Mengalami Firman

Apa yang masuk dalam pikiran manusia selalu mempengaruhi hidup dan tindakan seseorang. Itulah yang menjadi tesis dasar Richard Brodie dalam bukunya “Virus of the Mind”.  Kita dapat memperbaiki kehidupan kita dengan menyadari adanya virus-virus yang menggerogoti akal budi kita dan mempengaruhi penilaian kita akan kehidupan.  Dengan menanamkan nilai-nilai yang lebih “sehat” maka pemaknaan kehidupan akan menjadi berbeda.  Kita dapat menentukan sendiri kebahagiaan kita dengan menyetel pikiran dan akal budi kita.

Tesis ini ada benarnya.  Seringkali kita menilai kebahagiaan kita dengan standar yang keliru, dan terlalu tinggi sehingga tidak pernah merasa bahagia. Jika kita dapat menurunkan standar kita untuk mengukur kesuksesan, maka kita akan lebih mudah menggapainya kebahagiaan—tanpa harus selalu stres dengan apa yang tidak tercapai.

Namun, kesalahan fatalnya adalah bahwa kebanyakan orang akhirnya mengabaikan Tuhan, dan merasa dapat mencapai kebahagiaan dengan usahanya sendiri.  Mengatur pikiran dan kerja keras cukup, tidak butuh Tuhan untuk menolong.  Inilah yang ditanamkan oleh dunia.  Inilah yang juga sering secara tidak sadar tertanam dalam benak banyak orang Kristen.

Hasilnya, firman Tuhan pun tidak lagi dianggap sebagai hal yang berharga dan penting.  Kita sibuk mengejar kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dengan usaha kita sendiri, tanpa Tuhan. Dan beberapa kelompok orang bahkan mungkin menganggap Alkitab sebagai virus yang harus dibuang untuk dapat mencapai kebahagiaan tanpa tuntutan ini-itu.

Ilustrasi. Pada tahun 1995, Robert Harlan divonis bersalah dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan secara keji terhadap seorang pelayan bar.  Dia dihukum mati. Namun lebih dari sepuluh tahun kemudian, Kejaksaan Agung Colorado mencoret hukuman mati dari daftar alternatif hukuman seorang narapidana.  Yang menarik adalah bahwa alasan pencabutan aturan ini ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan bukti-bukti baru atau kesalahan analisa DNA.  Pengadilan mendengar bahwa beberapa juri yang memutuskan perkara tersebut mengaku bahwa mereka membaca dan menyelidiki Alkitab selama mereka menggumulkan kasus tersebut.  Para juri tersebut memfokuskan penyelidikan Alkitab mereka pada ayat-ayat yang berhubungan dengan prinsip keadilan, seperti konsep “mata ganti mata”.  Dengan tuduhan negatif mencari dukungan Alkitab untuk mencari apa yang Tuhan katakan mengenai hukuman mati, pengadilan memproklamirkan bahwa “Alkitab adalah penghalang bagi para juri untuk memikirkan perkara tersebut dengan pemikiran mereka sendiri.”  Pengadilan memutuskan bahwa Alkitab dilarang untuk digunakan sebagai pertimbangan benar salah! Sementara itu siapa pun boleh mencari pertimbangan apa pun dari materi yang lain.

Kenyataan ini sangat mengerikan.  Masalah ini menjelaskan kepada kita bagaimana dunia masa kini lebih memilih untuk memutuskan kebenaran tanpa standar atau patokan apapun. Bagaimana mungkin menetapkan benar salah tanpa patokan yang mutlak dari Sumber Kebenaran yang mutlak?  Namun begitulah dunia yang kita tinggali saat ini memandang Alkitab justru sebagai buku kuno yang tidak relevan—bahkan menyesatkan.

Pada masa kini ada banyak tokoh atau buku atau trend yang membuat kita semakin jauh dari firman Tuhan.  Dan kita—serta banyak orang Kristen lain—tidak jarang merasa ada banyak hal-hal yang luar biasa menarik dan luar biasa baik untuk kita pelajari daripada Alkitab.

Oprah dianggap sebagai pemimpin rohani. Pada musim gugur 2005 lalu, Oprah Winfrey baru aja merayakan 20 tahun kiprahnya dalam dunia pertelevisian dengan program yang sangat luar biasa,  Oprah Winfrey Show.  Dalam waktu 20 tahun tersebut, Ia telah mengumpulkan uang sebanyak $ 1,4 miliar.[1] Program mingguan ini ditonton oleh 49 juta pemirsa setiap minggunya (ini belum termasuk penyiarannya di 122 negara lain di luar Amerika)—dengan topik yang sangat beragam, mulai dari bahan makanan sarapan sampai pembunuhan masal di Rwanda.  Rating program ini dapat dikatakan merupakan program televisi terbaik dan paling banyak ditonton di dunia.

Cathleen Falsan,  penulis masalah agama di Chicago Sun-Times, berkata bahwa Oprah dapat menjadi pendeta atau pastor Amerika.  Dia memiliki dukungan kuat untuk teori ini.  6600 responden (33%) dalam sebuah survey beliefnet.com pernah menyatakan bahwa tayangan Oprah Winfrey lebih memiliki pengaruh yang lebih nyata daripada rohaniwan (atau hal-hal rohani, termasuk khotbah dan Alkitab).

Dalam bukunya yang berjudul “The Gospel according to Oprah”, Marcia Nelson mengklaim bahwa integritas kehidupan Nona Winfrey memberikan pengaruh besar dalam kehidupan rohaninya.

Dalam sebuah artikel dalam The USA Today juga menuliskan bahwa bagi beberapa orang, Oprah tidak lagi dianggap sebagai manusia biasa. Setengah dewa. Setengah Tuhan.

Jamie Foxx, seorang aktor terkenal yang terakhir ini bermain dalam “Miami Vice” juga pernah berkata, “Engkau harus pergi ke surga. Semua orang menantikan Tuhan, dan Oprah Winfreylah orangnya.”

Wah, betapa hebatnya bisa seorang yang tidak sempurna di dunia yang penuh cacat cela mempengaruhi orang lain.  Saya pun—sejujurnya—mengagumi Oprah. Namun, jika kita sedikit saja cukup cermat mengamati, kita tahu bahwa tidak ada seorang manusia berdosa pun yang cukup hebat untuk membawa kita mengalami transformasi rohani yang berefek kekekalan—selain firman Tuhan.

Mengapa kita lebih tertarik untuk menonton sinetron, Oprah Winfrey show, gosip, dll daripada merenungkan firman Tuhan?  Karena tanpa sadar kita berpikir bahwa hal-hal duniawi itu lebih relevan dalam kehidupan saya daripada Alkitab.  Pertanyaannya, benarkah Alkitab tidak relevan lagi bagi dunia masa kini?

Hari ini kita akan memperhatikan alasan mengapa penting bagi kita untuk serius hidup bersama dengan firman Tuhan.  Kita akan menemukan tiga cara firman dapat mengubah kehidupan kita.[2]

1.  Firman Tuhan menunjukkan bagaimana menikmati keselamatan

“Ingatlah dari kecil engkau sudah mengenal kitab suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan” (v. 15)

Ilustrasi. Seorang gadis bernama Dee tumbuh dewasa dalam sebuah keluarga kaya di Timur Tennessee.  Ia memiliki segala sesuatu yang diinginkannya, namun bukan yang dibutuhkannya. Orang tuanya tidak pernah mengajaknya ke gereja, atau pun mengajarkan sesuatu pun padanya mengenai kekristenan.  Ketika Dee meninggalkan rumah untuk kuliah, ia mulai terlibat dalam minuman keras dan narkoba.  Dalam sekejab hidupnya seakan berada dalam pencarian yang tidak akan pernah berakhir akan pesta.  Setiap akhir pekan, bersama dengan teman-temannya ia suka sekali menyewa beberapa kamar hotel dan menghabiskan dua hari akhir pekan penuh untuk berpesta.

Dalam pesta akhir pekan tersebut, beberapa kali kelompok pesta tersebut akan mengadakan semacam lomba siapa yang paling banyak mencuri sesuatu dari kamar yang disewa.  Dee pun menceritakan bahwa yang paling banyak dicurinya dari hotel adalah Alkitab Gideon.  Semua temannya pun tertawa keras, dan Dee memenangkan kontes tersebut.

Beberapa minggu kemudian, kehidupan Dee mulai hancur berantakan.  Suatu hari, ia menyadari bahwa ia hamil.  Aborsi nampak sebagai satu-satunya jalan keluar—karena ia telah pernah melakukannya sekali sebelumnya. Kekasihnya mencampakkannya.  Dee merasakan hidupnya hancur dan kesepian sendirian.  Tidak seorang teman pun peduli padanya.  Sampai satu malam, di tengah ketakutan, kecemasan dan kehancuran hatinya, Ia mengambil sebuah Alkitab Gideon yang dicurinya dalam sebuah kamar hotel.  Ia mulai membaca tanpa tujuan.  Ia membolak-balik lembar-lembar Alkitab itu sampai di 1 Samuel—dan mulai membaca.  Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Ia merasakan Tuhan sebagai Pribadi yang nyata baginya.  Tidak lama kemudian ia menerima Kristus dan bergereja. Hal itu terjadi 14 tahun yang lalu.  Hari ini, Dee dan anak gadisnya yang berusia 14 tahun selalu membagikan kesaksian mereka dengan penuh kuasa setiap saat ada kesempatan.

Firman Tuhan menunjukkan dengan luar biasa bagaimana kita menemukan keselamatan.  Rancangan keselamatan Allah bagi kita nyatalah sangat berbeda dengan penawaran dunia.  Dunia berkata bahwa keselamatan membutuhkan usaha keras untuk dimiliki; firman Tuhan dengan jelas berkata keselamatan adalah hadiah cuma-cuma dari Allah (Ef. 2:8-9).  Dunia mengajarkan ada banyak jalan ke Roma, Alkitab berkata Kristus adalah satu-satunya jalan (Kis. 4:12; Yoh. 14:6).  Dunia mengajarkan bahwa Tuhan menolong mereka yang menolong diri mereka sendiri; Alkitab berkata bahwa Tuhan Allah menolong mereka yang tidak mampu menolong dirinya sendiri (Maz. 34:6).

Sungguh Alkitab adalah buka yang luar biasa!  Puji Tuhan, ia menunjukkan kepada kita untuk menikmati keselamatan!

Jika kita menyadari bahwa menabung akan menolong kita untuk jauh dari banyak masalah keuangan di masa depan,

tentu tindakan yang benar adalah… menabung lebih sering dan lebih banyak.

Jika kita menyadari bahwa susu akan menolong tulang kita tidak rapuh dengan cepat,

kita pasti minum susu setiap hari.

Jika kita sungguh menyadari bahwa firman Tuhan sungguh menyelamatkan kehidupan kita pada kekekalan,

mengapa kita tidak menikmatinya setiap hari?

2.  Firman menunjukkan bagaimana menikmati kebenaran

2Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 3Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. 5Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal…” (4:2-5).

Rasul Paulus mengatakan bahwa dunia akan semakin kurang tertarik berbicara soal kebenaran, namun kita harus terus memberitakan kebenaran Tuhan.  Paulus berkata banyak orang akan menolak untuk mendengar firman Tuhan, namun orang percaya harus terus memberitakannya.

Ilustrasi. Chuck Colson, pendiri persekutuan di penjara, suatu kali hadir dalam sebuah pertemuan dengan CEO sebuah perusahaan penerbitan raksasa yang membanggakan diri berkata, “Koran terbitan kami merupakan pendorong utama disingkirkannya Sepuluh Hukum dari dinding-dinding sekolah umum di Amerika.”  Colson bertanya kepadanya mengapa pesan mengenai 10 Hukum Tuhan harus disingkirkan, dan ia menjawab, “Pesan (10 Hukum) tersebut bersifat eksklusif dan menyerang agama atau kepercayaan yang lain.  Lagipula, kita harus membedakan antara gereja dan negara.”

Kemudian dalam pertemuan yang sama, CEO terkemuka tersebut mengangkat topik pembicaraan mengenai kriminalitas dunia remaja.  Ia berkata, “Apa yang akan kita lakukan dengan meningkatnya tingkat kriminalitas di kalangan remaja?  Kasus pencurian di sekolah-sekolah meningkat pesat sampai pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan dibandingkan dengan dekade yang lalu.  Apa yang dapat kita lakukan untuk mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa mencuri itu salah?”

Colson berkata, “Mungkin kita harus menaruh pesan pada dinding sekolah, ‘Jangan mencuri.’”

CEO menjawabnya, “Itu ide yang bagus!”   Entah sadar-atau-tidak, ia jelas tidak mengakui bahwa akibat perbuatannya sendirilah kriminalitas remaja meningkat.

Ilustrasi. Sebelumnya saya sempat menyinggung mengenai reformasi gereja dan kebangunan gereja protestan, sekarang saya ingin mengatakan sesuatu tentang gereja Katolik.  Sebagaimana yang kita ketahui, gereja Katolik menghadapi begitu banyak tekanan dari banyak pihak untuk mengubah prinsip praktis dan kepercayaannya.  Ada banyak orang yang ingin melihat peringatan gereja mengenai kontrol kehamilan dicabut, dan banyak yang ingin melihat wanita dianggap sebagai imam atau uskup.  Banyak juga yang berharap gereja Katolik bersikap lebih lembut mengenai isu aborsi dan seks pranikah.

Pada saat kedatangan Paus ke Amerika, ia berhadapan lagi dengan masyarakat luas mengenai isu-isu tersebut.  Di tengah begitu banyak tekanan yang dialamatkan padanya dan gereja Katolik, Paus menjawab dengan sangat bijaksana, “It is not the church’s mission to change with the times; it is the church’s mission to change the ethos of the times.” (Adalah bukan misi gereja untuk berubah seturut dengan jaman; [justru] misi gereja adalah untuk mengubah filsafat budaya jaman ini).  Jawaban yang luar biasa!

Pemaknaan hidup seperti inilah yang seharusnya dimaknai oleh orang Kristen yang hidup dalam jaman yang begitu jauh dari kebenaran Allah ini.  Inilah yang apa yang dimaksudkan juga oleh Paus dalam Surat 1 Timotius.  Dia berkata bahwa kita tidak boleh membiarkan dunia mengubah kita; adalah tugas kita untuk mengubah dunia.  Dan firman Tuhan begitu penuh kuasa.  Jika kita sungguh dengan setia menghidupi kebenarannya, kita akan mengubah dunia!

3.  Firman Tuhan mengajarkan bagaimana menikmati hidup

Ilustrasi. Pada awal abad ke-16 seorang biarawan bernama Martin Luther berada dalam sebuah katedral di Roma.  Kehidupannya diisi dengan aktifitas asketik—menyiksa diri—setiap hari.  Naik puluhan anak tangga dengan lututnya satu per satu sebagai usaha doa untuk meminta pengampunan dosa dari Tuhan.  Sampai suatu hari, sebuah ayat firman Tuhan menyentaknya seperti petir dari surga.  Ayat itu ditemukannya di Surat Roma, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’” (1:17).

Moment sentakan yang membuka mata rohani Luther ini menjadi awal dari serangkaian peristiwa sejarah gereja yang mengubah dunia.  Luther menyadari bahwa apa yang telah diajarkan gereja Katolik kepadanya selama ini jelas tidak konsisten dengan firman Tuhan.  Ia pun mulai mempertanyakan otoritas gereja, para pemimpin gereja, dan mengklaim bahwa otoritas firman Tuhan sepatutnya berada pada tempat yang utama.  Bukan aturan ini-itu yang diciptakan manusia yang penting. Bukan perintah pastur atau pendeta yang penting untuk diikuti dengan ketaatan yang mematikan. Karena Tuhan sendiri tidak pernah menciptakan banyak peraturan untuk hidup kita.

Luther membuka mata kita bahwa Alkitab tidak pernah dimaksudkan untuk mempersulit kehidupan anak-anak Tuhan. Tuhan tidak pernah mau kita menyiksa diri untuk menyenangkan hati Tuhan.  Tuhan tidak ingin kita sampai harus menghabiskan waktu kita menyenangkan hati Tuhan dengan membaca Alkitab 8 jam sehari, dengan padatnya jadwal pelayanan yang melelahkan, dengan memberikan persembahan uang sebanyak mungkin sampai 60-70%, dsb.  Wow, Tuhan tidak pernah meminta kita memberikan hidup kita sampai habis-habisan seperti itu.  Tuhan tidak ingin kita menjadikan Tuhan sebagai beban kita.

Mereka yang sungguh-sungguh membaca firman Tuhan akan semakin menemukan betapa mudahnya menyenangkan hati Bapa kita. Sama sekali Tuhan tidak pernah menuntut kita melakukan ritual macam-macam yang menyusahkan kita.  Tuhan tidak mengatur hidup kita dengan begitu detilnya.  Tuhan tidak memberikan banyak larangan dan perintah.  Banyak pendeta dan pemimpin gerejalah yang seringkali menciptakan kerumitan dan peraturan yang memberatkan jemaat, bukan Tuhan.

Banyak orang mungkin tidak tertarik untuk membaca firman Tuhan karena tidak ingin terlalu banyak tahu tentang benar salah yang mereka pikir pasti membuat hidup mereka semakin sulit dan bergumul.  Salah besar.

Mari saya berikan kabar baiknya…. bahwa mereka yang sungguh menikmati Alkitab akan menemukan betapa mudahnya menyenangkan hati Tuhan!  Haleluya!

Alkitab adalah buku yang penuh kuasa. Dan ia mengajarkan bagaimana kita dapat menikmati kehidupan.

Kita menyadari pentingnya makanan dan gizi baik setiap untuk kesehatan fisik,

karena itulah kita tanpa disuruh-disuruh pun terus makan setiap hari.

Sekarang kita diingatkan bagaimana firman Tuhan bagi kesehatan rohani dan emosional,

mengapa kita tidak “mengkonsumsi” cukup ayat firman Tuhan untuk menjaga kondisi jiwa kita setiap hari?

Ilustrasi. Tyndale House Publishers menemukan bahwa mereka yang membaca Alkitab setiap hari menghasilkan perspektif hidup yang positif dalam kesehariannya.  Menurut survey yang dikerjakan bersama dengan Barna Research Group menemukan bahwa:

  • 82% pembaca Alkitab aktif menjelaskan diri mereka sebagai pribadi yang merasa damai sejahtera, sebaliknya hanya 58% yang berkata sama pada kelompok yang tidak pernah membaca Alkitab.
  • 78% pembaca Alkitab aktif mengatakan mereka merasa berbahagia sepanjang waktu atau lebih banyak merasa bahagia, sebaliknya hanya 67% yang berkata sama pada kelompok yang tidak pernah membaca Alkitab.
  • 68% pembaca Alkitab aktif menjelaskan diri mereka sebagai pribadi penuh dengan sukacita, sebaliknya hanya 44% yang berkata sama pada kelompok yang tidak pernah membaca Alkitab.

Penutup

Alkitab jelas bukanlah sebuah buku biasa yang dapat kita abaikan.  Sepanjang sejarah kekristenan, begitu banyak Alkitab di banyak tempat telah dibakar, dilarang, dicekal, dicemooh, diludahi, dibuang, dihina, bahkan dibolak-balik oleh mereka yang tidak menyukainya—namun semuanya justru menunjukkan bahwa Alkitab begitu berharga dan tidak dapat diabaikan begitu saja.  Kuasanya begitu luar biasa bagi mereka yang menikmati firman Tuhan.  Di tengah begitu banyak tekanan “musuh” yang mencoba menggoyang kebenaran Alkitab, namun ia tetap menjadi buku terlaris di dunia.  Namun demikian, ingatlah bahwa tidak ada sesuatu pun yang berarti akan terjadi jika Alkitab hanya dibiarkan rapi di rak buku kita.  Jika hanya ada satu kesempatan membaca buku selama manusia hidup di dunia, Alkitab akan menjadi satu bacaan yang berarti kekekalan bagi mereka yang menikmatinya.  Firman Tuhan berkuasa untuk mengubah kehidupan kita, dan dunia, sampai kita pada akhirnya menikmati kekekalan surgawi.

Firman Tuhan masih relevan pada masa kini—dan terus akan semakin relevan menjelang kedatangan Kristus kedua kali nanti.

Mengapa banyak orang “memusuhi” firman Tuhan?

Karena banyak orang membiarkannya berhenti pada pikiran, memilahnya, mengkritisinya, sebelum kemudian memilah-milahnya untuk ditaati dan tidak ditaati.  Firman tidaklah pernah dimaksud hanya sebagai pengetahuan logis rasional. Firman Tuhan ditulis untuk “menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2Tim. 3:16-17).  Melalui firman, tiap anak Tuhan diperlengkapi untuk perbuatan baik.  Jelas sekali, firman dimaksud untuk dihidupi. Dialami.

Ada empat macam pribadi pembaca firman Tuhan

  1. Orang Fasik – membaca untuk mencari kesalahan Alkitab. Orang beragama lain yang berusaha menjatuhkan kekristenan. Tidak bermaksud untuk mengalami.  Memperlakukan Alkitab sebagai buku sesat.
  2. Orang Farisi – membaca dan melakukan firman, namun tanpa hati.  Orang Kristen yang hanya tahu melakukan dan menuntut orang melakukan hal yang sama, namun tidak memiliki hati dan kasih yang serupa Kristus.  Mengetahui dan mengenal firman, namun tidak mengalami.  Alkitab sebagai kitab hukum dan peraturan.
  3. Pembelajar – membaca dan menyelidiki firman untuk menemukan kebenaran dan pengetahuan, namun tidak mengalami firman. Alkitab sebagai kamus pengetahuan. Tipe orang Kristen intelek. Mahasiswa teologi. Beberapa hamba Tuhan. Tahu khotbah mana yang bagus dan kurang bagus, namun tidak punya kegerakan untuk melakukan.
  4. Anak Tuhan – membaca dan merenungkan firman untuk mengenali bagaimana dapat mengasihi Bapa.  Tahu ia tidak akan pernah sempurna mengasihi Bapa, namun terus berusaha keras melakukan firman Tuhan. Melakukan, menikmati dan mengalami firman Tuhan.  Alkitab sebagai roti hidup atau makanan rohani.

Hari ini saya ingin mencoba melangkah lebih jauh.  Khotbah ini tidak disusun sekadar untuk mendorong saudara untuk rajin baca Alkitab. Namun, saya menantang Saudara untuk mengalami firman Tuhan. Dan rasakanlah kemudian betapa luar biasanya berkat Allah di dalam kehidupan kita.

Ilustrasi. Tidak banyak orang yang ingat bahwa tragedi teroris 11 September yang meluluhlantakkan WTC bukanlah hanya sekadar dua pesawat yang dikendalikan teroris.  Pesawat ketiga menghantam Pentagon, markas besar departemen pertahanan Amerika, dan menghancurkan sebagian sisi kantor yang besar tersebut.

Pada saat kejadian seorang petugas polisi, Isaac Hopii, berada di tempat kejadian namun tidak berada di dalam bagian gedung yang hancur.  Hopii segera mulai menolong banyak orang untuk keluar dari gedung.  Beberapa bahkan harus dipapahnya keluar.  Namun tidak berhenti sampai disana, Hopii ingin melakukan lebih.  Dengan hanya mengenakan seragam biru tipisnya—tanpa masker, tanpa pakaian pelindung khusus dari api, bahkan tanpa sapu tangan—ia berlari masuk ke dalam asap hitam tebal dari gedung yang hancur.  Beberapa orang berteriak mencegah dan memperingatkannya untuk berhenti dan tidak melakukan hal yang bodoh. Namun Hopii terus berlari masuk, “Harus ada yang menolong mereka keluar.”

Di tengah-tengah rasa tercekik akibat menghisap asap tebal, Hopii mendengar dengan jelas bahwa gedung tersebut terus retak semakin luas. Semakin berbahaya.  Ia berteriak dan terus berteriak dengan suara nyaring, “Apakah ada orang di sini? Apa ada orang?”

Wayne Sinclair dan lima orang rekan kerjanya terjebak dalam kepulan asap yang membutakan dan menyesakkan.  Mereka sudah sangat panik.  Mereka tidak dapat melihat apapun. Berlari kesana-kemari mencoba mencari jalan keluar, namun tidak justru semakin terjebak karena tidak tahu kemana mereka melangkah.  Namun, mereka akhirnya mendengarkan suara Hopii yang memanggil.  Mereka balas menyahutnya, namun tidak dapat melihat apapun dalam kepungan asap yang sedikit lagi membunuh mereka.  Namun, mereka mendengar Hopii berteriak, “Ikutilah suaraku. Ikutilah arah suaraku.”  Dan demikianlah, harapan Wayne dan rekan-rekannya berkobar dan berusaha terus mengikuti suara Hopii sampai akhir mereka selamat.

Tuhan Yesus menolong setiap orang dengan cara yang sama, Ia berkata, “Ikutilah suaraku. Nikmatilah firmanKu. Alamilah kuasa firmanKu setiap saat dan engkau akan menikmati dunia.”


[1] Setara Rp 1,2 Triliun—artinya, untuk dapat mengumpulkan kekayaan sebanyak ini dalam 20 tahun, gaji atau penghasilan kita minimal harus 5 milyar rupiah per bulan!  Jika gaji kita Rp 10 juta sebulan, maka butuh 10.000 tahun untuk dapat Rp 1,2 triliun!

[2] Quoted from Steve May, “The Power of the Bible” Sermon on Preachingtoday.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s