Change: Natal Yang Mengubahkan

Semakin banyak orang masa kini memiliki kesulitan untuk bersabar dan menantikan apa yang diharapkan. Di Indonesia kita sudah sangat biasa dengan keterlambatan penerbangan dalam negeri. Hasilnya, hampir setiap kali saya berada di ruang tunggu airport saya dengan mudah dapat menemukan orang-orang dengan wajah cemberut dan marah mendatangi petugas yang bertugas dengan kalimat kasar dan bahasa tubuh yang tidak pantas ditiru.

Wajah datar kesal yang serupa juga dengan mudah kita temukan dalam antrian panjang kasir di supermarket, antrian panjang di bank, dalam iringan bunyi klakson di tengah kemacetan lalu lintas, dan banyak tempat lain. Kita memang semakin sulit menunggu. Kita tinggal dalam budaya instant. Kita tidak suka menunggu. Rasanya butuh mujizat untuk memiliki kesabaran dala menunggu sesuatu.

Masalahnya adalah setiap kita yang hidup memiliki setidaknya satu keinginan yang sangat kita impikan—seperti pemulihan dari sebuah hubungan yang patah, akhir dari rasa sakit dan penderitaan, pemulihan dari kehancuran, seorang anak dalam keluarga, pasangan hidup yang mengasihi kita dengan tulus, berkat baru yang berlimpah dalam hal keuangan. Kehidupan yang lebih baik.

Anda berdoa, berdoa, berdoa dan terus berdoa—berharap, berharap dan terus berharap, sehari, seminggu, sebulan, setahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun, duapuluh tahun, tetapi akhirnya pengharapan itu terasa sia-sia. Mengecewakan. Dan kita kehilangan pengharapan kita. Kita pikir pengharapan kita sudah usai. Hidup tidak bisa berubah lebih baik.

Pertanyaannya, apakah masih ada pengharapan yang masih layak kita nantikan? Apakah kehidupan dapat berubah seperti yang kita rindukan? Hari ini kita akan belajar bahwa kelahiran Tuhan Yesus adalah jawaban atas segala pengharapan kita akan kehidupan yang lebih baik.

25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. (Lukas 2:25-26 TB)

Hari ini kita berjumpa dengan Simeon—seorang tokoh Yahudi ideal. Ia hidup melakukan apapun yang Tuhan perintahkan. Ia seorang yang benar dan penuh pengabdian kepada Tuhan. Ia penuh dengan integritas—di hadapan Allah dan manusia. Sepanjang hidupnya Ia mendedikasikan hidupnya menantikan Mesias yang dijanjikan. Penantian ini menjadi tema penting dalam hidupnya terlihat dari fakta bahwa Roh Kudus menyatakan kepadanya bahwa Ia tidak akan mati sebelum Ia melihat Mesias.

Kita tidak tahu pasti berapa lama Simeon hidup dalam pengharapan akan Juruselamat. Tetapi, suatu hari Roh Kudus memimpin Ia pergi ke bait dan berjumpa dengan bayi Yesus. Mesias. Juruselamat yang brau berusia delapan hari. Pertemuan itu menjadi perjumpaan yang luar biasa bagi Simeon. Apa yang Ia nantikan telah digenapkan. Kerinduannya berganti dengan kesukacitaan. Hati Simeon seakan meledak dalam kegirangan. Dan Ia pun menaikkan mazmur bagi Tuhan.

29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Awalnya tidak ada sesuatu yang baru dari apa yang Ia katakan tentang bayi Yesus. Ia berbicara tentang keselamatan. Semua orang Yahudi tahu bahwa Mesias adalah pembawa keselamatan bagi Israel. Arti nama Yesus sendiri adalah keselamatan. Tetapi, ada tema baru yang dinyatakan disini—yaitu bahwa Kristus lahir membawa keselamatan bagi segala bangsa. Bagi bangsa-bangsa lain juga selain Israel. Bagi kita hari ini ini sesuatu yang tidak istimewa. Bagi kita hal ini mungkin tidak berarti. Tetapi, dari ayat 33 kita tahu bahwa hal ini sangat mengejutkan bagi Yusuf dan Maria.

Setelah kehamilan dan kelahiran Maria yang masih perawan, perjumpaan dengan malaikat dan kelahiran Yesus yang bahkan dikunjungi oleh para malaikat, Yusuf dan Maria pikir bahwa sudah tidak lagi yang bisa membuat mereka kaget. Tetapi, hari itu, delapan hari setelah Yesus lahir, mereka mendengar bahwa bayi mungil mereka bukan hanya akan menjadi penyelamat Israel—tetapi, pengaruhnya akan mengatasi bangsa-bangsa. Amazing. Tak terbayangkan. Tak terduga. Jauh melampaui apa yang sanggup mereka harapkan. Yusuf dan Maria mungkin membayangkan suatu hari putra pertama ini akan menjadi berita di koran lokal, tetapi kalau sampai anak mereka yang lahir di kandang ini akan menjadi cover story dari majalah Time International? Wow, tidak terbayangkan!

Tetapi, Simeon belum selesai. Sewaktu Ia memberkati bayi Yesus, mereka mendengar lebih banyak hal yang mengejutkan.

34 “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan–35dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

KEHADIRANNYA MENGUBAH DUNIA

Siapa yang senang mengetahui bahwa anaknya akan kelak akan menghancurkan kehidupan banyak orang, sementara yang lain dibangkitkan. Dunia tidak akan lagi menjadi sama. Mereka yang bersikeras menolaknya akan dijatuhkan; sementara mereka yang dengan rendah hati menerimanya akan dibangkitkan. Yesus kecil suatu hari dimaksudkan seakan untuk membelah dunia menjadi dua.

Kelahiran Tuhan Yesus mengubah dunia. Dunia bukan lagi sebuah ruang dan waktu yang sama sebelum kehadiranNya. Dunia tidak pernah lagi sama. Kelahiran Tuhan Yesus membuat perbedaan yang dunia akui.

Tahukah anda bahwa prinsip perhitungan kalendar tahunan yang kita gunakan saat ini di seluruh dunia berhubungan erat dengan Tuhan Yesus? Kita belajar bahwa dunia membagi sejarah menjadi dua—masa sebelum masehi dan sesudah masehi. Dalam bahasa Inggris, BC dan AD. Ingatkah anda apa artinya BC dan AD? It stands for Before Christ (BC) and Anno Domini (AD), which means the era before Christ was born and the years after His coming. Anno Domini berasa dari bahasa latin yang berarti “in the year of our Lord”. Tahun Tuhan.

Dengan demikian siapapun di seluruh dunia yang menyebut, menulis, atau sekadar mengingat tanggal di jaman ini (1 Jan-31 Des Duaribu sekian) sesungguhnya mengindikasikan sebuah pengakuan bahwa titik sejarah terpenting dunia berkaitan erat dengan kelahiran, kehidupan dan kematian Tuhan Yesus. [Karena terdengar terlalu religius, banyak orang mencoba mengganti BC dan AD dengan CE (Common Era) dan BCE (Before Common Era)—tetapi tidak dapat memungkiri bahwa perhitungan tahun yang digunakan internasional saat ini menggunakan kelahiran Kristus sebagai titik tolaknya]. Siapapun, dengan latar belakang apapun (Kristen, Atheist, Islam, pendukung komunitas LGBT, Budha, dll), ketika kita menyebut tanggal tertentu di jaman ini—sadar tidak sadar mereka menyebut nama Tuhan. Kehadiran Tuhan di tengah dunia mengubah dunia. Dunia tidak pernah lagi sama.

Kelahiran Kristus adalah cara surga mengivasi dunia. Melebur garis batas antara surga dan dunia. Damai sejahtera di bumi seperti di surga. Kelahiran Tuhan menghadirkan damai—damai di tengah dunia yang tidak lagi mengenal damai sejahtera akibat dosa dan penderitaan.

Kehadiran Tuhan Yesus mengubah sejarah dunia. Mengubah budaya. Kekristenan berkembang sejak kematianNya di atas salib. Kesimpulan besar dari hasil 2500 survei dan sensus kependudukan, hari ini dari 6,9 milyar penduduk dunia 32% (2,2 milyar orang) Kristen dan 23% (1,6 milyar orang) beragama Islam. Sementara Islam sendiri adalah agama yang mengistimewakan Isa Almasih alias Tuhan Yesus. Bangsa-bangsa besar di dunia hari ini berdiri ditopang oleh dua agama ini—Kristen dan Islam—yang mengakui Tuhan Yesus. Kelahiran Tuhan yang sederhana mampu mengubah dunia menjadi dunia yang kita hidupi hari ini.

KEHADIRANNYA MENGUBAH KEHIDUPAN KITA

Dan tentu saja, kehadiran Tuhan bukan saja mengubah dunia, tetapi juga mengubahkan kehidupan kita. Mempengaruhi kehidupan setiap orang yang pernah lahir di dalam dunia ini.

Pada ayat 35, Simeon berkata bahwa apa yang dipikirkan oleh banyak orang akan disingkapkan. Tidak banyak orang yang mau diekspose. Banyak orang lebih suka menyimpan apa yang dipikirannya sendiri. Terlalu banyak rahasia yang kita harap tidak orang ketahui tentang diri kita. Bayangkan, jika hati dan pikiran kita yang terdalam disingkapkan di hadapan orang banyak untuk semua orang dengar di gereja ini. Tidakkah ini mengerikan? Tidak heran jika banyak orang akan menolak Kristus pada waktunya.

Bagi Maria sendiri, Yesus akan menjadi sebuah pedang dikatakan akan menyakitinya. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah peringatan bagaimana Maria kelak akan mengalami penderitaan terbesar yang paling ditakutkan oleh setiap mama. Bahwa Ia harus menguburkan anaknya sendiri.

Semua yang Simeon katakan hari itu melampaui semua yang dapat orang pikirkan pada masa itu. Immanuel. Allah ada di antara kita. Mesias. Juruselamat. Banyak orang pikir mereka tahu apa arti semua janji dan nubuatan tersebut, tetapi faktanya tidak. Arti kehadiran Tuhan di dunia nyata-nyata melampaui apa yang sanggup manusia, kita, bayangkan. Yusuf dan Maria pikir mereka mengerti. Tidak. Para gembala pikir mereka paham apa arti mesias, tidak juga. Bahkan, para malaikat tidak dapat mengerti mengapa Allah yang mereka agungkan setiap saat harus turun ke dalam dunia yang kotor dan penuh dengan dosa.

Melewati natal setahun demi setahun, kita pikir sudah mengerti apa artinya natal. Kita pikir setelah bertahun-tahun kita paham mengapa Tuhan Yesus harus lahir ke dalam dunia. Kita pikir kita cukup tahu. Tetapi, mungkin sekali, seperti Yusuf dan Maria di natal pertama, kita bahkan tidak sadar apa yang kita pahami tidak sempurna. Terlalu banyak yang kita tidak sadari. Terlalu kecil otak kita untuk menampung pikiran dan hikmat Tuhan. Saya sendiri sering berpikir saya cukup paham tentang Tuhan. Ternyata, belum.

Saya pikir saya mengerti Tuhan—sampai seorang tiga orang dokter ahli di Gleneagles mengatakan bahwa ginjal saya tidak lagi berfungsi. Chronic kidney failure.

Sebelumnya saya pikir saya siap untuk mati, tetapi ketika kematian menyapa lebih dekat seperti itu, saya tersadar bahwa masih ada banyak hal yang belum serius saya pikirkan. Saya tidak pernah serius memikirkan tentang kehidupan setelah kematian. Saya pribadi tidak pernah memikirkan tentang surga. Saya baru sadar betapa hati saya begitu terikat kepada dunia.

Jangan salah. Saya tidak takut kemana saya akan pergi jika saya mati—pasti ke surga. Tetapi, saya kuatir akan keluarga yang masih sangat muda. Saya sedih memikirkan bahwa saya hanya akan pergi kesana sendirian—tidak ada Vina dan Faith disana.

Malam pertama di rumah setelah pulang dari hospital, saya berdoa, “Tuhan Yesus, ampuni saya karena dalam kelemahan manusiawi saya, saya sulit membayangkan surga sebagai tempat yang lebih indah—tanpa Vina dan Faith.” It’s my confession before God. Tanpa sensor.

Saya tidak pusing soal kebutuhan untuk membayar banyak biaya pengobatan, cuci darah, transplan atau apapun—karena kami percaya Tuhan pasti menyediakan. Tetapi, ketika harus berhadapan dengan end-stage illness alias kronis seperti ini, saya sangat kuatir hidup tanpa anak istri saya. Itu saya. Itu kekuatiran yang sempat saya rasakan sebentar. Bersyukur tidak lama, saya menemukan damai sejahtera sejati dalam Tuhan Yesus. Ketika saya mengakui dan memohon ampun kepada Tuhan atas kelemahan kedagingan saya, tidak butuh waktu lama Tuhan mengambil kendali atas hati dan pikiran saya. Istri saya juga punya pergumulan dan kesedihannya sendiri. Tetapi, hari ini, kami bersyukur karena jika kami menangis itu lebih karena kami menemukan banyak sentuhan kasih Tuhan yang ditunjukkan melalui dukungan dari keluarga, rekan, jemaat dan bahkan orang-orang yang kami tidak duga. [Kami bahkan sekarang bisa bercanda tentang kemungkinan istri saya menjadi janda kembang]

Kasih Tuhan sungguh mengubahkan kita. Kasih yang tak pernah gagal.

Simeon sendiri diubahkan. Ia tidak takut akan kematian (v. 29-30). Ia puas hidup. Ia tidak takut untuk meninggalkan dunia untuk bersama dengan Tuhan. Tidak ada lagi alasan yang menahannya untuk tinggal di dunia ini. Kehadiran Tuhan mengubah Simeon dan mengubah setiap kita.

Dalam masa advent ini, penting bagi kita untuk memahami advent bukanlah sekadar menjelang peringatan kelahiran Tuhan yang sudah terjadi 2000 tahun yang lalu, tetapi juga mengingatkan kita kedatangan Tuhan yang kedua kelak. Kedatangannya yang kedua kelak juga akan mengubah dunia dan surga. Mengubah arah hidup setiap pribadi yang pernah hidup di tengah dunia. Surga tidak akan sama lagi, karena anak-anak Tuhan akan bersama tinggal disana.

Salah satu pesan terpenting yang Tuhan katakan kepada kita adalah “Jangan takut!” Kepada Yusuf, “Jangan takut!” (Mat. 1:20). Kepada Maria, “Jangan takut!” (Luk. 1:20). Kepada para gembala, “Jangan takut!” (Luk. 2:10). Kepada murid-murid Tuhan Yesus kelak, “Jangan takut!” (Mat. 14:27). Di atas gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Tuhan berkata, “Jangan takut!” (Mat. 17:7). Setelah Ia bangkit dari kematian, “Jangan takut!” (Mat. 28:10). Belum lagi terhitung berapa banyak perkataan “Jangan takut” yang Tuhan katakan dalam PL kepada Israel. Semua ini menolong kita mengerti bahwa Tuhan ingin memberikan kepada kita kehidupan yang tanpa takut. Fearless. Dan setelah kehadiranNya di tengah kita sungguh saat ini kita punya alasan untuk tidak takut akan apapun dalam kehidupan—sebab Dia Tuhan ada bagi kita.

Kehadiran Tuhan membawa surga bagi kita. Kita tidak lagi perlu takut akan apapun. Surga menjadi sangat nyata. Heaven is so real. Itulah hadiah terbaik yang Tuhan berikan bagi saudara dan saya natal ini. Pertanyaannya, apakah kita sungguh telah membiarkan Tuhan bekerja mengubahkan hidup dan hati kita?

Biarlah advent, masa menjelang natal ini, menolong kita untuk sungguh mengalami kasih Tuhan yang mengubahkan kehidupan kita. Kita dapat hidup fearless, tanpa takut, kepada apapun—karena Dia Tuhan selalu hadir bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s