Running Out of Time (Kehabisan Waktu)

Saya ingat sewaktu saya masih kecil sampai saya beranjak remaja, kami sekeluarga (papa, mama dan tiga jagoan bersaudara) bisa dikatakan sering makan bersama sebagai keluarga, terutama saat makan malam. Kadang kami pergi makan keluar, atau juga makan bersama di rumah.  Jika diingat lagi, itu adalah pengalaman sederhana yang sangat menyenangkan. Namun, saya tidak terlalu yakin bahwa hari ini masih ada banyak keluarga yang mempunyai kesempatan untuk makan bersama satu meja sekarang. Karena itulah, beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga pergi ke sebuah restoran dan saya melihat satu keluarga cukup besar masuk ke restoran yang sama dan kemudian duduk tidak jauh dari meja kami. Melihat mereka masuk saya seakan bernostalgia membayangkan bagaimana saya dulu duduk makan bersama di restoran dengan papa, mama dan dua adik.  Saya tersenyum melihat waktu mereka masuk membayangkan kebiasaan kami dulu makan sekeluarga. Tapi, nostalgia saya terganggu waktu mereka mulai duduk, memesan dan menunggu pesanan mereka.

Mereka duduk bersama, tetapi tidak seorang pun berbicara satu dengan yang lain selama beberapa menit. Mengapa? Semua sibuk dengan gadget dan handphone masing-masing. Si Papa berbicara di telpon. Si Mama senyum-senyum sambil memencet bb-nya. Dua anak bermain dengan bb masing-masing, sementara anak yang paling kecil bermain NDS. Hanya satu orang yang tidak sibuk mengutak-atik bb dan duduk dengan manisnya. Tebak siapa? Si Nenek.

Hal serupa sangat umum terjadi saat ini dalam beragam variasi yang berbeda, bahwa ada banyak orang lebih sibuk dengan gadget dan dunianya sendiri sehingga mengurangi kontak nyata dengan orang lain. Teknologi dewasa ini berkembang semakin personal sehingga mengurangi relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita.

Ilustrasi. Videoclip “Disconnect to Connect”.

Penting untuk disconnect dari gadget untuk connect dengan orang-orang penting di sekitar kita. Teknologi membuat yang jauh semakin dekat, dan yang dekat semakin jauh. Penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang baik akan nilai sebuah hubungan. Penting bagi kita untuk memiliki disiplin demi membangun relasi yang bernilai dalam kehidupan kita.

waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali

Bagaimana kita membangun relasi dan hidup kita hari ini, saat ini, sangat penting karena kita akan kehilangan “hari ini” besok. Waktu (dan kesempatan) adalah hal yang tidak terbeli. Harta yang sangat (kalau tidak mau dibilang paling) berharga.

Waktu kita untuk menikmati keluarga kita tidak akan bertambah. Kesempatan kita untuk mendidik anak-anak kita tidak akan bertambah. Waktu dan kesempatan kita akan terus berkurang.  Apa yang sudah lewat tidak akan kembali.

Lukas 10:38-40a. 38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani.

Anda kenal kisah ini… [kisahkan secara singkat]

Maria dan Marta adalah kakak beradik yang sama sekali berbeda dalam cara mereka menggunakan waktu mereka. Marta selalu berpikir dia tidak punya cukup banyak waktu untuk melakukan banyak hal, sementara Maria mengambil kesempatan terbaik untuk duduk dekat dan mengalami kehadiran Tuhan Yesus.  Untuk itulah Maria mendapatkan pujian dan berkatNya.

Menarik diperhatikan bahwa baik Maria dan Marta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengalami Tuhan secara pribadi. Tuhan hadir dalam rumah mereka. Apa yang anda lakukan kalau tahu sebentar lagi Tuhan akan datang ke rumah anda?  Maria tentu punya banyak aktifitas rumah harian yang harus Ia lakukan, mungkin ada baju kotor yang belum dicuci, piring bekas makan yang belum dirapikan, mungkin ada beberapa belanjaan yang harus dibeli, dsb. Atau mungkin Ia bisa saja menyapu, mengepel dan rapi-rapi. Tetapi, Maria memutuskan untuk menangkap moment itu untuk Ia nikmati bersama dengan orang yang penting dan sangat disayanginya, Tuhan Yesus.

Maria berkata, “Saat ini, ketika aku memiliki kesempatan ini untuk dekat dengan Tuhan, aku tidak akan menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Aku akan menangkap kesempatan ini untuk menikmati waktuku dengan Tuhan selagi aku bisa.” Ia mengambil pilihan yang bijaksana. Ia tahu tidak selalu Tuhan akan ada di sana. Ia tahu tidak selamanya orang yang dikasihinya akan selalu sempat mampir datang ke rumahnya. Ia tahu tidak banyak waktu Ia bisa mendengar suara Tuhan Yesus. Ini kesempatan yang tidak akan kembali lagi.  Maria bukan bermalas-malasan, Ia hanya memilih untuk fokus pada apa yang terpenting.

Saya pernah katakan ini beberapa waktu lalu tentang pentingnya keluarga. Anak kita tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Istri kita tidak akan selamanya muda. Suami kita tidak akan selamanya bisa diajak bepergian. Orangtua kita tidak akan selamanya ada bersama kita. Sahabat terbaik sekalipun tidak akan selalu tinggal di kota yang sama dengan kita. Kita perlu membangun hubungan terbaik denga orang-orang yang kita kasihi sekarang!  Kita bisa dengan segera kehabisan waktu untuk dinikmati bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.

Mitos: Sibuk adalah tanda kesuksesan. Tidak punya waktu adalah sinyal keberhasilan. Adalah keren jika seseorang ingin bertemu dan kita dapat berkata, “Sebentar ya, aku harus cek jadwal dulu!”

Seperti Maria, kita perlu belajar untuk memilih untuk mengisi waktu kita yang terbatas hanya untuk hal-hal yang terpenting. Ini soal prioritas. Jangan sekadar melakukan hal-hal yang penting, tetapi lakukanlah hal terpenting. Ini soal prioritas. Sebab, waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali.

bagaimana memaksimalkan sebuah hubungan?

dimana pun anda berada, berada disanalah sepenuhnya

Saat  ini, ketika anda sedang duduk dalam ruang ibadah ini, entah ada berapa banyak pikiran yang berseliweran di benak anda sekarang. Umumnya, kita memiliki begitu banyak hal yang kita pikirkan dalam pikiran kita sekaligus. Itu salah satu yang membuat kita seringkali bisa berhenti di tengah doa, lupa tadi sedang ngomong apa pada Tuhan. Apakah anda sering mengalaminya?  _^

Serupa dengan itu, saat anda sedang duduk disini sekarang, beberapa orang kemungkinan mengalami masalah besar untuk tetap fokus pada ibadah dan khotbah. Pikiran kita bisa tiba-tiba, tanpa direncanakan, terpikir eh mau makan dimana setelah ibadah selesai? Aku ada janji nanti nonton nanti sore, ada film apa aja yang sedang tayang ya?  Besok kiriman stok baru masuk untuk toko. Ada tagihan yang harus dibayar hari Rabu. Pacar sebentar lagi ulang tahun mau kasih kado apa. Eh lupa, mobil sudah lama dak ganti oli. Mau ganti oli dimana ya?  Baju Novi hari ini bagus nian, beli dimana ya dia? dsb, dst.

Ketika anda sedang bersama dengan orang yang anda kasihi, selalu ada kemungkinan pikiran kita tidak berada di tempat yang sama. Ya, saya jujur itu pun seringkali saya alami.  Tidak jarang saat kami sedang mengobrol, saya sepertinya mendengar apa yang Vina katakan, manggut-manggut, “Iya, bener! Masak?” Tetapi tiba-tiba Vina bertanya sesuatu beberapa kali, akhirnya sambil berteriak, “An!” Refleks saya jawab, “Iyo!” Lalu, saya sendiri bingung tadi dia sampai dimana ceritanya, lalu perlahan tanya, “Tadi kau ngomong apo?”  Teng tong! Wajar kalau dia sering kesel kalau ngobrol _^

Dimana pun kita berada, berada disanalah sepenuhnya. Hadir secara utuh. Bukan sekadar tubuh yang ada di rumah atau di meja makan, tetapi seluruh hati dan pikiran.

mengobrollah dengan hati

Berbicara dan mendengarlah dengan hati. Berkomunikasi dengan hati. Jangan hanya sekadar bertukar informasi. Bukan hanya sekadar bicara tentang hal kecil (bayar listrik, kapan pergi belanja), tetapi tentang apa yang perasaan dan hati. Ketika bertengkar, komunikasi mudah menjadi buruk ketika kita membuat penilaian tentang orang yang kita ajak bicara. Bicaralah lebih tentang apa yang menjadi isi hati anda. Itu akan mendatangkan simpati.

berdisiplinlah membangun waktu bersama

Kebijakan keluarga. Andi Stanley, “The Best Question Ever”, Pertanyaan terbaik yang membangun kehidupan, apakah bijak…?

mengapa relasi penting dibangun?

relasi adalah investasi penting untuk kehidupan

Pengkhotbah 4:9-12. 9 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. 10 Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! 11 Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? 12 Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

Hubungan atau relasi adalah sebuah investasi besar. Investasi berarti ada sesuatu yang harus kita “tanam” untuk kemudian menghasilkan keuntungan balik yang menambah nilai kehidupan kita.

Relasi adalah investasi penting untuk pertumbuhan dan kebahagiaan.

Lima Penyesalan Terbesar Menjelang Ajal. Bonnie Ware, seorang perawat Australia, telah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dalam unit perawatan khusus bagi pasien yang tinggal memiliki waktu hidup kurang dari 12 bulan karena penyakit yang dideritanya. Setelah bertahun-tahun mendampingi banyak orang menjelang kematian mereka, Bonnie menemukan bahwa ada begitu banyak pasiennya yang menemukan kejelasan tentang arti hidup sementara mereka hampir mati. Ketika mereka ditanya tentang penyesalan mereka dalam hidup, beberapa tema selalu berulang dibicarakan oleh mereka yang hampir meninggal.

Lima penyesalan yang paling umum dikatakan adalah sbb.

  1. Seandainya saja aku punya keberanian untuk hidup jujur dengan diri sendiri, bukan sekadar hidup seperti yang diharapkan orang lain.
  2. Seandainya saja aku tidak bekerja begitu keras. Bonnie menambahkan bahwa semua pasien prianya mengatakan hal yang sama.
  3. Seandainya saja aku mempunyai keberanian untuk mengekspresikan perasaanku.
  4. Seandainya saja aku terus berhubungan dengan teman-temanku. Semua orang merindukan teman dan sahabat mereka. Menyesal bahwa mereka tidak memberikan cukup waktu dan usaha untuk membangun hubungan yang baik dengan teman dan sahabat.
  5. Seandainya saja aku membiarkan diriku untuk merasa bahagia. Banyak orang tidak sadar bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan, sampai akhirnya mereka tidak punya kesempatan lagi untuk bahagia.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s