Tuhan tidak pernah gagal mengasihi kita. Demikianlah Tuhan meneladankan sebuah relasi yang tidak dapat patah. Dengan kasih yang tanpa syarat.

Dalam konteks keluarga, hari ini kita bisa belajar bahwa keluarga Kristen dibangun atas dasar covenant yang Tuhan teladankan. Keluarga yang sehat bukan dibangun atas dasar kontrak yang bergantung kepada syarat tertentu, tetapi atas dasar perjanjian yang tidak bersyarat demi kemuliaan Allah.

Mengapa banyak keluarga hari ini menjadi berantakan? Jawabnya adalah karena sadar-tidak-sadar banyak orang membangun keluarganya berdasarkan syarat tertentu. Syarat dan kondisi berlaku. Aku akan mengasihimu selama Engkau mengasihi aku. Aku akan sabar pada suamiku kalau Ia juga sabar menghadapiku. Aku pasti akan setia jika pasanganku setia. Kenapa kamu marah aku datang terlambat, padahal kamu lebih sering terlambat kalau janjian. Tidakkah itu yang seringkali kita dengar dan katakan? Jika kita membangun keluarga kita seperti ini, cepat atau lambat, kita akan menumpuk masalah yang akan merusak keluarga kita dengan cepat.

Itulah sebabnya Tuhan mengajarkan kepada kita tentang covenant relationship. Tuhan bahkan meneladankannya kepada kita. Fakta bahwa Ia masih mengasihi kita sampai hari ini lepas dari segala dosa dan kelalaian kita menunjukkan bukti bagaimana Tuhan menghidupi covenant-nya kepada kita.

Every family needs to live its covenant relationship—as God intended.

Kepada banyak pasangan yang menikah, saya seringkali mengingatkan bahwa setelah mereka berjanji di hadapan Tuhan untuk saling mengasihi sampai selamanya, maka apapun yang terjadi mereka tidak lagi dapat terpisahkan. Apapun yang terjadi. Saya seringkali mengingatkan bahwa akan ada waktunya sesekali suami/istri kita akan menunjukkan kualitas atau perbuatan yang mengecewakan kita, tetapi sejak hari setelah kita berjanji di hadapan Tuhan, maka kita tidak lagi mengasihi suami/istri kita karena sekadar karena kualitas pribadi yang mereka tunjukkan kepada kita, tetapi karena kita mengasihi Tuhan.

Demikian juga dalam relasi orangtua dan anak. Tuhan memberikan perintah “hormatilah ayahmu dan ibumu”—hukum keempat dari sepuluh hukum. Maka, seorang anak harus senantiasa mengasihi dan menghormati orangtuanya sekalipun kadang kita merasa orangtua kita tidak layak dikasihi ataupun dihormati. Mengapa? Karena kita mengasihi Tuhan.

A Christian Family is a Spiritual Family

3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa …supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. [Kej. 17:3-7]

Abraham menerima janji Tuhan. Ia akan menjadi Bapa bangsa-bangsa. Bukan sekadar bapa bagi bangsanya, keturunan darahnya, tetapi Ia akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Tuhan memberikan status baru bagi Abram. Memberikan nama baru Abraham sebagai ganti Abram. Menunjukkan perubahan yang signifikan dalam kehidupan Abraham dan juga menyangkut keturunannya. Bahwa relasinya dengan Tuhan akan menjadi relasi yang juga mengikat seluruh keturunannya. Berkat Tuhan atas Abraham menjadi berkat bagi seluruh keturunannya—yaitu untuk menjadi bangsa yang besar. Ini berbicara tentang kuasa. Tentang pengaruh. Tentang potensi yang Tuhan berikan bagi Abraham untuk membangun generasi demi generasi yang luar biasa bagi Tuhan. Tidakkah ini sangat luar biasa?

Jika anda pikir ini luar biasa besar, tunggu sampai anda memperhatikan Galatia 3:29,

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. [Gal. 3:29]

Ya, firman Tuhan mengatakan bahwa siapapun yang percaya kepada Kristus adalah keturunan Abraham—dan dengan demikian, menerima janji berkat yang sama. Ini berarti saudara dan saya, setiap mereka yang percaya kepada Kristus, menerima berkat yang sama untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Sekali lagi—ini berbicara tentang kuasa. Tentang pengaruh. Tentang potensi yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita untuk membangun generasi demi generasi yang mampu mengubah dunia. Mengubah bangsa-bangsa untuk datang kepada Tuhan.

Setiap orang yang mengaku percaya, setiap pengikut Kristus, setiap keluarga Kristen di muka bumi, adalah sebuah keluarga rohani yang tidak terpisahkan. Keluarga spiritual yang terhubung oleh berkat Abraham. Keluarga rohani yang dipersatukan oleh satu tujuan—membangun generasi yang memuliakan nama Tuhan.

A christian family is a spiritual family. All of us are Abraham’s descendants.

Inilah identitas rohani yang penting untuk kita pahami. Menolong kita mengerti bahwa kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Kita tidak sepatutnya hidup hanya untuk agenda kita sendiri. Sebagai keluarga, kita senantiasa harus berjuang untuk membangun generasi baru yang bertanggungjawab di hadapan Tuhan.

Dalam spirit untuk bersehati memantapkan keluarga kita, biarlah kita mengingat “one family, one heart, one end.”

ONE FAMILY. ONE HEART. ONE END.

One Family

Kita adalah satu keluarga. Terikat oleh kasih Kristus.

One Heart

Kita adalah satu keluarga yang sehati. Kita tidak hidup untuk agenda kita sendiri-sendiri. No personal agenda. Hidup dengan nilai yang sama.

One’s growth is everyone success. Pertumbuhan satu orang adalah sukses semua orang. One’s success is everyone happiness. Kesuksesan seseorang, kebahagiaan semua orang. One’s wound is everybody’s pain. Luka satu orang adalah rasa sakit semua orang.

Kita membangun satu sama lain. Tidak seorangpun memikirkan diri sendiri.

One End

Kita adalah satu keluarga yang sehati untuk menggapai satu tujuan Tuhan. Membangun keluarga yang sehat untuk membangun generasi baru yang menjadi terang di tengah dunia. Amin.

Lean On: New Year Reflection

[Materi khotbah Ibadah Tahun Baru IEC Singapore – 1 Januari 2015]

Sebuah artikel dalam New York magazine menjelaskan bahwa self-help movement telah menjadi sebuah industri senilai sebelas miliar juta dolar yang didedikasikan pada usaha untuk mengajarkan kepada semua orang tentang bagaimana mengembangkan kehidupan kita.[1] Artikel tersebut mengemukakan bahwa hari ini ada sedikitnya 45,000 judul buku self-help atau self-improvement (pengembangan diri) yang dicetak. Saat ini setiap sudut toko buku ataupun toko buku online dipenuhi buku-buku yang berisi instruksi bagaimana menjadi diri kita yang lebih baik.

Hari ini dengan membaca kita nampaknya bisa menjadi dokter untuk diri kita sendiri. Bisa belajar memasak. Bisa belajar berkhotbah. Bisa menjadi orangtua yang lebih baik. Bisa belajar mengendalikan emosi. Bisa belajar sulap. Apa saja. Perhatikan saja judul-judul publikasi yang laris manis di pasaran saat ini tidak jauh dari beberapa judul seperti berikut: [1] How to Make People Like You in 90 Seconds or less. [2] 59 Seconds: Change Your Life Under a Minute. [3] Four Hour Chef. [4] 1001 Cara Mencari Cinta. [5] Menjadi Jutawan Internet Sebelum Usia 25.

Semua publikasi self-help semacam ini sesungguhnya berkaitan erat dengan pengaruh New Age Movement yang menekankan bahwa kita adalah tuhan bagi diri kita sendiri. Hidup masing-masing orang tidak bergantung pada yang lain, tetapi pada diri sendiri. Tentu saja ini sebuah pemahaman yang fatal karena mengabaikan eksistensi Tuhan. Ironisnya, doktrin ini mempengaruhi pemikiran banyak orang kristen jaman ini. Saat ini banyak orang berpikir bahwa kita bisa menolong diri sendiri dengan usaha sendiri. Hari ini Firman Tuhan mengingatkan bahwa segala bentuk usaha manusia untuk menolong diri sendiri adalah sia-sia—bahkan membawa petaka.

5 Beginilah firman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! 6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. [Yer. 17:5-8]

Firman Tuhan berbicara tentang kutuk dan berkat. Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan, sebaliknya, terberkatilah mereka yang mengandalkan Tuhan. Mereka yang mengandalkan manusia seumpama semak di padang belantara yang tidak akan mengalami kebaikan. Seperti semak di padang yang tidak berpenduduk, ada tetapi tidak berguna. Hidup tetapi tanpa makna. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan Tuhan akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Tidak terpapar panas terik. Daunnya senantiasa hijau. Tidak kuatir kekeringan. Selalu berbuah. Selalu berhasil. Sebuah analogi yang indah yang menggambarkan pentingnya kehidupan yang selalu bersandar pada Tuhan. Tanpa Tuhan sia-sialah segala yang kita lakukan.

Salah satu bukti nyata dari betapa sia-sianya hidup tanpa Tuhan terjadi pada masa tahun baru seperti hari ini. Kata apa yang paling sering dikaitkan dengan tahun baru? Ya, resolusi.

Resolusi—adalah sebuah kata jamak muncul setiap masa awal tahun seperti ini. Saat dimana banyak membuat sebuah komitmen baru untuk menjadi diri yang lebih baik di tahun yang baru. Tentu saja ini adalah sebuah tradiri yang baik untuk dilakukan. Beberapa orang senang membuat daftar yang cukup panjang untuk resolusi tahun barunya. Sementara, beberapa lebih senang mengisi listnya dengan pendek. Tetapi pertanyaannya, berapa besar tingkat kesuksesan resolusi tahun 2014 setelah 31 Desember berlalu?

Sebuah studi pada tahun 2007 yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol dengan melibatkan 3.000 responden menunjukkan bahwa 88% dari mereka yang memiliki resolusi tahun baru gagal mewujudkannya, meskipun 52% dari responden yakin pada awalnya bahwa mereka akan berhasil mewujudkannya. 22% pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat mereka menenetapkan target (misalnya bertekad menurunkan berat badan satu pon dalam seminggu, bukannya hanya “menurunkan berat badan” saja), sedangkan 10% wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Sekarang, berapa banyak di antara kita yang bisa dengan mantap berkata bahwa saya berhasil 100% mencapai resolusi saya tahun 2014 lalu? Ya, tidak banyak bukan?

Resolusi yang gagal tercapai hanyalah sebuah bukti akan fakta kelemahan diri kita manusia. Bukan lagi hal yang memalukan. Semua orang punya pergumulan yang sama. Sebuah bukti betapa kita tidak dapat mengandalkan diri kita sendiri.

Hal ini juga menjadi sebuah ingatan penting akan fakta betapa kita membutuhkan seorang penolong yang sempurna untuk menopang kehidupan kita yang lemah. Itulah alasan kita membutuhkan Tuhan. Di awal tahun ini, dua hal terpenting yang harus kita sadari adalah mengenai pentingnya mengakui kelemahan kita dan belajar mengandalkan Tuhan.

Mengakui Kelemahan Kita

Arnol Schwarzenegger and Denial. Pada April 2011, majalah Newsweek menulis sebuah artikel tentang Arnold Schwarzenegger, seorang bintang film Hollywood yang kemudian menjadi gubernur California. Dituliskan di sana bagaimana Arnold pada usia 63 tahun menjadi sebuah ikon yang menggambarkan bentrokan hebat antara kelemahan manusia dan potensi yang mengagumkan. Ia seorang pribadi yang potensial, tetapi terbatas karena kelemahannya sebagai manusia.

Arnold memiliki kehidupan yang bisa dibilang gemilang. Prestasinya termasuk lima kali juara Mr. Universe. Tujuh kali juara Mr. Olympia sebelum akhirnya mendapat peran sebagai Conan the Barbarian yang menampilkan bentuk tubuhnya yang sangat memukau. [Tapi, sangat mengerikan bagi beberapa orang]. Lalu, Ia menjadi “The Terminator” yang tiada duanya sampai akhirnya menjadi gubernur.

Lepas dari semua prestasi dan kehebatannya, Arnold sesungguhnya memiliki sebuah kelainan pada katup jantungnya. Pada usia 50, Ia dioperasi untuk mengganti katup jantungnya yang bermasalah. Tetapi selang beberapa tahun kemudian, Ia harus dioperasi kembali untuk penggantian alat baru. Mengingat saat itulah, Arnold berkata, “…even though you are strong willed, you know from now on you’re damaged goods. As with most things, I live in denial.” “Sekalipun anda memiliki tekad baja, sekarang anda tahu bahwa sejak sekarang anda adalah barang rusak. Sekalipun demikian, seperti kebanyakan hal, saya hidup dalam pengingkaran.”

Ya, seperti kebanyakan orang, kita seringkali hidup dalam pengingkaran. Dokter berkata sebaiknya kita menjaga pola makan kita, kita pikir selama masih bisa makan, mau makan apa ya makan saja. Seorang rekan berkata sebaiknya kamu dua-tiga kali sebelum invest disana, kita berpikir no problem kok. Kita berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan, tetapi hidup seakan Tuhan tidak ada. Kita berkata saya percaya akan surga, tetapi kita lebih suka berlama-lama di dunia. Banyak kesempatan kita diingatkan untuk percaya kepada Tuhan, kita masih berpikir aku bisa hidup tanpa Tuhan.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Kita sedang (seringkali) mengingkari kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita. Dan ini tidak menolong kita untuk menikmati kehidupan yang lebih baik. Seumpama semak di padang belantara yang tidak akan mengalami kebaikan. Seperti semak di padang yang tidak berpenduduk, ada tetapi tidak berguna. Hidup tetapi tanpa makna.

Belajar Mengandalkan Tuhan

Sadar tidak sadar, kita dan seisi dunia hidup dengan mengandalkan kepercayaan setiap saat. Dunia hidup mengandalkan imannya. Seperti hari ini, saya tidak melihat seorang pun di antara anda yang masuk ke ruangan ibadah ini dan memeriksa kursi yang ada sebelum anda duduk. Semua orang langsung duduk saja karena percaya kepada kursi tersebut—berasumsi bahwa kursi itu cukup kuat untuk menopang anda. Kebanyakan berangkat dari rumah ke tempat itu dengan mobil, train atau bus, tetapi kita tidak tanya dulu siapa yang mengendarai bukan? Kita tidak periksa relnya aman atau tidak. Kita tidak memeriksa dulu apakah semua kabel kendaraan tersebut berada pada tempatnya. Kita tidak perlu bagaimana setiap sparepart kendaraan tersebut bekerja. Kita beriman. Kita percaya saja.

Terakhir anda ke dokter, Ia menuliskan selembar resep yang tidak dapat anda baca. Kita bahkan seringkali tidak yakin ada yang akan bisa membawanya. Tetapi, kita bawa ke apotik dan memberikannya kepada pharmacist. Kita tidak tahu apa yang Ia lakukan. Kita juga tidak berapa nilainya waktu sekolah farmasi. Kita tidak tahu apakah Ia suka bolos atau ketiduran waktu sekolah. Tetapi, ketika Ia memberikan obat-obatan itu kepada dan berkata, “Minum tiga kali sehari”, by faith kita akan melakukan persis seperti apa yang Ia katakan. Dunia, kita, hidup dengan percaya.

Tragedi AirAsia QZ8501. 162 orang bangun awal dari istirahat mereka tanggal 28 Desember lalu untuk mengejar penerbangan pagi dari Surabaya ke Singapore yang dijadwalkan. Sementara sebagian traveling untuk urusan bisnis dan pekerjaan, beberapa keluarga bepergian bersama dengan penuh antusias untuk liburan. Semuanya berjalan seperti biasa pagi itu. Tidak seorang pun tahu apa yang akan mereka hadapi dalam perjalanan.

Tiga keluarga jemaat sebuah gereja termasuk dalam daftar penumpang. Mereka bepergian lengkap ke Singapore untuk berlibur. Menikmati tahun baru di negeri singa. Kita bisa membayangkan tawa dan canda mereka sejak bangun pagi hari itu. Mereka masuk ke kabin pesawat dengan iman bahwa pesawat itu akan mengantarkan mereka dengan aman ke Singapore. Sekalipun mereka tidak kenal pilotnya, mereka memiliki iman kepada pilot tersebut. Sekalipun mereka tidak tahu cara menerbangkan pesawat tersebut, mereka percaya sang pilot akan dapat melakukannya. Mereka tidak tahu cuaca seperti apa yang akan mereka hadapi, tetapi mereka percaya bahwa perjalanan tersebut akan lancar. Sekalipun mereka tidak mengerti bagaimana kendaraan berbobot ratusan ton tersebut dapat melayang di udara, mereka percaya kepada pesawat tersebut. Dan pesawat Airasia QZ8501 itu take-off seperti yang dijadwalkan, tetapi tidak landing seperti yang semua orang harapkan. Setelah hilang selama tiga hari, pesawat tersebut ditemukan hanya dalam kepingan dan serpihan di laut.

Dalam menghadapi bencana dan masalah dalam kehidupan ternyata siapa pun, apapun tidak dapat diandalkan. Pilot yang berpengalaman juga bisa dalam posisi tidak mampu melakukan apapun untuk menghentikan sebuah pesawat yang bermasalah di udara. Pesawat yang relatif masih baru tidak dapat memastikan perjalanan yang aman. Teknologi penerbangan termutakhir pun tidak pernah akan bisa memberikan jaminan zero accident selama masih dibuat oleh manusia. Sesungguhnya apakah ada yang memberi kepada kita jaminan keselamatan 100% selama kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan dosa dan kerapuhan ini? Tidak ada!

Oleh sebab itulah firman Tuhan mengingatkan, terkutuklah mereka yang mengandalkan manusia, celakalah mereka yang bersandar pada dirinya sendiri, yang hatinya jauh dari Tuhan! Adalah penting untuk selalu senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita setiap hari. Tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Bersama Tuhan, semua akan baik-baik saja.

 Seperti yang tadi saya katakan, tiga keluarga jemaat sebuah gereja di Surabaya turut menjadi korban dalam tragedi Airasia hari Minggu lalu. Banyak orang berkata betapa menyedihkan dan tragisnya akhir hidup mereka. Sangat kasihan. Tetapi, istri saya berkata bahwa mungkin sekali mereka tiga keluarga justru sangat bahagia saat ini—karena mereka bisa pergi ke surga bersama-sama dengan orang-orang yang paling mereka sayangi. Mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus bersama sebagai satu keluarga. Karena seberapapun mengerikan akhir hidup mereka di dunia, semuanya menjadi tidak berarti ketika mereka bersama dengan Tuhan Yesus di surga. Tidakkah itu sangat indah?

Di akhir hari itu, bukan percaya mereka pilot ataupun pesawat yang canggih yang terpenting, tetapi iman percaya mereka kepada Tuhanlah yang membuat perbedaan. Amin.

[1] Boris Kachka, “The Power of Positive Publishing: How Self-Help Ate America,” New York magazine (1-6-13); as quoted from preachingtoday.com