Komunitas

[Preached at IEC (GII Hok Im Thong) Singapore – 5 Agustus 2012]

Don’t Waste Your Time Being A Christian.  Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya minggu lalu di internet, “Don’t Waste Your Time Being A Christian”  yang ditulis oleh Frank Voila. Ia menulis tentang betapa banyak orang bisa begitu mudah menghabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna.

Demikian pun dalam perjalanan rohani kita dengan Tuhan, kehidupan rohani orang percaya, dalam kehidupan gereja Tuhan, keluarga Allah dan komunita kristen. Kita bisa melakukan banyak hal yang sia-sia, tidak berguna, bahkan cenderung merusak kehidupan kita pada akhirnya.

Ada sepuluh hal yang umum dilakukan orang Kristen yang sesungguhnya sama sekali membuang waktu, alias tidak berguna. Inilah sepuluh hal yang jika kita lakukan adalah hal yang, menurut Voila, membuang waktu dan sia-sia:

  1. Membiarkan diri menyimpan akar pahit kepada orang yang melukai kita [v]
  2. Menggunakan waktu, uang dan energi hanya untuk kesenangan dan kebutuhan diri sendiri [v]
  3. Tidak punya waktu untuk berdiam diri hanya bersama Tuhan
  4. Mengabaikan pembacaan firman Tuhan (Alkitab) setiap hari
  5. Membicarakan orang lain dibelakang mereka (khususnya saudara seiman) [v]
  6. Jarang (bahkan tidak pernah) membaca buku rohani
  7. Tidak punya hubungan yang berkualitas dengan saudara seiman [v]
  8. Membiarkan iri hati menguasai hati dan tindakan kita  [v]
  9. Tidak pernah belajar dari kesalahan
  10. Menyia-nyiakan krisis (masalah hidup) sebagai kesempatan untuk mengalami Tuhan.

Hal yang sia-sia kita lakukan sebagai orang Kristen, dua bicara tentang disiplin rohani, tiga tentang pengembangan diri pribadi, dan lima tentang relasi dengan sesama saudara seiman!  Lima problem terburuk kita bicara soal relasi yang buruk dengan sesama saudara seiman, rekan sepelayanan, teman segereja. Dan rupanya itulah yang memang selalu menjadi masalah mengapa banyak gereja tidak dapat berkembang secara maksimal untuk Tuhan—karena disunity, ketidaksatuan keluarga Tuhan.  Ketidaksehatian. Selalu ada alasan kita punya masalah ketidaknyamanan dengan orang-orang tertentu yang membuat kita tidak dapat menjadi gereja, keluarga, komunita, seperti yang Tuhan ciptakan.

Dunia masa kini sangat jauh berbeda dengan cara hidup jemaat gereja mula-mula di abad pertama. Hari ini kita akan belajar melihat bahwa orang percaya dimaksudkan untuk berdiri sebagai satu komunita yang saling membangun.

Kisah Rasul 2:41-47. 41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Berkat Tuhan dicurahkan ditengah komunita orang percaya yang bersatu dalam nama Tuhan

Bagaimanakah ciri komunitas keluarga Allah yang diberkati ini?

Dari keteladanan kehidupan jemaat mula-mula, setidaknya ada 3 ciri komunitas yang diteladankan.

Ciri pertama, satu iman (v. 41-42) – Identitas Baru

41Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”

 Apa sesungguhnya yang mengubah kehidupan ribuan percaya pada saat gereja mula-mula berdiri? Saya yakin dan percaya bahwa imanlah yang membuat perbedaan. Iman kepada Kristus yang mengubahkan.

Satu iman yang mereka miliki bersama telah memberikan mereka satu identitas yang sebagai keluarga Allah. Mereka memiliki identitas yang sama sebagai anak Allah. Mereka menjadi satu di tengah segala perbedaan yang ada.

Sebelumnya mereka adalah orang-orang yang baru percaya itu hidup bertetanggaan dengan wajar dan biasa. Mereka bertemu juga sering dalam aktifitas keseharian mereka—misalnya, di pasar dan di jalan.  Namun mereka hidup sendiri-sendiri.  Mengurus kepentingannya sendiri-sendiri di dalam keluarga.  Namun sejak mereka bersama-sama mengenal Kristus, hidup mereka diubahkan secara drastis.  Mereka menemukan kesukacitaan di dalam Kristus. Mereka menemukan kesukacitaan dalam kebenaran kasih Allah yang baru mereka nikmati.  Mereka menemukan kesamaan mereka sebagai anak-anak Allah.

Gereja adalah tempat dimana umat Tuhan, orang berdosa yang telah diselamatkan, berinteraksi, membangun hubungan, bersinggungan bersama—dalam segala kelebihan dan kekurangan mereka, untuk kemuliaan Tuhan. Ya, apakah perikop ini berkisah tentang konferensi orang kudus sedunia? Tidak! Apakah itu kisah tentang apa yang terjadi di surga dan antara para penghuni surga? Bukan!

Ini adalah kisah nyata tentang sekitar tigaribu orang yang berlatar belakang pedagang, preman pasar, pengusaha, nelayan, pemungut cukai, guru, pekerja toko, dokter, para profesional, para kuli angkat barang, tukang cukur, pembuat roti, pelacur, mantan narapidana, anak-anak usia sekolah, ibu rumah tangga biasa, orang-orang “biasa” dan umum yang menerima keselamatan dari satu Tuhan!

Mereka punya sangat banyak perbedaan yang memisahkan mereka sebelumnya (status sosial, gender, si najis yang harus dijauhi karena dosa dan sakit, anak-anak yang belum “dianggap”), tetapi keselamatan dari satu Tuhan cukup untuk membuat mereka melepaskan semua perbedaan untuk hidup bersama dalam kesehatian.  Itulah yang sepatutnya terjadi dalam gereja Tuhan.

Matius 22:37-39. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Hukum yang terutama. Gereja adalah tempat kasih kepada Tuhan dan sesama menjadi nyata.

Kedua, satu Roh (v.44-46) – Tujuan Hidup Baru

42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah.

 Iman jemaat mula-mula dalam Kristus bukan sekadar memberikan mereka identitas baru sebagai anak Allah, mereka pun sekarang memiliki tujuan hidup yang baru untuk menyembah Tuhan.

Kehidupan beribadah mereka pun sangat fokus kepada Tuhan Yesus. Mereka bertumbuh dalam satu roh. Satu roh yang membuat perbedaan besar dalam kehidupan kerohanian mereka. Mereka bertumbuh bersama-sama… karena bersatu dalam penyembahan.

Tidak ada yang lebih buruk menghambat pertumbuhan rohani kita selain orang-orang percaya lain yang bermalas-malasan dalam hidup penyembahannya.  Jika kita memiliki teman-teman gereja yang bersemangat dan sepenuh hati dalam ibadah, kita pasti terdorong juga untuk menjadi bersemangat memuji Tuhan.  Sebaliknya, jika kita melihat rekan jemaat yang lesu dalam ibadah, datang semaunya, malas pelayanan, mundur dari kepengurusan, menjadi pasif, maka kita pun perlahan-lahan terpengaruh menjadi lesu dan malas.

Gereja harus menjadi komunita yang saling membangun dalam hidup penyembahan dan pelayanan. Karena disinilah kita bisa memberikan pengaruh rohani kita bagi rekan-rekan yang lain.

Ciri ketiga, satu visi (v. 46-47) – Cara Hidup Baru

44  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45  dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14  Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:13-14)

Iman yang baru dalam Kristus memberikan mereka identitas baru sebagai anak Allah, roh yang baru memberikan tujuan hidup yang baru untuk menyembah Tuhan, dan akhirnya satu visi yang sama memberikan mereka cara hidup baru untuk memuliakan Tuhan.

Kisah Rasul 2:44-45 memberikan gambaran betapa pentingnya orang percaya tetap bersatu. Mereka melakukan banyak hal dengan satu visi yang sama berbagi sukacita dalam kasih Kristus.  Mereka tidak lagi hidup sendiri-sendiri. Mereka melibatkan diri mereka ke dalam hidup komunita. Saling membangun. Saling memperhatikan. Saling menjaga kesaksian hidup mereka demi kemuliaan nama Tuhan.

 Namun kata “komunitas” menjadi tidak populer pada masa kini.  Setiap orang lebih suka hidup sebagai “saya” atau “aku”.  Tidak ambil pusing dengan “kamu” atau “mereka”.  Banyak orang menganggap yang paling penting adalah mengurus diri sendiri.  Saya bisa hidup sendiri.

Beberapa kecewa dengan kelompok-kelompok. Jemaat-jemaat gereja kecewa terhadap komunita gereja. Keluarga yang satu sakit hati kepada keluarga yang lain. Hamba Tuhan kecewa dengan jemaat. Jemaat kecewa dengan hamba Tuhan. Dan ini mudah sekali membuat kita kehilangan kepedulian kita akan komunita.  Betapa mudah kita jatuh menjadi orang-orang yang tidak peduli lagi.

Ilustrasi. Suatu hari di bulan November 2002, Jim Sulkers, seorang pensiunan berusia 53 tahun dari Winnipeg (Manitoba, Kanada), naik ke atas ranjangnya, menarik selimut untuk tidur dan tidak pernah terbangun lagi.  Hampir dua tahun kemudian, 25 Agustus 2004, kepolisian menerima telpon dari kerabat jauh Jim dan mendobrak masuk apartemen Jim—hanya untuk menemukan tubuh Jim dalam kondisi tidur.  Walaupun kotor berdebu, namun segala sesuatu dalam apartemen satu kamar itu tertata dengan rapi. Hanya makanan di kulkasnya saja yang rusak, dan kalendernya ketinggalan dua tahun.

Kematian Jim tidak diketahui selama bertahun-tahun karena beberapa alasan: Jim hidup terisolasi, jauh dari keluarganya, dan mayatnya tidak berbau karena kondisi medis tubuhnya yang khusus yang mencegahnya rusak dan berbau.  Sebagai tambahan, seluruh urusan dana pensiun yang diterimanya, terkelola secara otomatis dari banknya—termasuk pembayaran segala macam tagihan (telpon, listrik, air, dll) tidak pernah terlambat karena itu.

Terence Moran, seorang pendiri program Ekologi Media di New York University, berkata, “Jim Sulkers tidak pernah dianggap mati selama dua. Ia terus dianggap “hidup” selama dua tahun karena teknologi canggih yang dia gunakan.  Apa yang terjadi sesungguhnya adalah hancurnya (konsep) ‘komunitas’.”

[Lianne George, “A High-Tech Ghost Story,” MacLean’s (9-20-04); submitted by Daren Wride, Lake Country, British Columbia, Canada | Preachingtoday.com]

Jim hidup di tengah kota kecil yang padat. Setiap hari banyak sekali para tetangga dan orang asing yang lewat di depan rumahnya. Namun ia sama sekali tidak terperhatikan sebagai pribadi.  Tidak ada yang cukup peduli melihat halaman rumputnya tidak terawat dan tumbuh begitu tinggi. Tidak ada yang cukup peduli memperhatikan mengapa Pak tua Jim tidak kelihatan keluar masuk rumahnya setelah sekian lama.  Demikianlah Jim Sulkers meninggal tanpa seorang pun mengetahui keadaannya. Setiap orang begitu sibuk dengan urusannya sendiri, kepentingannya sendiri, sehingga tidak merasa perlu untuk memperhatikan yang lain.

Dunia berkembang dengan cepatnya. Pergeseran ke arah individualisme tidak tertahan.  Jangankan berelasi dengan tetangga, berbicara dengan suami, istri dan anak-anak di rumah pun menjadi sangat minim.  Dan hal serupa terjadi dalam gereja Tuhan masa kini.

Sebagai pengikut Kristus, sesungguhnya tidak seorang dapat berkata bahwa saya mengasihi Tuhan, tetapi tidak dapat mengasihi saudara seimannya. Tidak seorang pun dapat mempercayai Tuhan tanpa belajar hidup dalam komunita keluarga Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s