Pemenang vs Pecundang

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” — Roma 8:37

Kebanyakan orang hidup dengan kegagalan yang mematikan.  Mereka yang hidup dalam tekanan kegagalan akan menjadi orang “hidup-tapi-mati”.

Hidup dalam kemiskinan, sakit penyakit, kegagalan dalam sekolah, kegagalan dalam usaha, gagal menyenangkan orang tua, gagal dalam relasi kasih sayang… kegagalan dalam membuat kita terpukul dan kehilangan diri untuk maju dan berkembang.

Karena pemikiran-pemikiran seperti inilah banyak orang hidup dan tidak pernah menjadi lebih baik.  Mereka gagal bukan karena peristiwa atau keadaan atau kejadian tertentu, tetapi mereka menjadi orang yang gagal karena berhenti berusaha.

Gagal karena hanya tahu menyalahkan keadaan. Gagal karena hanya bisa menyalahkan orang lain.

Apakah Tuhan memang membiarkan kita menjadi pecundang? Apakah Tuhan sengaja membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita agar kita jatuh/gagal? Untuk apa Tuhan membiarkan kita mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan?

Dalam Alkitab ada sebuah kisah yang menarik mengenai kehidupan yang diubahkan…

“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” [Yoh. 9:2-3].

Tuhan ingin berkata, “Bukan salah siapa-siapa ia menjadi buta, bukan salah orang tuanya, bukan pula dosanya sendiri… tetapi ia menjadi buta untuk dapat memuliakan Allah dalam hidupnya.”

Si buta ini bisa saja menjadi orang yang kerdil.  Hidup mengasihani diri karena ia buta.  Meminta-minta untuk makan. Mengemis.  Dan ia bisa saja memandang rendah “usaha”  Tuhan Yesus untuk menolongnya.

Kita percaya pasti sejak kecil orangtuanya sudah membawanya kemana-mana untuk mencoba menyembuhkan matanya… begitu banyak dokter yang katanya hebat dicoba, begitu banyak terapi dicoba untuk membuatnya melihat… begitu banyak obat mungkin yang dicobanya dengan penuh harap. Namun… tidak ada satu pun yang berhasil.

Perhatikan dalam perikop tersebut, Ia bahkan tidak meminta Yesus untuk menyembuhkannya.  Berbeda dengan orang kebanyakan yang mencari pertolongan dan mukjizat penyembuhan dari Yesus.  Mengejar Yesus kemana pun Ia pergi. Berusaha menyentuh Yesus untuk mendapatkan mukjizat. Menjamah jubahnya. Si buta ini sama sekali tidak memohon pertolongan seperti yang lain. Nampaknya ia memang tidak lagi berharap, ia sudah terlalu terbiasa dengan gelap gulitanya dunia.  Ia sudah menyerah.

Namun suatu hari tiba-tiba saja hidupnya berubah…

Tuhan Yesus sedang lewat di dekatnya, muridnya bertanya… dan Tuhan menjawab… lalu tiba-tiba saja Yesus Tuhan meludah ke tanah, mengaduk ludah tersebut, dan mengoleskannya pada matanya. “Pergilah, basuhlah diri dalam kolam Siloam.”  Dan si buta pun melihat!

Sebenarnya ia dapat saja berkata, “Ah sudahlah Yesus, tidak perlu repot-repot mengurusi mataku… tidak bisa sembuhlah. Aku juga udah terbiasa kok.  Pakai segala jenis obat dan terapi saja tidak sembuh, masak pake ludah dan lumpur bisa sembuh?  Tidak masuk akal.  Sudah, pergilah… biarlah aku di sini aja, buta seperti biasa.  Aku tidak keberatan kok.”

Inilah ciri orang gagal atau pecundang?

  • Tidak memiliki daya juang
  • Tidak memiliki mimpi untuk diperjuangkan
  • Membiarkan diri dikuasai oleh pengalaman atau keadaan buruk
  • Membiarkan sifat buruk pribadi tanpa berjuang merubahnya
  • Selalu memiliki alasan untuk menghindari kewajiban hidup
  • Menyerah pada “nasib”
  • Banyak meminta pendapat namun tidak dapat memutuskan sesuatu sendiri
  • Hidupnya tidak berkembang, selalu begitu-begitu saja setiap tahun
  • Beberapa pecundang senang berusaha membuktikan “diri” dengan cara dan motivasi yang sangat salah > pada akhirnya, menjebak diri sendiri.

Kita sering menyalahkan keadaan.  Menyerah.

Saya menjadi seperti ini karena saya tidak mendapat kesempatan.  Saya memang tidak akan populer karena saya tidak menarik.  Saya tentu tidak akan bisa berhasil karena banyak orang terus mengolok-olok saya.  Mana mungkin saya bisa kaya, papa mamaku saja miskin.  Saya tidak mungkin menjadi WL karena saya rasanya tidak bisa menyanyi.  Wajar saja saya sulit mengendalikan emosi, papa saya selalu marah pada kami setiap hari.  Normal saja saya tidak bisa berhenti menyontek, semua orang di sekolah melakukannya.  Wajar kok saya berhenti, siapa yang tahan dimaki-maki terus setiap hari seperti itu.

Kita tidak ingin dipersalahkan.

Seandainya saja dia lebih sabar, mungkin kami tidak perlu berpisah… Karena guru itu benci pada saya saja makanya saya nilaiku jelek…

Namun… perhatikan si buta itu. Ketika Tuhan menjamah dia, Ia langsung melangkah dengan iman. Keputusannya sendiri.  Dan… ia menikmati berkatnya sendiri pula!

Ia berhenti memikirkan kegagalannya, kepahitan… ia menghadapi semua pergu-mulannya dengan iman.

Dan menjadi seorang pemenang!

Pilihan di tangan kita…

Ingin hidup begitu-begitu saja sebagai pecundang yang hanya tahu menyalahkan keadaan?

Atau…Melangkah dengan iman sebagai pemenang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s