Beautifully Imperfect

Videoclip. “Funeral” (Source: thinkfamily.sg’s Youtube Channel)

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak ada keluarga sempurna yang hidup di tengah dunia yang tidak ideal ini. Kita tahu. Kita semua mengalaminya. Suami istri yang tidak tinggal serumah. Suami yang cuek. Istri dan atau mama yang bawel. Orangtua yang terlalu mengatur. Saudara yang menjengkelkan. Suami istri yang sering bertengkar. Anggota keluarga yang sedang bergumul dengan sakit kronis. Kondisi perekonomian keluarga yang buruk. Relasi yang patah. Kita dengan mudah dapat menemukan bukti betapa tidak ada keluarga yang memiliki 365 hari indah penuh dalam setahun. There’s no such a thing called perfect family. But, its unnecessary means bad. Yang tidak sempurna itu tidak selalu berarti buruk. Seperti seorang istri yang kehilangan suaminya dalam video tersebut—Ia menyebut suaminya yang tidak sempurna itu beautifully imperfect. Ketidaksempurnaan yang indah.

Dalam konteks natal, adalah penting untuk mengingat bahwa apa yang terjadi pada natal pertama jauh dari sempurna. The first christmas was far from perfect. The very family of christmas is also far from ideal.

1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud – 5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. [Lukas 2:1,4-7]

Mari membuat sebuah survey kecil. Siapa yang ingin memulai kehidupan pernikahan, masa bulan sampai momen kelahiran anak pertama anda seperti Yusuf dan Maria—silahkan angkat tangan. Jika ada yang menganggap pengalaman Yusuf dan Maria eksotik dan romantis—silahkan angkat tangan. Saya percaya tidak ada yang menginginkan kehidupan pernikahan yang seperti yang mereka miliki. Tidak ada madu dalam bulan pertama pernikahan. Lebih banyak pil pahit yang harus mereka telan.

Tidak lama bersama, sang istri diketahui hamil tanpa bisa disebutkan siapa yang menghamilinya. Sang suami sudah sempat memikirkan untuk menceraikan istrinya diam-diam. Baru beres masalahnya setelah diintervensi malaikat, tiba-tiba harus berangkat keluar kota dalam keadaan hamil. Sampai waktu melahirkan, mereka harus rela semua prosedur persalinan hanya terjadi di sebuah kandang. Apa boleh buat? Mereka tidak sempat mempersiapkan banyak hal untuk proses persalinan yang jauh dari kota yang mereka kenal. Jauh dari keluarga yang mungkin bisa membantu. Bayi mungil itu berbalut lampin di tengah dinginnya malam. Dibaringkan di palungan. Di antara sisa makanan ternak. Lembab. Bau jerami. Lengkap dengan kotoran ternak yang ada. Jauh dari steril.

Tidakkah ini luar biasa?

Keluarga kecil Yusuf, Maria dan bayi Yesus melewati banyak hal yang sangat tidak mengenakkan di natal pertama. Dan semuanya masih terus berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian—ketika Yesus berangkat semakin besar dan menjadi dewasa. Yusuf hanyalah seorang tukang kayu. Tidak kaya. Keluarga mereka jauh dari kemewahan. Kemudian, Yusuf, sang ayah dan suami kita ketahui mati muda meninggalkan Maria menjadi single parent. Dan Maria, seperti yang dikatakan, kemudian harus rela melihat anak yang dikasihinya ditolak oleh banyak orang—sampai akhirnya, Ia harus menguburkan anakNya sendiri yang mati disalib.

Keluarga ini nampaknya melewati semua pergumulan yang umum dilewati oleh banyak keluarga sampai hari ini. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa keluarga natal pertama ini sempurna. Tetapi, tidak seorang pun juga dapat mengatakan bahwa mereka keluarga kecil yang tidak bahagia. Lepas dari situasi dan kondisi mereka yang tidak sempurna, kita tidak mendengar nada keluhan yang mereka ungkapkan. Dikandang itu kita dapat melihat mereka tersenyum memeluk bayi mungil yang lucu tersebut. Aura kebahagiaan terpancar dari setiap ayat yang Alkitab catatkan mengenai malam itu.

There’s something sparkling comes out of their imperfect situation. Beautifully imperfect.

Pertanyaannya, mengapa berangkat dari semua ketidaksempurnaan malam itu kita dapat mendapatkan pesan yang sangat indah setiap natal dirayakan? Mengapa keluarga yang tidak sempurna dapat menikmati kebersamaan keluarga mereka dengan kehangatan yang bahkan masih dapat kita rasakan hari ini—lebih dari duaribu tahun kemudian?

ADA TUHAN DI TENGAH MEREKA

Yusuf. Maria. Bayi Yesus. Nampaknya mereka bertigalah yang membangun keluarga tersebut. Tetapi, sesungguhnya selalu ada Pribadi keempat yang selalu bersama dengan mereka, yaitu Tuhan.

Tuhan memilih Yusuf dan Maria sebagai figur papa mama duniawi bagi Yesus. Sewaktu Yusuf sempat ingin menceraikan Maria karena kehamilannya, kita tahu bahwa Tuhan juga turun tangan meyakinkan Yusuf untuk bertahan dengan keluarga ini.

Tuhanlah yang membangun keluarga ini. Yang berinisiatif. Yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Yang mempersatukan. Yang selalu terlibat. Yang selalu menopang. Selalu menolong pada waktu dibutuhkan. Dalam keseluruhan kisah tentang Yusuf, Maria dan bayi mereka kita selalu dapat merasakan kehadiran Tuhan di sana. Selalu ada. Mendampingi. Menjaga. Menopang. Dia selalu ada di sana. Bersama dengan mereka. Dan kehadiran Tuhan inilah yang menjadikan segala sesuatunya indah di tengah segala ketidaksempurnaan yang ada. Kehadiran Tuhan membuat perbedaan.

Keluarga kecil dimana kehadiran Tuhan sempurna.

Di tengah semua kondisi yang tidak ideal, mereka memiliki damai sejahtera.

Ilustrasi. Saya mengenal seorang ibu yang mengasihi Tuhan. Sejak muda Ia melayani Tuhan. Terlibat dalam banyak kegiatan. Peduli dengan mereka yang membutuhkan. Seorang ibu sederhana yang sangat menjadi berkat. Tetapi, Ia memiliki pergumulan yang tidak mudah. Ia memiliki seorang suami yang tidak mengenal Tuhan. Bertahun-tahun Ia berdoa agar suaminya dapat percaya, tetapi nampaknya tidak ada titik terang. Suaminya sendiri adalah seorang yang keras. Sering bersikap kasar pada istri dan anak-anaknya. Tidak takut akan apapun. Tidak percaya kepada Tuhan. Tidak mau mendengarkan siapapun.

Sampai suatu hari sang ibu tidak tahan lagi. Setelah sebuah pertengkaran yang hebat, si ibu meninggalkan rumah. Tidak seorang pun dapat meyakinkannya untuk kembali pada suaminya. Sang suami akhirnya meminta bantuan saya sebagai pendeta untuk membantu menengahi masalah ini. Saya pikir, ini sebuah kesempatan baik. Singkat cerita, sang istri akhirnya bersedia kembali ke rumah asal suaminya mau mengikuti konseling bersama. Maka, saya pun berbicara dengan suami istri senior ini selama beberapa tiga pertemuan. Akhirnya, keluarga ini pun rukun kembali. Dan inilah yang menjadi titik tolak bagi sang suami yang tidak percaya Tuhan.

Awalnya sang suami ke gereja hanya karena merasa bersyukur istrinya telah kembali setelah dibantu pihak gereja. Tetapi, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Ia sendiri menerima Tuhan Yesus dan memberi diri dibaptis. Ajaib. Bagi istri dan anak-anaknya ini adalah mujizat. Apa yang terjadi kemudian luar biasa? Sejak bapak ini percaya kepada Tuhan. Situasi dalam rumah menjadi sangat berbeda. Ia menjadi pribadi yang lebih sabar. Emosinya lebih terkendali. Dan anak-anaknya pun menjadi saksi bagaimana kehadiran Tuhan mengubah keluarga mereka.

ADA KOMITMEN KASIH DI ANTARA MEREKA

Komitmen untuk saling membangun. Komitmen untuk saling mengashi. Komitmen untuk menjadi diri yang terbaik bagi keluarga dan Tuhan. Dan komitmen ini membutuhkan pengorbanan.

Yusuf. Pada waktu Maria bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat. 1:18-19). Menunjukkan betapa Ia mengasihi Maria dan senantiasa memikirkan yang terbaik bagi istrinya—bahkan dalam situasi yang tidak nyaman baginya.

Maria. Sebagaimana semua wanita mendambakan pesta pernikahan yang indah dan semua yang terbaik dari suami dan anak-anaknya, Maria tentu juga memiliki impian yang sama. Tetapi, kita tahu bahwa bahwa Maria nampaknya harus puas dengan keadaannya dengan Yusuf dan bayi Yesus. Proses pertunangan dan pernikahan yang hampir tidak jelas perkembangannya. Anak pertama yang harus dilahirkan di kandang domba. Bagaimanapun, kita juga tahu bahwa Maria tidak sekalipun mengeluh untuk keadaan tersebut.

Komitmen berarti “apapun yang terjadi”. Apapun yang terjadi kita akan selalu saling mengasihi. Saling membangun. Saling menguatkan. Menjadi diri kita yang terbaik bagi keluarga. Komitmen seperti inilah yang menjadikan sebuah keluarga menjadi indah—bahkan dalam situasi yang tidak sempurna.

ADA VISI TUHAN DI DEPAN MEREKA

Yusuf dan Maria menikah dalam pimpinan Tuhan. Sejak awal kehadiran bayi Yesus dalam kandungan Maria, mereka telah jelas bahwa ada sebuah masa depan yang harus wujudkan bagi Tuhan. Mereka menikah untuk tujuan tersebut.

Yusuf, Maria dan Yesus melewati tahun-tahun kehidupan dengan bayangan akan visi yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Sebuah dunia yang baru akan dibukakan. Sebuah era yang baru akan dimulai. Generasi demi generasi akan berkembang di masa depan—dan mereka memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan seperti yang Tuhan rancangkan. Segala sesuatu yang mereka lakukan mempengaruhi masa depan dunia. Masa depan semua orang.

Problem banyak keluarga hari ini adalah bahwa kita menjadi keluarga yang asal jalan. Tanpa tujuan. Tanpa visi. Amsal 29:18 berkata bahwa,”Bila tidak visi menjadi liarlah rakyat.” Hal yang sama berlaku untuk keluarga—bila tanpa visi berantakanlah sebuah keluarga. Keluarga tanpa visi adalah keluarga yang berjalan tanpa arah. Masing-masing anggota keluarga akan hidup untuk keinginan dan mimpinya sendiri.

Adalah penting untuk memastikan visi Tuhan menjadi visi dalam keluarga yang kita miliki. Bahwa kita adalah keluarga yang hidup untuk memuliakan Tuhan. Bahwa kita adalah keluarga yang akan membangun generasi baru untuk mengubah dunia di masa depan. Keluarga yang mewariskan iman dan keteladanan yang indah bagi anak dan cucu di masa depan.

Videoclip. “Filial Piety” (Source: thinkfamily.sg’s Youtube Channel)

Tidak ada keluarga yang sempurna. Tetapi, itu tidak harus berarti buruk. Jika kita memastikan Tuhan hadir dalam keluarga kita. Jika kita memastikan bahwa setiap pribadi anggota keluarga berkomitmen untuk saling mengasihi. Jika kita hidup dengan fokus pada visi dan kehendak Tuhan. Maka, kita tetap akan dapat mengalami kehangatan keluarga bahkan dalam ketidaksempurnaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s