Top Priority

Christians Too Busy for God.[1] Sebuah data yang dikumpulkan oleh Charleston Southern University School of Business dari lebih dari duapuluh ribu orang Kristen dari 139 negara yang berusia antara 15-88 tahun menemukan bahwa rata-rata empat dari sepuluh orang Kristen di seluruh dunia berkata bahwa mereka “seringkali” atau “selalu” terburu-buru dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Survey yang memang dilakukan untuk menemukan apa yang menjadi penghambat pertumbuhan rohani ini menemukan bahwa enam dari sepuluh orang Kristen berkata bahwa adalah “seringkali” atau “selalu” benar bahwa “kesibukan hidup menjadi penghalang dalam hubungan kita dengan Tuhan”. Orang Kristen menjadi terlalu sibuk untuk Tuhan. Ini menjadi sebuah fakta yang tidak bisa disangkal kebenarannya.

Yang lebih menarik sekaligus ironis ditemukan dari survey ini adalah bahwa berdasarkan profesi, pendeta (pastor) adalah kelompok profesi yang karena kesibukannya paling terpengaruh dalam hubungannya dengan Tuhan. Sederhananya, profesi yang paling kurang dalam berdoa akibat kesibukan pekerjaannya justru adalah orang yang dianggap seharusnya paling banyak berdoa. Pendeta paling kurang proposional kehidupan doanya karena terlalu sibuk.

Kesibukan adalah penghalang terbesar bagi relasi kita dengan Tuhan

Busy is one demon of our culture. Kesibukan adalah sesosok iblis dalam kebudayaan kita. “Halo, bagaimana kabar anda hari ini?” “Sibuk”. “Bagaimana weekend kamu?” “How was your weekend?” “Busy.” “Apakah anda mau terlibat dalam pelayanan?” “Tidak. Saya sedang sibuk!” Itu jawaban klasik yang sering kita dengar di jaman ini.

Seorang anak muda suatu kali mengirimkan short message kepada pendetanya menunjukkan akronim dari “busy” (sibuk). Busy—Being Under Satan’s Yoke.

Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat. 11:28)

Jika Tuhan Yesus mengundang kita untuk menikmati kelegaan, mengapa kita masih begitu dikuasai oleh kesibukan kita? Kebanyakan kita terlalu sibuk untuk menjaga kesehatan rohani kita. Kita berlomba dengan putaran roda yang sangat kencang sepanjang hari, berusaha menyelesaikan segala sesuatu yang kita anggap penting. Itu sebabnya kebanyakan orang Kristen sering merasa burn out. Keletihan. Masalah yang sama juga terjadi dalam kehidupan para hamba Tuhan.

Bill Hybels, gembala sidang Willow Creek Community Church, suatu hari berkata, “I was so busy doing the Lord’s work, that I was destroying the Lord’s work in me.” (Saya begitu sibuk melakukan pekerjaan Tuhan sampai saya menghancurkan pekerjaan Tuhan di dalam hidup saya). Saya sendiri—seperti banyak hamba Tuhan—harus malu mengaku bahwa itulah juga yang kadang saya rasakan.

Di jaman ini, kita punya kecenderungan buruk untuk mengisi sedikit-banyak waktu lowong kita punya untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang kita anggap penting untuk dibereskan. Kita tidak punya waktu untuk Tuhan di tengah kesibukan kita. Jika demikian, kapan kita memohon Tuhan memimpin, mengkoreksi, dan meneguhkan kehidupan kita? Jika ini sangat jarang terjadi, bagaimana kita merefleksikan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari? Mustahil. Demikianlah kesibukan menjadi alat iblis yang paling efektif untuk menjauhkan kita dari Tuhan.

Dalam sebuah konferensi beberapa tahun lalu, Bill Hybels berbicara tentang Authentic Christianity (Kekristenan yang Sejati). Dia berkata bahwa:

Authentic Christianity is not learning a new set of rules or doctrines, or simply helping those who are less fortunate. Primarily, it is a supernatural walk with a loving God. Authentic Christianity is a living relationship between a God who cares, and his children who know they matter to him.

Kristen sejati bukanlah soal belajar mengenai seperangkat aturan atau doktrin tertentu, atau (bukan juga) soal menolong mereka yang kurang beruntung. Utamanya, ini adalah sebuah perjalanan supranatural dengan Allah yang hidup. Kristen sejati adalah sebuah sebuah relasi yang hidup antara Tuhan yang peduli dan anak-anakNya yang tahu bahwa mereka berarti di hadapan Tuhan.

Kristen sejati memiliki passion kepada Tuhan Yesus yang senang hidup dalam usaha untuk menjadi serupa Kristus. Adalah menyedihkan memahami fakta bahwa saya, anda, dan banyak orang kristen lainnya terlalu sibuk dengan aktifitas kita sehingga kita tidak lagi merasa ini yang terpenting dalam hidup kita.

Kesibukan adalah musuh terbesar bagi pertumbuhan rohani dan keintiman

The key factor in any relationship is time. Faktor kunci dalam semua relasi adalah waktu. Bukan waktu lebih atau waktu sisa, tetapi waktu yang berkualitas. Quality time. Ingatkah waktu kita pertama kali jatuh cinta? Menghabiskan waktu dengan “si Dia” menjadi top priority—dan itu mudah dilakukan. Mengapa? Karena “si Dia” menjadi seseorang yang paling penting sejagad dunia akhirat dalam kehidupan kita. Demikianlah kasih Tuhan sepanjang masa bagi kita. Demikianlah kasih yang Tuhan harapkan dari kita.

Tetapi menyedihkan, alih-alih seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia bersama, hubungan kebanyakan orang dengan Tuhan lebih seperti sebuah pernikahan yang membosankan. Seperti sepasang suami istri yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga sekalipun tinggal bersama, makan semeja, dan tidur seranjang tetapi “sangat jauh”. Masing-masing lebih memikirkan hal lain daripada pasangannya.

Demikian juga orang percaya yang setiap minggu datang ke gereja. Banyak orang yang menyebut dirinya mengasihi Tuhan, tetapi lebih tertarik kepada hal-hal lain diluar gereja daripada menyibukkan diri membangun hubungan yang hangat dan intim dengan Tuhan.

Tuhan Yesus sendiri menggambarkan hal ini dengan perumpamaan tentang benih yang jatuh di tempat yang berbeda. Benih yang jatuh disemak berduri menggambarkan mereka yang mendengar firman Tuhan di gereja, tetapi ketika mereka keluar dari gereja, mereka dikuasai oleh kekuatiran, harta kekayaan, kesenangan duniawi sehingga benih itu gagal bertumbuh.

Hubungan kita dengan Tuhan menjadi dingin. Kita berdoa, tetapi seakan berbicara kepada tembok. Sia-sia. Hampa. Ibadah di gereja menjadi rutinitas. Membaca Alkitab menjadi sebuah keterpaksaan—sekadar tambahan aktifitas dalam agenda yang sudah padat setiap hari. Hati pelayanan semakin pudar. Perlahan kita sendiri lupa mengapa kita datang ke gereja setiap minggu karena menjadi habit semata. Jika ini apa yang sedang anda rasakan, ketahuilah itu sebuah tanda awas yang patut kita perhatikan—sebelum kita kehilangan arti hidup kita. Tenggelam dalam kesibukan tanpa arti.

Apa yang kita teladani dari Tuhan Yesus?

35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. [Mrk. 1:35 ]

45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. [6:45-46]

Slowing Down to Pray

Kita perlu memperlambat kecepatan hidup kita untuk berdoa. Kita perlu berhenti untuk berdoa. Yohanes 21:25 menggambarkan bagaimana Tuhan Yesus melakukan begitu banyak hal selama kehidupannya—begitu banyak sehingga jika semua harus dituliskan, maka tidak akan cukup buku untuk memuat semua kisah yang perlu dituliskan pada masa itu. Tetapi, kita tidak pernah mendengar bahwa Tuhan melakukan semuanya dengan tergesa-gesa ataupun kerepotan karenanya.

Jangan salah paham. Tuhan Yesus sangat mengerti apa artinya sibuk—dalam beberapa kesempatan kita tahu bahwa Ia dan murid-muridNya tidak sempat untuk makan (Mrk. 3:30; 6:31). Kemanapun Ia pergi, dimana pun Ia berada, selalu ada orang yang membutuhkan dan selalu ada pekerjaan untuk dilakukan. Tetapi, Yesus seringkali mengambil waktu untuk menarik diri dari keramaian dan pekerjaannya yang ilahi untuk berdiam diri dan berdoa.

Yesus terlalu sibuk untuk tidak berdoa. He’s too busy not to pray. Hubungannya dengan Bapa di Surga menjadi vital untuk senantiasa tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Bagi Tuhan Yesus, being comes before doing. Being with the Father is much more important than doing something for Him. Kekuatan hadir dari waktu yang dinikmati bersama Tuhan. Dalam doa dan diam mendengar suara Tuhan kita mengalami pemulihan dan kesegaran.

38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. [Lukas 10:38-40a]

Maria dan Marta adalah kakak beradik yang sama sekali berbeda dalam cara mereka menggunakan waktu mereka. Marta selalu berpikir dia tidak punya cukup banyak waktu untuk melakukan banyak hal, sementara Maria mengambil kesempatan terbaik untuk duduk dekat dan mengalami kehadiran Tuhan Yesus. Untuk itulah Maria mendapatkan pujian dan berkatNya.

Menarik diperhatikan bahwa baik Maria dan Marta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengalami Tuhan secara pribadi. Tuhan hadir dalam rumah mereka. Apa yang anda lakukan kalau tahu sebentar lagi Tuhan akan datang ke rumah anda? Maria tentu punya banyak aktifitas rumah harian yang harus Ia lakukan, mungkin ada baju kotor yang belum dicuci, piring bekas makan yang belum dirapikan, mungkin ada beberapa belanjaan yang harus dibeli, dsb. Atau mungkin Ia bisa saja menyapu, mengepel dan rapi-rapi. Tetapi, Maria memutuskan untuk menangkap moment itu untuk Ia nikmati bersama dengan orang yang penting dan sangat disayanginya, Tuhan Yesus.

Maria berkata, “Saat ini, ketika aku memiliki kesempatan ini untuk dekat dengan Tuhan, aku tidak akan menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Aku akan menangkap kesempatan ini untuk menikmati waktuku dengan Tuhan selagi aku bisa.” Ia mengambil pilihan yang bijaksana. Ia tahu tidak selalu Tuhan akan ada di sana. Ia tahu tidak selamanya orang yang dikasihinya akan selalu sempat mampir datang ke rumahnya. Ia tahu tidak banyak waktu Ia bisa mendengar suara Tuhan Yesus. Ini kesempatan yang tidak akan kembali lagi. Maria bukan bermalas-malasan, Ia hanya memilih untuk fokus pada apa yang terpenting.

CEO Quits After Missing Daughter’s Milestones.[2] Seorang ayah yang dianggap high-profile dalam karir dan pencapaian profesional baru-baru ini mengundurkan dari posisinya sebagai CEO PIMCO, sebuah perusahaan management investasi besar di dunia, yang berkantor pusat di Newport Beach, California. Mohammed Al Erian, seorang pribadi sukses yang memimpin perusahaan investasi yang menangani dana tidak kurang dari dua milyar dolar, pada awal Januari 2014 ini meninggalkan semunya hanya karena selembar surat yang ditulis oleh putrinya yang berusia 10 tahun.

Apa yang tertulis dalam surat itu adalah sebuah list yang terdiri dari 22 peristiwa penting dan bersejarah dalam kehidupan putrinya—22 event yang Ia lewatkan karena kesibukannya sebagai profesional. Dalam list tersebut ada hari pertama putrinya sekolah, pertandingan soccer pertamanya, pertemuan orangtua-guru di sekolah, dan parade Halloween. Waktu mendapat surat tersebut, Al Erian merasa amat sangat menyesal karena semua peristiwa penting itu Ia lewatkan karena kesibukannya—rapat, business trip ke luar kota, telephone penting yang harus Ia tangani, banyak agenda dadakan, dsb. Ia sadar bahwa Ia tidak memiliki waktu untuk putri yang sangat disayanginya. Demikianlah selembar surat dari putrinya cukup membuatnya mengambil keputusan penting untuk meninggalkan pekerjaan yang juga dicintainya.

Ia berkata bahwa “kebutuhannya untuk menjadi seorang ayah yang baik jauh lebih besar dari keinginannya untuk menjadi investor yang hebat”. Hari ini Ia bergantian dengan istrinya setiap hari membangunkan anaknya di pagi hari, membuat sarapan, dan mengantarnya ke sekolah. Ia bahkan berencana untuk berlibur hanya berdua dengan putrinya dalam waktu dekat—untuk menebus waktu yang telah banyak Ia lewatkan.

Sadar-tidak-sadar banyak hal yang kita anggap penting dalam kehidupan kita setiap hari membuat kita gagal melakukan yang terpenting untuk kita lakukan. Kesibukan menjadi distraction. Kita mudah kehilangan waktu yang berharga untuk keluarga, untuk berdoa, untuk Tuhan, untuk pelayanan. Bagaimana jika suatu hari Tuhan Yesus datang kepada kita denga sebuah list hal-hal yang telah kita lewatkan tanpa kita sadari selama ini karena kesibukan kita?

Mari datang pada Tuhan Yesus. Mari ambil waktu untuk mengobrol dengan Tuhan lebih pribadi, lebih intens, lebih hangat, lebih intim. Dan lihatlah bagaimana hidup kita akan diubahkan.

[1] Van Morris, Mount Washington, Kentucky; source: “Survey: Christians Worldwide Too Busy For God,” http://www.christianpost.com

[2] http://www.9news.com.au/world/2014/09/25/06/42/high-flying-ceo-quits-after-daughter-sends-him-22-things-he-missed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s