The Only One

Hampir seluruh dunia bergempita merayakan natal secara luar biasa setiap tahun. Namun, sedikit sekali perjumpaan dengan Tuhan Yesus di sana. Tidak heran jika kemudian setelah natal berlalu yang tersisa hanyalah kelelahan. Beban baru yang harus dilakukan. Tidak heran jika natal tidak banyak lagi meninggalkan jejak rohani bagi masing-masing kita. Tidak heran jika natal tidak lagi membawa perubahan. Sebab Injil, kabar baik, keselamatan yang bayi Yesus bawa, itu tidak lagi menjadi pesan satu-satunya dan terpenting dalam natal yang kita lewati.

Ilustrasi. Bertahun-tahun lalu ada seorang pria yang sangat kaya, yang bersama dengan anaknya, berbagi passion koleksi benda-benda seni. Bersama mereka berkeliling dunia hanya untuk menambah harta seni terbaik sebagai koleksi mereka. Seni tidak ternilai karya Picasso, Van Gogh, Monet, dan banyak lain menghiasi dinding properti keluarga tersebut. Sang ayah yang sudah menduda sangat puas sementara anaknya semakin ahli dalam kolektor benda seni. Tetapi, suatu hari peperangan menimpa negeri mereka, dan anak muda tersebut pun pergi untuk berjuang bagi negerinya. Hanya berselang beberapa minggu, sang ayah pun menerima telegram yang mengabarkan bahwa putranya telah gugur sementara Ia membawa seorang teman untuk mendapat pertolongan medis.

Suatu pagi di hari natal, sebuah ketukan terdengar dari pintu rumah seorang pria yang sudah lanjut usia. Ketika Ia membuka pintu rumahnya, Ia disambut oleh seorang prajurit dengan sebuah bungkusan besar di tangannya. Ia memperkenalkan dirinya kepada pria tua tersebut dan berkata, “Saya adalah seorang teman dari putra anda. Saya adalah orang menolong dia ketika Ia meninggal dunia. Apakah saya boleh masuk sebentara? Saya memiliki sesuatu yang ingin saya tunjukkan pada Anda.”

Setelah Ia masuk ke dalam rumah itu, sang prajurit berkata, “Saya adalah seorang artist (pelukis). Dan saya ingin memberikan ini kepada anda.” Ketika pria tua itu membuka bungkusan yang diberikan, Ia menemukan sebuah gambar dari sosok putranya. Sekalipun para kritikus tidak akan menganggap gambar tersebut sebagai karya jenius, lukisan tersebut menggambarkan dengan detil profil wajah anak muda tersebut. Juga nampak menggambarkan kepribadiannya.

Musim semi setelah itu, sang pria tua pun jatuh sakit dan meninggal dunia. Dunia seni pun segera mengantisipasi apa yang akan terjadi. Ternyata pria tua adalah seorang kolektor lukisan berharga dunia. Dan sebagaimana surat warisannya, seluruh harta seni peninggalannya akan segera dilelang setelah kematiannya. Tidak lama hari yang dinantikan pun tiba, dan para kolektor dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk mengajukan penawaran (bid) untuk beberapa lukisan terspektakuler di dunia. Pelelangan dimulai dengan sebuah lukisan yang tidak terdapat dalam list museum manapun. Itu adalah lukisan dari putra pria tua tersebut. Pemimpin pelelangan mulai membuka kesempatan untuk penawaran pembuka. Ruang lelang itu hening.

“Siapa yang ingin membuka penawaran dengan $100?,” Ia bertanya kepada orang banyak. Beberapa menit berlalu tanpa ada suara dari siapapun yang ingin membeli. Tiba-tiba dari belakang seseorang berseru tanpa perasaan, “Siapa peduli dengan lukisan tersebut? Itu hanya gambar dari anaknya. Lupakan saja dan langsung ke lukisan-lukisan yang penting.” Tetapi pemimpin pelelangan berkata, “Tidak. Kita harus menjual lukisan ini terlebih dahulu. Sekarang, siapa yang akan mengambil sang anak?” Akhirnya, seorang teman dari pria tua tersebut berkata, “Saya kenal anak itu, karena itu saya ingin memilikinya. Saya akan menawar $100.” “Saya punya penawaran $100,” seru pemimpin pelelangan. “Apakah ada yang lebih tinggi?” Setelah cukup lama hening, pemimpin pelelangan berkata, “Satu. Dua. Terjual.” Palu dijatuhkan. Ruangan tersebut pun dipenuhi dengan kegembiraan dan seseorang terdengar berkata, “Sekarang kita bisa melanjutkan pelelangan.” Tetapi, apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan? Sang pemimpin pelelangan memandang kepada orang banyak itu dan mengumumkan bahwa pelelangan sudah berakhir. Orang banyak terdiam karena kaget. Seseorang berseru dan bertanya, “Apa maksud anda sudah berakhir? Kami tidak datang untuk gambar anak pria tua tersebut. Bagaimana dengan semua lukisan berharga yang lain? Ada seni bernilai beberapa juta dolar di sini! Kami menuntut anda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!”

Sang pemimpin pelelangan pun menjawab, “Sederhana sekali. Sesuai dengan surat waris sang ayah, siapa pun yang mengambil anaknya… akan mendapatkan semuanya.”

Inilah rahasia terbesar dalam kehidupan kita. Rahasia yang penting kita mengerti dan hidupi. Rahasia yang seharusnya membuat kita rela mengabaikan apapun yang lain untuk menemukan Tuhan, sebab… “sesuai dengan kehendak Bapa di surga, barangsiapa yang menerima AnakNya, mendapatkan segalanya.”

Berita natal hanya satu—bahwa Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita orang berdosa. Kesukacitaan natal kita adalah ucapan syukur kita atas kasih yang Tuhan tunjukkan dengan lahir dalam sebuah kandang yang hina untuk menebus dosa setiap kita. Oleh sebab itu, kesukacitaan natal ada hanya pada bayi natal itu. Bukan karena hal yang lain. Bukan pada lagu-lagu natal terpopuler sepanjang masa, bukan karena album natal terbaru dari artis favorit kita, bukan karena pohon natal yang indah, bukan bahkan pada drama dan acara natal yang meriah, tetapi… hanya pada bayi natal yang membawa keselamatan itu. Karya keselamatan yang mendamaikan kita dengan Allah.

Biarlah pada malam natal ini kita mengingat bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jawaban atas semua persoalan dan tantangan kehidupan kita. Mari datang pada Yesus. Mari menyambut Tuhan dengan cara yang baru dalam hidup kita hari ini.

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal…” [Yohanes 6:40]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s