Christmas Is Not Your Birthday

Masa natal segera datang. Dan saya kira semua orang memiliki perasaan yang berbeda menjelang natal akhir tahun ini. Ada pengharapan, tentu saja, bahwa natal ini akan berlangsung dengan indah untuk menutup tahun ini.

Entah kapan dimulainya, kita menjadi terbiasa melewati natal setiap tahun dengan penilaian tertentu. Natal terbaik, natal terindah, natal yang buruk, natal yang menyedihkan, dsb. Kita tentu berharap bahwa pada akhirnya, setelah semua kemeriahan natal berakhir, kita dapat berkata, “Ini natal terbaik atau terindah buatku!” Ini harapan yang umum. Tetapi, faktanya ada saja waktunya kita bisa berkata, “Ini natal terburuk!”, “Natal tahun ini biasa saja”, dsb.

Sewaktu saya sekolah Minggu, natal selalu menyenangkan dan mudah menjadi natal “terbaik” selama ada hadiah natal, hadiah prestasi, snack dan bingkisan makanan ringan beraneka warna. Sekali waktu natal masa kecil saya menjadi buruk karena ada waktu saya memang tidak bersekolah minggu selama beberapa waktu sehingga hadiah natal saya minim. Bayangkan, perasaan saya melihat anak lain membawa lebih banyak hadiah natal dari saya karena mereka lebih rajin! Bad christmas.

Ada waktunya ketika saya masih kecil natal bernilai baik dan indah ketika saya berhasil tampil dengan baik dalam drama, paduan suara, gerak dan lagu, atau acara apapun pengisi acara natal di gereja.

Lalu, ketika beranjak remaja, natal menjadi semakin “asik” dilalui karena ritual christmas carol yang baru bagi saya yang berusia 12-13 tahun. Ini berarti perjalanan semalaman bersama dengan teman segereja (tanpa orangtua) berkunjung kerumah-rumah. Agendanya, 10 menit menyanyi lagu “Malam Kudus” di jalan di malam hari, lengkap dengan lilin di tangan, dan mengucapkan dengan keras “Selamat Hari Natal dan Tahun” beramai-ramai. Plus, 20 menit menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah. Wow, ini dia!

Natal terbaik yang bisa saya ingat ketika remaja terjadi tahun 1994, terlibat banyak persiapan dan pelayanan natal, christmas carol (10 menit acara, 20 menit makan di setiap rumah). Natal itu menjadi natal terindah karena satu faktor tambahan: itu natal pertama saya bersama pacar pertama saya, Vina! Haha. (Saya pikir, apalagi yang meng-indah-kan natal seorang remaja selain dua faktor itu: pacar dan banyak makanan gratis di depan mata!)

Tentang natal yang buruk? Ya, saya juga punya pengalaman itu. Terjadi tahun 2001 dan 2002, tanpa pelayanan apapun di gereja, liburan seminari yang sepi, tanpa pacar. Masa putus terjadi. Bad christmas.

Saya percaya setiap anda yang hadir hari ini juga punya pengalaman serupa. Kita memiliki perasaan tertentu berkenaan dengan natal. Kita mengharapkan semua yang baik dan indah terjadi ketika natal, tetapi faktanya hal-hal buruk juga bisa terjadi. Keluarga bisa bertengkar. Keuangan dapat memburuk. Anak atau orangtua yang kita kasihi sakit. Seseorang bisa dipecat. Orang-orang tetap bisa meninggal di masa natal. Kebenarannya adalah masalah dan kesulitan tidak pernah pergi berlibur dari kehidupan kita, termasuk saat natal. Problem and trouble never takes a holiday, even at christmas.

Ada beberapa hal yang dapat dengan mudah membuat kita kehilangan kesukacitaan yang Tuhan berikan ketika natal tiba: [1] masalah kesehatan, [2] masalah dalam usaha dan pekerjaan, [3] masalah emosional pribadi, [4] masalah dalam keluarga, dan [5] masalah relasi dengan Tuhan.
Ada lagi soal: [A] kesibukan studi atau pekerjaan, [B] kesibukan pelayanan yang melelahkan, [C] keinginan atau harapan yang tidak terpenuhi. “Rasa” natal kita (baik atau buruknya) harus diakui akhirnya sangat bergantung kepada hal-hal semacam ini. Natal yang seharusnya indah bisa berakhir dengan buruk.

Tetapi, seharusnya kita tidak aneh bahwa tidak ada natal yang sempurna—karena bahkan natal pertama pun bukanlah gambaran tentang natal yang sempurna. Di tengah segala keajaiban dan kesukacitaan, sesungguhnya terjadi banyak hal yang tidak menyenangkan. Terjadi banyak hal yang menyakitkan. Terjadi banyak luka.

Jika kita memperhatikan lagi kisah natal dalam Matius 2:13-23, kita akan menemukan bahwa ada hal-hal buruk, menyakitkan dan luka yang terjadi. Tetapi, di tengah semua itulah kehadiran bayi natal memberikan pengharapan.

Matius 2:13-23. 13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” 14 Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” 16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. 17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: 18 “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Natal dapat dipenuhi oleh ketidaknyamanan (v. 13-15)

Bagi beberapa orang natal dapat berarti kesibukan dan pengeluaran ekstra yang membuat sangat tidak nyaman. Banyak waktu dihabiskan untuk mengerjakan ini dan itu. Persiapan dekorasi di gereja, di rumah. Persiapan pelayanan natal yang mendesak. Beberapa orang bisa stres berusaha memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik. Belum lagi, pekerjaan menjelang akhir tahun justru sangat sibuk bagi beberapa orang. Audit akhir tahun. Belum lagi kalau ada anak atau pasangan yang minta liburan di masa natal dan akhir tahun yang pasti mahal. Natal bisa dengan mudah dipenuhi oleh banyak hal-hal yang tidak menyenangkan. Hal yang serupa juga terjadi bagi Yusuf dan Maria di natal pertama.

Masalah pertama, Maria hamil. Mereka bertunangan, tetapi belum menikah. Yusuf sudah siap melepaskan diri dari semua masalah itu, tetapi malaikat Tuhan mencegahnya. Bagaimana Yusuf stres memikirkan bagaimana cara menceraikan Maria baik-baik. Bagaimana menjelaskan hal itu kepada papa mamanya dan seluruh keluarganya bahwa Maria hamil. Bagaimana perkataan orang banyak nantinya.

Tetapi itu baru masalah pertama, tidak lama setelah itu, kaisar mengadakan sensus besar-besaran dan semua orang harus kembali ke kota kelahirannya dan membayar aturan pajak yang baru. Itu perjalanan yang tidak dipersiapkan oleh Yusuf. Pengeluaran pajak baru yang juga tidak masuk dalam budgetnya. Padahal, Maria segera akan melahirkan.

Yusuf mengumpulkan semua sisa miliknya, berangkat ke Betlehem dan menemukan masalah lainnya, tidak ada tempat di penginapan. Tidak ada pilihan karena Maria hampir melahirkan, Ia tinggal disatu-satunya akomodasi yang bisa diberikan pemilik penginapan: di kandang. Di kandang yang bau itulah, tanpa bantuan dokter, tabib, bidan; tanpa peralatan steril; dan tanpa obat penahan sakit apapun, Maria melahirkan di kandang dengan selamat.

Tetapi, situasi tenang tidak berlangsung lama, setelah Yesus dilahirkan, seorang malaikat datang membawa pesan pada Yusuf (v. 13-15) untuk membawa Maria dan bayi Yesus lari ke Mesir dan tinggal di sana karena Herodes berencana membunuh anak itu.

Bagaimana anda mungkin meresponi semua masalah dan ketidaknyamanan ini? “Tuhan, cukuplah! Mengapa Tuhan tidak membuat Herodes terkena serangan jantung atau stroke saja? Kan beres. Apa kami belum cukup susah selama ini? “ Tetapi Yusuf menyiapkan keluarga kecilnya dan segera berangkat ke Mesir.

Berulang-ulang kali Yusuf dan Maria bertahan melalui semua ketidaknyamanan itu demi anak mereka. Tetapi perhatikan hal yang lain: dalam setiap ketidaknyamanan dan masalah, Tuhan menyediakan pertolongan. Tuhan mengirimkan malaikat untuk menjelaskan apa yang sedang dikerjakannya pada Yusuf dan Maria. Ia menyediakan dana untuk ke Betlehem. Menyediakan tempat di kandang. Setidaknya, masih ada tempat. Dia mengirimkan harta berharga orang-orang majus untuk mendanai aksi penyelamatan dari kekejaman Herodes.

Lagi dan lagi, berulang-ulang kali kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu menyediakan pertolongan untuk menolong kita melewati masalah dan ketidaknyamanan yang kita alami. Tuhan mungkin tidak menyingkirkan semua masalah kita, tetapi Ia selalu memberikan kekuatan untuk melaluinya. Dia bukan Santa Klaus yang memberi semua yang kita minta, tetapi Ia selalu dan pasti menyediakan kebutuhan kita. Dia mungkin tidak akan mengirim petir untuk menyambar orang yang melukai dan menjahati kita, tetapi Tuhan selalu menjaga dan memimpin kehidupan kita.

Jika natal kita dipenuhi oleh ketidaknyamanan, ingatlah bahwa Tuhan memenuhi kita dengan pertolongan dan anugerahnya.

Natal dapat dipenuhi oleh luka (v. 16-18)

This is the truth… masalah tidak pernah berlibur—bahkan ketika natal. Kita masih bisa terluka.
Pada malam natal sekalipun seseorang bisa dijambret, sebuah rumah bisa kemalingan, seorang anggota keluarga bisa sakit tiba-tiba. Hal-hal buruk terjadi. Kehilangan yang menyakitkan bisa terjadi.

Ilustrasi. Dua tahun lalu, ada sebuah berita di Amerika tentang seorang ibu dan bayinya yang baru dilahirkan tiba-tiba berhenti bernafas pada hari natal. Kisah ini menjadi heboh di Amerika karena tidak berapa lama setelah dinyatakan meninggal oleh dokter, si ibu dan bayinya tiba-tiba bernafas dan hidup lagi. Stacy Hermanstorfer, si ibu meninggal selama 30 menit, sementara bayinya meninggal selama 5 menit. Bayi kecil itu sampai disebut sebagai Coltyn, The Christmas Miracle Baby. Kisah yang berakhir indah di hari natal, tetapi tidak semua masalah berakhir bahagia pada saat natal.

Pada natal pertama sesungguhnya malah ada begitu luka, kehilangan dan kepahitan yang muncul memenuhi langit kota Betlehem. Herodes yang meledak murkanya karena dikhianati oleh para majus memerintahkan untuk membunuh semua anak berusia di bawah dua tahun.
Bayangkan bagaimana perasaan orangtua yang anaknya dibunuh. Bayangkan berapa banyak orangtua yang terbunuh karena berusaha menyelamatkan anak mereka. Mereka semua yang menjadi korban bahkan tidak tahu mengapa perintah yang begitu kejam bisa dikeluarkan. Mereka bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bayangkan berapa banyak pertanyaan “mengapa” yang muncul malam itu.

Kita juga mungkin melewati natal dengan pertanyaan yang sama. Tuhan mengapa hal ini terjadi padaku? Mengapa engkau mengambil orang yang kusayangi? Mengapa aku harus melewati natal ini sekali lagi dengan perasaan yang sama? Mengapa Tuhan belum memberikan apa yang kudoakan selama bertahun-tahun? Mengapa Tuhan membiarkan aku terluka dan merasa sakit natal ini?

Saya tidak punya jawaban atas semua pertanyaan semacam itu. Tetapi, sekalipun saya mengetahui semua jawabannya, saya tidak yakin itu akan memulihkan luka dan rasa sakit yang anda alami. Yang kita dapat ketahui dengan pasti adalah fakta bahwa Tuhan ada di tengah segala pergumulan yang kita alami. Dia hadir di sisi kita. Tuhan menjanjikan kehadiranNya dalam kita.

Mazmur 34:19-20. 19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. 20 Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu

Ilustrasi. Seorang pegolf profesional, Paul Azinger, didiagnosa kanker yang kemudian memaksanya untuk pensiun dari karirnya yang gemilang. Suatu kali Ia menulis tentang reaksinya setelah menerima diagnosa penyakit itu: “Saya dengan jujur berkata bahwa saya tidak pernah berkata, ‘mengapa saya, Tuhan?’ Ada dua jalan anda dapat bereaksi setelah mendapat kabar buruk seperti ini. Ada dapat berkata, ‘Mengapa saya, Tuhan? Mengapa saya?’ Atau, anda dapat menghadapinya saja dan datang pada Tuhan dan bersandar padaNya untuk mendapatkan ketenangan dan pengharapan. Itulah yang saya lakukan.”

Setahu saya, Tuhan hampir tidak pernah menjawab pertanyaan “mengapa” yang diajukan padaNya. Dia juga tidak selalu mengambil rasa sakit dan kesedihan kita. Jadi apa yang dapat kita lakukan? Berlari pada Yesus dan bersandar padaNya seperti seorang anak yang bersandar pada bahu ayahnya.

Jadi kesimpulannya, natal tidak menjanjikan kehidupan yang lepas dari masalah, ketidaknyamanan dan luka. Tetapi, ini kebenaran yang penting untuk kita pahami, yaitu bahwa natal menawarkan sesuatu kepada mereka yang sedang terluka dan dalam pergumulan.

Natal memberikan pengharapan yang baru

Malam ketika bayi Yesus dilahirkan sesungguhnya pengharapan baru lahir dalam kehidupan semua orang.

Malam ketika para gembala menerima pesan malaikat tentang kelahiran bayi natal, seorang tunarungu bermimpi bahwa suatu hari kelak Ia akan mendengar.

Seorang yang buta sejak lahir boleh bermimpi bahwa Ia akan melihat keindahan dunia.

Seorang kusta yang telah kehilangan banyak jari kaki dan tangannya mendapatkan pengharapan bahwa tubuhnya akan menjadi utuh kembali.

Seorang wanita yang mengalami pendarahan selama duabelas tahun mendapatkan kesempatan untuk disembuhkan.

Seorang pria yang telah mati suatu hari kelak akan berkata, “Aku pernah mati, tetapi jenazahku tidak sampai ke kuburan karena seseorang menghidupkan aku kembali! Aku pernah mati, dan aku tidak mempunyai kuburan.”

Inilah alasan kita merayakan natal. Kita merayakan pengharapan yang Tuhan bawa melalui bayi natal itu. Kita merayakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Kita merayakan Tuhan.

iPad: Hadiah Natal Paling Ditunggu Anak-anak. WASHINGTON, KOMPAS.com — Mendekati Black Friday atau masa promo besar-besaran menjelang liburan Natal di AS bagi sebuah produk, anak-anak paling banyak mengincar iPad. Hal tersebut mencuat melalui survei yang dibikin oleh Nielsen terhadap anak-anak berusia 6-12 tahun pada awal pekan ini. Dari gadget yang ada di pasaran, 31 persen anak-anak AS yang disurvei Nielsen menginginkan iPad dan menyusul iPod Touch. Hanya 11 persen dari anak-anak itu yang menginginkan e-reader dan hanya 12 persen yang menginginkan Microsoft Xbox 360. Bandingkan dengan Nintendo yang diimpikan oleh 25 persen anak-anak atau Sony PlayStation 3 yang diinginkan oleh 21 persen anak-anak.

Tidak dapat dipungkiri bagi banyak orang—bukan hanya anak-anak—natal hampir identik dengan suasana, keceriaan, hadiah, event perayaan, momen kebersamaan, dan hadiah. Dan disanalah akhirnya seringkali rasa bahagia-tidak-bahagia kita tertambat. Apakah ini natal terbaik, indah, biasa atau bahkan terburuk.

Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak anak yang gagal merasakan kesukacitaan natal karena tidak mendapat hadiah yang mereka inginkan. Atau, liburan yang diharapkan.

Berapa banyak karyawan dan pengusaha yang tidak merasakan kesukacitaan natal karena terjerat kesibukan pekerjaan yang meningkat di akhir tahun.

Berapa banyak orang yang tidak dapat merasakan kesukacitaan natal karena masalah kesehatan, usaha pekerjaan, problem emosional, masalah dalam keluarga dan hubungan dengan Tuhan yang buruk.

Berapa banyak yang gagal menemukan (lagi) kasih Tuhan karena keinginan pribadi yang tidak terpenuhi natal ini.

Saya berdoa agar kita semua tidak melewati dengan sia-sia seperti itu. Mari siapkan hati kita untuk menjelang kelahiran Tuhan. Mari siapkan diri kita untuk menikmati natal ini dengan kesukacitaan surgawi seperti yang Tuhan rindukan bagi kita.

Epilogue. Saya tidak tahu apa yang anda inginkan dan harapkan natal ini. Beberapa orang mungkin mengharapkan perayaan natal yang gegap gempita. Beberapa mungkin menginginkan liburan bersama keluarga. Beberapa mungkin hanya ingin santai di rumah. Beberapa mungkin ingin Blackberry baru. Beberapa mungkin mengharapkan kehamilan sebagai hadiah natal dari Tuhan. Beberapa mungkin hanya ingin beristirahat pada akhir tahun. Beberapa mungkin mengharapkan khotbah natal yang menyentuh.

Saya tidak tahu apa yang anda inginkan. Tetapi saya ingin berkata bahwa jika hal-hal semacam itulah yang kita inginkan, natal ini mungkin sekali akan berakhir dan berlalu begitu saja arti jika itu tidak terpenuhi. Christmas is not our birthday!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s