One Family. One Heart. One End.

[Dikhotbahkan di IEC Singapore – 4 Januari 2015 dengan tema “Bersehati Mantapkan Keluarga”]

Tema khotbah hari ini adalah tema besar gereja kita sepanjang tahun 2015 ini—“Bersehati Mantapkan Keluarga”. Dari judulnya kita menemukan dengan jelas bahwa keluarga lagi-lagi menjadi fokus penting bagi kita. Sepanjang tahun ini kita rindu untuk membangun keluarga yang berkenan dan memuliakan Tuhan. Ini tentu saja berbicara tentang menjadi keluarga yang kuat. Keluarga yang sehat—emosional dan spiritual.

Mengapa ini menjadi isu yang sangat penting?

Karena keluarga adalah fondasi paling dasar dari kehidupan setiap pribadi. Apa yang terjadi dalam keluarga menentukan masa depan setiap pribadi. Seperti apa sebuah keluarga berjalan akan menentukan generasi seperti apa yang dibentuk di masa depan.

Filsuf terkemuka dari daratan Tiongkok, Confusius, sangat memahami akan hal ini. Confusius hidup di masa China kuno pada pemerintahan Dinasty Zhou. Ia adalah seorang tokoh pemerintahan. Pada masa hidupnya, Ia memperhatikan bagaimana bangsanya semakin berantakan dan moralitas menurun drastis. Karena ketidakbenaran dan ketidakadilan yang Ia lihat, Ia mengembangkan sebuah aturan moral baru berdasarkan lima values—kehormatan, kejujuran, pendidikan, kebaikan dan ikatan keluarga yang kuat. Salah satu pengajarannya berkata,

“To put the world in order, we must first put the nation in order; to put the nation in order, we must put the family in order; to put the family in order, we must cultivate our personal life; and to cultivate our personal life, we must first set our hearts right.”

Demikianlah penting bagi kita untuk mengembangkan diri pribadi dan keluarga kita untuk mengubah dunia menjadi dunia yang lebih baik. Adalah penting mengelola dengan baik setiap relasi yang kita miliki. Adalah penting untuk mengelola dengan benar relasi kita dalam keluarga.

Hari ini berangkat dari relasi antara Tuhan dan Abraham, kita akan belajar kebenaran yang penting untuk bersehati memantapkan keluarga kita.

1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. 2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.” (Kej. 17:1-2)

Christian Family is a Covenant Family

Perhatikan bagaimana Tuhan Allah mengelola relasinya dengan Abraham. Jika kita membaca perikop di atas sampai ayat ketujuh, kita akan menemukan setidaknya empat kali kata perjanjian (covenant) digunakan. Tuhan tidak membuat kontrak dengan Abraham. Ia membuat sebuah perjanjian. Perjanjian yang bersifat kekal.

Salah satu masalah terbesar dalam budaya masa kini adalah bahwa terbiasa mengelola relasi kita dengan sistem kontrak. Manusia jaman ini seakan membuat kontrak dalam segala sesuatu yang kita kerjakan dan dalam setiap relasi yang kita miliki. Sementara Tuhan menekankan pentingnya covenant (perjanjian) dalam relasinya dengan kita.

Apakah perbedaan kontrak dan perjanjian (covenant)? Sebuah kontrak berakhir ketika salah satu pihak gagal melaksanakan janjinya. Misalnya, ketika seorang pasien tidak datang pada waktu yang dijanjikan dengan dokternya. Seorang dokter tidak berkewajiban untuk menelpon dan mencari pasien yang tidak datang tersebut. Dokter tidak akan bertanya apa yang terjadi. Ia tidak perlu bertanya sang pasien tidak datang seperti yang dijanjikan. Dokter tersebut tinggal bertemu dengan pasien berikutnya yang sudah menunggu. Sang dokter juga tidak punya kewajiban untuk harus melayani pasien yang telah gagal menepati janji tersebut jika kemudian Ia datang terlambat. Sang pasien tidak dapat menuntut dilayani lebih dulu pada saat terlambat. Mengapa? Karena Ia tidak menepati janjinya.

Sebaliknya, dalam relasinya dengan manusia yang dikasihiNya, Tuhan suatu kali bertanya, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes. 49:15). Alkitab menunjukkan bahwa sebuah covenant relationship lebih menyerupai ikatan orangtua dengan anaknya daripada janji temu dengan dokter. Jika seorang anak tidak hadir di meja makan pada saat makan malam keluarga, kewajiban orangtua untuk mengasihi anaknya tidak menjadi batal. Orangtua akan mencari anaknya dan memastikan bahwa Ia baik-baik saja. Kesalahan satu orang tidak akan merusak relasi atau hubungan tersebut. Mengapa demikian? Karena sebuah covenant tidak bergantung kepada kesetiaan satu pihak. Sebuah covenant adalah sebuah komitmen tanpa syarat untuk mengasihi dan melayani. Sebuah covenant bernilai “apapun yang terjadi” (whatever happens). Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan sebuah kontrak yang selalu diimbuhi kalimat “syarat dan ketentuan berlaku” (terms and conditions apply).

Setelah kita memahami hal ini, sekarang sepatutnya kita memahami betapa bersyukurnya kita sebab kita memiliki Allah Perjanjian. A covenant God. Apapun yang terjadi, seberapa pun kita gagal menunjukkan kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan, Ia tidak pernah membatalkan janjiNya pada kita. Kita memiliki yang Tuhan tidak pernah gagal mengasihi kita. Demikianlah Tuhan meneladankan sebuah relasi yang tidak dapat patah. Dengan kasih yang tanpa syarat.

Dalam konteks keluarga, hari ini kita bisa belajar bahwa keluarga Kristen dibangun atas dasar covenant yang Tuhan teladankan. Keluarga yang sehat bukan dibangun atas dasar kontrak yang bergantung kepada syarat tertentu, tetapi atas dasar perjanjian yang tidak bersyarat demi kemuliaan Allah.

Mengapa banyak keluarga hari ini menjadi berantakan? Jawabnya adalah karena sadar-tidak-sadar banyak orang membangun keluarganya berdasarkan syarat tertentu. Syarat dan kondisi berlaku. Aku akan mengasihimu selama Engkau mengasihi aku. Aku akan sabar pada suamiku kalau Ia juga sabar menghadapiku. Aku pasti akan setia jika pasanganku setia. Kenapa kamu marah aku datang terlambat, padahal kamu lebih sering terlambat kalau janjian. Tidakkah itu yang seringkali kita dengar dan katakan? Jika kita membangun keluarga kita seperti ini, cepat atau lambat, kita akan menumpuk masalah yang akan merusak keluarga kita dengan cepat.

Itulah sebabnya Tuhan mengajarkan kepada kita tentang covenant relationship. Tuhan bahkan meneladankannya kepada kita. Fakta bahwa Ia masih mengasihi kita sampai hari ini lepas dari segala dosa dan kelalaian kita menunjukkan bukti bagaimana Tuhan menghidupi covenant-nya kepada kita.

Every family needs to live its covenant relationship—as God intended.

Kepada banyak pasangan yang menikah, saya seringkali mengingatkan bahwa setelah mereka berjanji di hadapan Tuhan untuk saling mengasihi sampai selamanya, maka apapun yang terjadi mereka tidak lagi dapat terpisahkan. Apapun yang terjadi. Saya seringkali mengingatkan bahwa akan ada waktunya sesekali suami/istri kita akan menunjukkan kualitas atau perbuatan yang mengecewakan kita, tetapi sejak hari setelah kita berjanji di hadapan Tuhan, maka kita tidak lagi mengasihi suami/istri kita karena sekadar karena kualitas pribadi yang mereka tunjukkan kepada kita, tetapi karena kita mengasihi Tuhan.

Demikian juga dalam relasi orangtua dan anak. Tuhan memberikan perintah “hormatilah ayahmu dan ibumu”—hukum keempat dari sepuluh hukum. Maka, seorang anak harus senantiasa mengasihi dan menghormati orangtuanya sekalipun kadang kita merasa orangtua kita tidak layak dikasihi ataupun dihormati. Mengapa? Karena kita mengasihi Tuhan.

A Christian Family is a Spiritual Family

3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa …supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. [Kej. 17:3-7]

Abraham menerima janji Tuhan. Ia akan menjadi Bapa bangsa-bangsa. Bukan sekadar bapa bagi bangsanya, keturunan darahnya, tetapi Ia akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Tuhan memberikan status baru bagi Abram. Memberikan nama baru Abraham sebagai ganti Abram. Menunjukkan perubahan yang signifikan dalam kehidupan Abraham dan juga menyangkut keturunannya. Bahwa relasinya dengan Tuhan akan menjadi relasi yang juga mengikat seluruh keturunannya. Berkat Tuhan atas Abraham menjadi berkat bagi seluruh keturunannya—yaitu untuk menjadi bangsa yang besar. Ini berbicara tentang kuasa. Tentang pengaruh. Tentang potensi yang Tuhan berikan bagi Abraham untuk membangun generasi demi generasi yang luar biasa bagi Tuhan. Tidakkah ini sangat luar biasa?

Jika anda pikir ini luar biasa besar, tunggu sampai anda memperhatikan Galatia 3:29,

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. [Gal. 3:29]

Ya, firman Tuhan mengatakan bahwa siapapun yang percaya kepada Kristus adalah keturunan Abraham—dan dengan demikian, menerima janji berkat yang sama. Ini berarti saudara dan saya, setiap mereka yang percaya kepada Kristus, menerima berkat yang sama untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Sekali lagi—ini berbicara tentang kuasa. Tentang pengaruh. Tentang potensi yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita untuk membangun generasi demi generasi yang mampu mengubah dunia. Mengubah bangsa-bangsa untuk datang kepada Tuhan.

Setiap orang yang mengaku percaya, setiap pengikut Kristus, setiap keluarga Kristen di muka bumi, adalah sebuah keluarga rohani yang tidak terpisahkan. Keluarga spiritual yang terhubung oleh berkat Abraham. Keluarga rohani yang dipersatukan oleh satu tujuan—membangun generasi yang memuliakan nama Tuhan.

A christian family is a spiritual family. All of us are Abraham’s descendants.

Inilah identitas rohani yang penting untuk kita pahami. Menolong kita mengerti bahwa kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Kita tidak sepatutnya hidup hanya untuk agenda kita sendiri. Sebagai keluarga, kita senantiasa harus berjuang untuk membangun generasi baru yang bertanggungjawab di hadapan Tuhan.

Dalam spirit untuk bersehati memantapkan keluarga kita, biarlah kita mengingat “one family, one heart, one end.”

ONE FAMILY. ONE HEART. ONE END.

One Family

Kita adalah satu keluarga. Terikat oleh kasih Kristus.

One Heart

Kita adalah satu keluarga yang sehati. Kita tidak hidup untuk agenda kita sendiri-sendiri. No personal agenda. Hidup dengan nilai yang sama.

One’s growth is everyone success. Pertumbuhan satu orang adalah sukses semua orang. One’s success is everyone happiness. Kesuksesan seseorang, kebahagiaan semua orang. One’s wound is everybody’s pain. Luka satu orang adalah rasa sakit semua orang.

Kita membangun satu sama lain. Tidak seorangpun memikirkan diri sendiri.

One End

Kita adalah satu keluarga yang sehati untuk menggapai satu tujuan Tuhan. Membangun keluarga yang sehat untuk membangun generasi baru yang menjadi terang di tengah dunia. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s