Lean On: New Year Reflection

[Materi khotbah Ibadah Tahun Baru IEC Singapore – 1 Januari 2015]

Sebuah artikel dalam New York magazine menjelaskan bahwa self-help movement telah menjadi sebuah industri senilai sebelas miliar juta dolar yang didedikasikan pada usaha untuk mengajarkan kepada semua orang tentang bagaimana mengembangkan kehidupan kita.[1] Artikel tersebut mengemukakan bahwa hari ini ada sedikitnya 45,000 judul buku self-help atau self-improvement (pengembangan diri) yang dicetak. Saat ini setiap sudut toko buku ataupun toko buku online dipenuhi buku-buku yang berisi instruksi bagaimana menjadi diri kita yang lebih baik.

Hari ini dengan membaca kita nampaknya bisa menjadi dokter untuk diri kita sendiri. Bisa belajar memasak. Bisa belajar berkhotbah. Bisa menjadi orangtua yang lebih baik. Bisa belajar mengendalikan emosi. Bisa belajar sulap. Apa saja. Perhatikan saja judul-judul publikasi yang laris manis di pasaran saat ini tidak jauh dari beberapa judul seperti berikut: [1] How to Make People Like You in 90 Seconds or less. [2] 59 Seconds: Change Your Life Under a Minute. [3] Four Hour Chef. [4] 1001 Cara Mencari Cinta. [5] Menjadi Jutawan Internet Sebelum Usia 25.

Semua publikasi self-help semacam ini sesungguhnya berkaitan erat dengan pengaruh New Age Movement yang menekankan bahwa kita adalah tuhan bagi diri kita sendiri. Hidup masing-masing orang tidak bergantung pada yang lain, tetapi pada diri sendiri. Tentu saja ini sebuah pemahaman yang fatal karena mengabaikan eksistensi Tuhan. Ironisnya, doktrin ini mempengaruhi pemikiran banyak orang kristen jaman ini. Saat ini banyak orang berpikir bahwa kita bisa menolong diri sendiri dengan usaha sendiri. Hari ini Firman Tuhan mengingatkan bahwa segala bentuk usaha manusia untuk menolong diri sendiri adalah sia-sia—bahkan membawa petaka.

5 Beginilah firman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! 6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. [Yer. 17:5-8]

Firman Tuhan berbicara tentang kutuk dan berkat. Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan, sebaliknya, terberkatilah mereka yang mengandalkan Tuhan. Mereka yang mengandalkan manusia seumpama semak di padang belantara yang tidak akan mengalami kebaikan. Seperti semak di padang yang tidak berpenduduk, ada tetapi tidak berguna. Hidup tetapi tanpa makna. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan Tuhan akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Tidak terpapar panas terik. Daunnya senantiasa hijau. Tidak kuatir kekeringan. Selalu berbuah. Selalu berhasil. Sebuah analogi yang indah yang menggambarkan pentingnya kehidupan yang selalu bersandar pada Tuhan. Tanpa Tuhan sia-sialah segala yang kita lakukan.

Salah satu bukti nyata dari betapa sia-sianya hidup tanpa Tuhan terjadi pada masa tahun baru seperti hari ini. Kata apa yang paling sering dikaitkan dengan tahun baru? Ya, resolusi.

Resolusi—adalah sebuah kata jamak muncul setiap masa awal tahun seperti ini. Saat dimana banyak membuat sebuah komitmen baru untuk menjadi diri yang lebih baik di tahun yang baru. Tentu saja ini adalah sebuah tradiri yang baik untuk dilakukan. Beberapa orang senang membuat daftar yang cukup panjang untuk resolusi tahun barunya. Sementara, beberapa lebih senang mengisi listnya dengan pendek. Tetapi pertanyaannya, berapa besar tingkat kesuksesan resolusi tahun 2014 setelah 31 Desember berlalu?

Sebuah studi pada tahun 2007 yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol dengan melibatkan 3.000 responden menunjukkan bahwa 88% dari mereka yang memiliki resolusi tahun baru gagal mewujudkannya, meskipun 52% dari responden yakin pada awalnya bahwa mereka akan berhasil mewujudkannya. 22% pria berhasil mewujudkan resolusi mereka saat mereka menenetapkan target (misalnya bertekad menurunkan berat badan satu pon dalam seminggu, bukannya hanya “menurunkan berat badan” saja), sedangkan 10% wanita berhasil mewujudkan resolusi mereka jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Sekarang, berapa banyak di antara kita yang bisa dengan mantap berkata bahwa saya berhasil 100% mencapai resolusi saya tahun 2014 lalu? Ya, tidak banyak bukan?

Resolusi yang gagal tercapai hanyalah sebuah bukti akan fakta kelemahan diri kita manusia. Bukan lagi hal yang memalukan. Semua orang punya pergumulan yang sama. Sebuah bukti betapa kita tidak dapat mengandalkan diri kita sendiri.

Hal ini juga menjadi sebuah ingatan penting akan fakta betapa kita membutuhkan seorang penolong yang sempurna untuk menopang kehidupan kita yang lemah. Itulah alasan kita membutuhkan Tuhan. Di awal tahun ini, dua hal terpenting yang harus kita sadari adalah mengenai pentingnya mengakui kelemahan kita dan belajar mengandalkan Tuhan.

Mengakui Kelemahan Kita

Arnol Schwarzenegger and Denial. Pada April 2011, majalah Newsweek menulis sebuah artikel tentang Arnold Schwarzenegger, seorang bintang film Hollywood yang kemudian menjadi gubernur California. Dituliskan di sana bagaimana Arnold pada usia 63 tahun menjadi sebuah ikon yang menggambarkan bentrokan hebat antara kelemahan manusia dan potensi yang mengagumkan. Ia seorang pribadi yang potensial, tetapi terbatas karena kelemahannya sebagai manusia.

Arnold memiliki kehidupan yang bisa dibilang gemilang. Prestasinya termasuk lima kali juara Mr. Universe. Tujuh kali juara Mr. Olympia sebelum akhirnya mendapat peran sebagai Conan the Barbarian yang menampilkan bentuk tubuhnya yang sangat memukau. [Tapi, sangat mengerikan bagi beberapa orang]. Lalu, Ia menjadi “The Terminator” yang tiada duanya sampai akhirnya menjadi gubernur.

Lepas dari semua prestasi dan kehebatannya, Arnold sesungguhnya memiliki sebuah kelainan pada katup jantungnya. Pada usia 50, Ia dioperasi untuk mengganti katup jantungnya yang bermasalah. Tetapi selang beberapa tahun kemudian, Ia harus dioperasi kembali untuk penggantian alat baru. Mengingat saat itulah, Arnold berkata, “…even though you are strong willed, you know from now on you’re damaged goods. As with most things, I live in denial.” “Sekalipun anda memiliki tekad baja, sekarang anda tahu bahwa sejak sekarang anda adalah barang rusak. Sekalipun demikian, seperti kebanyakan hal, saya hidup dalam pengingkaran.”

Ya, seperti kebanyakan orang, kita seringkali hidup dalam pengingkaran. Dokter berkata sebaiknya kita menjaga pola makan kita, kita pikir selama masih bisa makan, mau makan apa ya makan saja. Seorang rekan berkata sebaiknya kamu dua-tiga kali sebelum invest disana, kita berpikir no problem kok. Kita berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan, tetapi hidup seakan Tuhan tidak ada. Kita berkata saya percaya akan surga, tetapi kita lebih suka berlama-lama di dunia. Banyak kesempatan kita diingatkan untuk percaya kepada Tuhan, kita masih berpikir aku bisa hidup tanpa Tuhan.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Kita sedang (seringkali) mengingkari kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita. Dan ini tidak menolong kita untuk menikmati kehidupan yang lebih baik. Seumpama semak di padang belantara yang tidak akan mengalami kebaikan. Seperti semak di padang yang tidak berpenduduk, ada tetapi tidak berguna. Hidup tetapi tanpa makna.

Belajar Mengandalkan Tuhan

Sadar tidak sadar, kita dan seisi dunia hidup dengan mengandalkan kepercayaan setiap saat. Dunia hidup mengandalkan imannya. Seperti hari ini, saya tidak melihat seorang pun di antara anda yang masuk ke ruangan ibadah ini dan memeriksa kursi yang ada sebelum anda duduk. Semua orang langsung duduk saja karena percaya kepada kursi tersebut—berasumsi bahwa kursi itu cukup kuat untuk menopang anda. Kebanyakan berangkat dari rumah ke tempat itu dengan mobil, train atau bus, tetapi kita tidak tanya dulu siapa yang mengendarai bukan? Kita tidak periksa relnya aman atau tidak. Kita tidak memeriksa dulu apakah semua kabel kendaraan tersebut berada pada tempatnya. Kita tidak perlu bagaimana setiap sparepart kendaraan tersebut bekerja. Kita beriman. Kita percaya saja.

Terakhir anda ke dokter, Ia menuliskan selembar resep yang tidak dapat anda baca. Kita bahkan seringkali tidak yakin ada yang akan bisa membawanya. Tetapi, kita bawa ke apotik dan memberikannya kepada pharmacist. Kita tidak tahu apa yang Ia lakukan. Kita juga tidak berapa nilainya waktu sekolah farmasi. Kita tidak tahu apakah Ia suka bolos atau ketiduran waktu sekolah. Tetapi, ketika Ia memberikan obat-obatan itu kepada dan berkata, “Minum tiga kali sehari”, by faith kita akan melakukan persis seperti apa yang Ia katakan. Dunia, kita, hidup dengan percaya.

Tragedi AirAsia QZ8501. 162 orang bangun awal dari istirahat mereka tanggal 28 Desember lalu untuk mengejar penerbangan pagi dari Surabaya ke Singapore yang dijadwalkan. Sementara sebagian traveling untuk urusan bisnis dan pekerjaan, beberapa keluarga bepergian bersama dengan penuh antusias untuk liburan. Semuanya berjalan seperti biasa pagi itu. Tidak seorang pun tahu apa yang akan mereka hadapi dalam perjalanan.

Tiga keluarga jemaat sebuah gereja termasuk dalam daftar penumpang. Mereka bepergian lengkap ke Singapore untuk berlibur. Menikmati tahun baru di negeri singa. Kita bisa membayangkan tawa dan canda mereka sejak bangun pagi hari itu. Mereka masuk ke kabin pesawat dengan iman bahwa pesawat itu akan mengantarkan mereka dengan aman ke Singapore. Sekalipun mereka tidak kenal pilotnya, mereka memiliki iman kepada pilot tersebut. Sekalipun mereka tidak tahu cara menerbangkan pesawat tersebut, mereka percaya sang pilot akan dapat melakukannya. Mereka tidak tahu cuaca seperti apa yang akan mereka hadapi, tetapi mereka percaya bahwa perjalanan tersebut akan lancar. Sekalipun mereka tidak mengerti bagaimana kendaraan berbobot ratusan ton tersebut dapat melayang di udara, mereka percaya kepada pesawat tersebut. Dan pesawat Airasia QZ8501 itu take-off seperti yang dijadwalkan, tetapi tidak landing seperti yang semua orang harapkan. Setelah hilang selama tiga hari, pesawat tersebut ditemukan hanya dalam kepingan dan serpihan di laut.

Dalam menghadapi bencana dan masalah dalam kehidupan ternyata siapa pun, apapun tidak dapat diandalkan. Pilot yang berpengalaman juga bisa dalam posisi tidak mampu melakukan apapun untuk menghentikan sebuah pesawat yang bermasalah di udara. Pesawat yang relatif masih baru tidak dapat memastikan perjalanan yang aman. Teknologi penerbangan termutakhir pun tidak pernah akan bisa memberikan jaminan zero accident selama masih dibuat oleh manusia. Sesungguhnya apakah ada yang memberi kepada kita jaminan keselamatan 100% selama kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan dosa dan kerapuhan ini? Tidak ada!

Oleh sebab itulah firman Tuhan mengingatkan, terkutuklah mereka yang mengandalkan manusia, celakalah mereka yang bersandar pada dirinya sendiri, yang hatinya jauh dari Tuhan! Adalah penting untuk selalu senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita setiap hari. Tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Bersama Tuhan, semua akan baik-baik saja.

 Seperti yang tadi saya katakan, tiga keluarga jemaat sebuah gereja di Surabaya turut menjadi korban dalam tragedi Airasia hari Minggu lalu. Banyak orang berkata betapa menyedihkan dan tragisnya akhir hidup mereka. Sangat kasihan. Tetapi, istri saya berkata bahwa mungkin sekali mereka tiga keluarga justru sangat bahagia saat ini—karena mereka bisa pergi ke surga bersama-sama dengan orang-orang yang paling mereka sayangi. Mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus bersama sebagai satu keluarga. Karena seberapapun mengerikan akhir hidup mereka di dunia, semuanya menjadi tidak berarti ketika mereka bersama dengan Tuhan Yesus di surga. Tidakkah itu sangat indah?

Di akhir hari itu, bukan percaya mereka pilot ataupun pesawat yang canggih yang terpenting, tetapi iman percaya mereka kepada Tuhanlah yang membuat perbedaan. Amin.

[1] Boris Kachka, “The Power of Positive Publishing: How Self-Help Ate America,” New York magazine (1-6-13); as quoted from preachingtoday.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s