Ibadah yang Inspiratif

Dalam bukunya “Pertumbuhan Gereja yang Alamiah”, Christian Schwarz menjelaskan bahwa salah satu kebutuhan yang penting dalam gereja adalah adanya ibadah yang sungguh-sungguh memberikan pengalaman yang inspiratif bagi jemaatnya. Kriteria yang membedakan antara gereja yang bertumbuh dengan gereja-gereja yang mandeg adalah pengalaman penyembahan yang dirasakan sebagai pengalaman yang inspratif, menyegarkan, mencerahkan kehidupan pribadi-pribadi yang hadir dalam gereja. Indikasi umumnya adalah bahwa jemaat dapat merasakan bahwa pergi ke gereja adalah hal yang menyenangkan.

Saya sependapat dengan Schwarz bahwa ibadah yang inspiratif merupakan ibadah yang menyenangkan, namun lebih dari itu, saya percaya bahwa ibadah yang inspiratif bukanlah sekadar ibadah yang kita nikmati sebagai pujian penyembahan yang menyentuh hati saja, tetapi penyembahan yang mengubahkan kehidupan penyembah.

Ilustrasi. Suatu kali ada satu keluarga yang baru mengikuti ibadah di sebuah gereja. Dalam sebuah perjalanan pulang, sang ayah mulai komplain dengan begitu banyak hal yang tidak menyukakan hatinya dalam ibadah itu. Musiknya terlalu slow. Kuno. Khotbahnya terlalu panjang. Kursinya terlalu keras sehingga tidak nyaman. Pengurus gerejanya kurang perhatian. Hmm malas juga ke gereja lagi. Tapi tiba-tiba si anak menyahut dari bangku belakang, “Yach papa.. hitung-hitung itu pertunjukan yang lumayan bagus selama dua jam untuk harga senilai seribu rupiah.”

Sindiran itu sangat tajam bagi sang ayah—juga bagi banyak jemaat bergereja dimana pun, seharusnya. Anda memberikan persembahan seribu-dua ribu rupiah saja tapi mengharapkan “acara” yang bagus untuk dinikmati. Padahal untuk makan bakso aja limaribu rupiah tidak cukup. Si ayah pun terdiam.

Dari cerita ini sesungguhnya kita dapat menemukan diri kita sendiri. Ada banyak orang yang memang datang beribadah untuk mendapatkan atau merasakan sesuatu. Kita ingin “pertunjukan” yang bagus untuk kita nikmati di gereja. Kita ingin menerima yang terbaik dari ibadah kepada Tuhan, tetapi kurang punya kerelaan untuk memberi bagi Tuhan.

Beberapa minggu belakangan ini saya pribadi terus memikirkan satu hal: ibadah dan penyembahan hari Minggu sesungguhnya bukanlah sekedar “pertunjukan” untuk memberikan rasa puas bagi kita yang hadir. Kita yang hadir dalam ibadah disebut sebagai penyembah. Penyembah. Artinya, bukanlah kita yang disembah, bukan kita yang harus mendapatkan sesuatu; tetapi, Allah yang kita sembah untuk Dia sajalah kita membangun ibadah seperti ini. Ibadah bukanlah soal kita yang hadir, bukan soal penyembah, bukan untuk penyembah; tetapi untuk Tuhan saja.

Baiklah. Lalu, apakah memang kita tidak seharusnya mendapatkan sesuatu dari ibadah yang kita bangun dan hadiri? Adakah kepuasan yang kita mungkin dapatkan dari ibadah? Ada! Kepuasan kita adalah bahwa kita puas memberikan segenap hati, jiwa dan pikiran kita untuk memuaskan dan menyenangkan hati Allah. Sebaliknya, kepuasan Allah adalah Ia menikmati penyembahan kita. Kesenangan Allah adalah bahwa kita pun puas menikmati penyembahan yang kita naikkan.

Bridge. Penting bagi umat Tuhan untuk melakukan segala sesuatu untuk mempersembahkan penyembahan yang inspiratif, penyembahan yang mengubahkan kehidupan kita bagi Tuhan. Saya ingin saudara benar-benar mengerti apa yang saya katakan. Apa yang kita lakukan untuk membangun ibadah yang inspiratif?

1. Ibadah yang inspiratif memuliakan nama Tuhan

Ketika Yesaya masuk ke dalam hadirat Allah, jelas sekali bagaimana hatinya di hadapan Tuhan. Ia melihat Tuhan hadir dan duduk di atas tahtanya yang tinggi menjulang. Responnya merupakan indikasi keyakinannya yang teguh akan Allah. Ia merasakan ketakjuban akan Tuhan. Para malaikat surgawi menyanyikan, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya” [v.3]. Jelas sekali ditunjukkan di sini bahwa tujuan utama kita datang bersama ke gereja dan beribadah adalah untuk menyembah dan memuliakan Tuhan.

  • Kita datang untuk mengalami kehadiran Tuhan
  • Kita datang untuk merasakan otoritas ilahi Allah
  • Kita datang rutin setiap minggu untuk memperbaharui komitmen untuk taat pada firman Tuhan
  • Kita seharusnya datang, kita berharap untuk mengalami Tuhan. Bertemu muka dengan muka dengan Allah yang hidup.

Allah menciptakan kita dengan keinginan untuk memuji Dia, menyembah Dia. Dan untuk itulah kita datang beribadah. Untuk Tuhan, bukan untuk kita.

Ketika University of Tennessee memenangkan kejuaraan football pada 1998, mereka merayakannya dengan luar biasa. Kemeriahan mewarnai seluruh kota yang sedang bersukacita tersebut sehingga terjadilah sebuah perayaan hebat yang tidak direncanakan sebelumnya. Para pendukung dan warga kota berlompatan, bernyanyi, jingkrak-jingkrak di jalan-jalan. Tanpa di komando, mereka pun berkumpul di stadium olahraga yang sangat besar di kota itu. Mereka masuk ke stadium, memenuhi seluruh tempat duduk. Puluhan ribu orang hadir di sana. Memenuhi stadium dengan warna orange da sorak-sorai.

Gemuruh kemeriahan meledak semakin hebat menggelegar ketika anggota tim football memasuki lapangan stadium tersebut. Puluhan ribu orang bersorak-sorai bagi mereka. Sesungguhnya mengapa puluhan ribu orang itu hadir di sana? Tidak seorang pun yang hadir mengeluh, “Ach acara apa begini ini… ngga ada yang menarik, tidak ada sesuatu pun yang saya rasakan.” Mereka semua berkumpul dengan luapan emosi kesukacitaan.

Event itu tergolong sangat sangat sukses bukanlah karena pertunjukkan yang bagus. Tidak ada pertandingan di stadium itu sama sekali di sana. Tidak ada tiket yang dijual. Bahkan, tidak ada penyelenggara acara. Para pendukung, mereka yang hadir pada event itu datang dan kemudian pulang dengan kesukacitaan karena mereka tahu alasan mereka datang. Mereka tidak datang untuk dihibur atau dipuaskan, tetapi mereka berkumpul dengan kerelaan dan dorongan hati untuk meninggikan tim football yang sangat mereka hargai itu. Mereka seakan berkata, “Kami harap seluruh anggota tim tahu betapa kami sangat menghargai mereka. Kami berharap mereka merasakan betapa kami sangat peduli.”

Hati seperti inilah yang seharusnya kita miliki setiap kali kita datang dan pulang dari gereja, “Saya harap Tuhan menerima penyembahan saya. Saya ingin Tuhan mengerti betapa saya sangat mencintaiNya, betapa saya akan selalu setia kepadaNya.” Banyak di antara kita yang gagal dalam hal ini dalam ibadah kita. Termasuk saya.

2. Ibadah yang Inspiratif Memimpin kepada Ketakjuban

Seperti tadi telah dikatakan, ketika datang ke bait suci dan bertemu dengan Tuhan, Yesaya takjub. Kita tentu mengimani bahwa Allah ada di mana-mana, tetapi firman Tuhan berkata jika ada dua-tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka Tuhan hadir. Artinya, pasti ada sesuatu yang berbeda dan istimewa ketika kita datang bersama dan membangun ibadah kita bersama dalam ketakjuban akan Tuhan. Ini penting. Sebab ada banyak jemaat Tuhan yang semakin lama semakin tidak menghargai kehadiran Tuhan.

Jika kita bertemu Bapak Presiden dalam sebuah ruangan, kita tentu tidak serta merta berkata santai, “Halo Susilo, cak mano kabar kau?” Kita tentu sedikit banyak merasa terintimidasi. Tidak dapat sembarang bicara. Harus menjaga tingkah laku. Menjaga cara bicara. Semuanya karena kita merasakan semacam atmosfir kesungkanan, ketakjuban.

Firman Tuhan menjelaskan bahwa dengan ketakjuban seperti itulah kita seharusnya datang beribadah menyembah Tuhan. Dalam Wahyu pasal 1, ketika Yohanes menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhan Yesus… ia serta merta tersungkur seperti orang mati (tidak berani sembarang bergerak) di depan kaki Tuhan (Why. 1:17). Luar biasa!

3. Ibadah yang Inspratif Menyadarkan akan Dosa

Semakin dekat dengan Tuhan, kita semakin menyadari betapa tidak layaknya kita di hadapanNya. Kita mungkin berkata, “Saya telah berusaha untuk hidup seturut kehendak Tuhan, namun rasanya saya justru tertekan dan tidak menjadi lebih baik.” Saya cukup sering mendengarkan beberapa orang mengatakan hal ini, namun berhenti dan menjauh dari Tuhan bukanlah jalan keluar! Dengarlah baik-baik, semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin kita akan menemukan semakin kita membutuhkan Dia untuk menolong kita bertumbuh. Semakin kita intim dengan Tuhan, semakin Tuhan leluasa menolong kita. Jika kita berhenti berusaha dan menghindar dari Tuhan, selamanya kita akan mati dalam dosa kita.

Lihatlah Yesaya! Ia adalah seorang nabi yang besar, hebat dan sangat berpengaruh. Tetapi ketika berdiri di hadapan Tuhan, responnya hanyalah, “Celakalah aku, aku berdosa…” (v.5). Tetapi karena ia begitu dekat dan begitu rela mengakui dosanya, Tuhan pun begitu leluasa untuk menghapus dosanya.

Illustration: Paul Eschelman is a man whose name you may have heard. He’s responsible for most of the Jesus films being sent around the world. He’s sent millions of them. He was talking one time about the Jesus film being shown at a refuge camp in Mozambique, Africa. He said most of those folks had never heard of Jesus, never heard anything about the Bible. They just fell in love with Jesus through the Jesus film; but when Jesus was arrested, beaten, and led away to be crucified, they began to weep and wail and rush to the screen. They created such a stir, such noise, and such dust that they had to stop the film. He said, “The sense of God’s presence—His power and His holiness—was so great that no one could do anything but confess sins.” When we worship God, we should have such an awesome awareness of Him and of who we are that we confess our sin.

4. Ibadah yang Inspratif Memberikan Sukacita

Yesaya mengakui dosanya, Tuhan menyucikan dia. Betapa ia sungguh bersukacita. Demikian juga kehidupan kita bersama dengan Tuhan. Tuhan tidak menginginkan kita terus dalam rasa bersalah karena dosa. Tuhan Allah memanggil kita untuk menikmati Dia dengan sukacita.

Kita mengakui dosa kita, Tuhan menguduskan kita…

Kita meminta dalam Tuhan, Tuhan memberikan…

Kita mengetuk, Tuhan membukakan…

Kita meminta roti, Tuhan tidak akan memberikan batu…

Dan semua inilah alasan sukacita kita dalam ibadah.

Illustration: Eschelman went on to say, “Finally things settled down, and they could start the film again. Then they realized that the crucifixion wasn’t the end of the story.” When Jesus was resurrected, “The crowd exploded as if a dam had burst. Everyone began cheering and dancing and hugging one another and jumping up and down.” The invitation was given, and more than 500 people, almost everybody in the crowd, came forward. The next day that 40-member Mozambique refuge church had 500 new members who had come to be a part of the worship service (Paul Eschelman, The Touch of Jesus, Orlando, Fla., New Life Pub., 1996).

Once we recognize that we are in a sinful state and we’re reminded of God’s grace and forgiveness and that Jesus paid the price for our sin, it’s a time for rejoicing and happiness. Read Psalm 100:1-3.

5. Ibadah yang Inspiratif Mendorong untuk Melayani

“Ini aku, utuslah aku.” Begitu luar biasanya keindahan yang Yesaya nikmati bersama Tuhan sehingga ia tidak ragu memberikan dirinya untuk melayani. Jika kita sungguh ingin menyembah Tuhan, jika kita sungguh ingin hidup dalam penyerahan diri yang utuh pada Tuhan, kita sepatutnya memberikan diri dengan ketulusan untuk melayani Tuhan.

Dari mana kita mendapatkan penguatan untuk tetap hidup melayani seturut kehendak Tuhan?

Melalui pemberitaan firman Tuhan yang kita dengarkan dalam setiap ibadah. Lagu pujian penyembahan selalu dapat memberikan inspirasi yang menggugah, dan selalu ada dorongan dan penguatan dalam mendengarkan menikmati firman Tuhan.

Jika kita sungguh ingin menyembah Tuhan, jika kita sungguh ingin hidup dalam penyerahan diri yang utuh pada Tuhan, kita sepatutnya memberikan diri dengan ketulusan untuk melayani Tuhan. Melakukan apa pun yang Tuhan inginkan kita kerjakan sebagai pelayanan kita. Pelayanan dan kesaksian hidup kita. Persembahan kita yang tulus kita berikan untuk Tuhan. Pengucapan syukur kita.

One thought on “Ibadah yang Inspiratif

  1. kegereja/beribadah unt mendapatkan kepuasan,kelepasan,kesegaran jiwa yg penat sehingga plg menjadi segar jiwa ini apa bisa dibenarkan?sehingga mencari nuansa,suasana,pengkotbah atau wl nya yg mampu mengairahkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s