Hidup dengan Potensi Maksimal

Pendahuluan. Huruf China yang ditempelkan di pintu-pintu rumah ketika perayaan tahun baru Imlek tiba. “Hok”. Hoki. Keberuntungan. Kekayaan. Kesuksesan. Kebahagiaan di tahun yang baru. Tetapi, seorang pembicara motivator di Indonesia berkata “tidak ada yang namanya keberuntungan”.

Kekayaan, kesuksesan dan kebahagiaan kita tidak kita dapatkan sebagai keberuntungan, tetapi selalu ada alasan mengapa kita berhasil. Tidak ada orang yang duduk diam-diam di rumah, malas dan tidak mau bekerja bisa mendapatkan kekayaan dan kesuksesan. Benar, tidak?

Kesuksesan tidak diraih dari keberuntungan. Kesuksesan dan keberhasilan didapatkan dengan usaha. Dengan kerja keras. Dengan membayar harga. Dan kita kabar baiknya bagi kita orang percaya adalah bahwa kita memiliki Tuhan yang senantiasa rindu memberkati kita berlimpah-limpah.

Hari ini kita akan belajar bahwa Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menikmati hidup yang luar biasa. Kesuksesan (kehidupan yang luar biasa) akan didapatkan dari sebuah usaha yang konsisten untuk menggali yang terbaik dari dalam diri kita.

Mengapa banyak orang ingin hidupnya berubah namun tidak pernah berubah? Mengapa anda ingin hidup anda berubah namun tidak pernah terjadi? [1] Karena kita tidak melakukan perubahan. Karena kita tidak melakukan terobosan. [2] Karena kita selalu cenderung untuk menunda. [3] Karena kita tidak berani bermimpi besar. Dan hari ini, [4] Karena kita tidak memanfatkan potensi kita secara maksimal.

Matius 25: 14-15. “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”

Menyadari potensi yang Tuhan berikan

Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan mempercayakan kita masing-masing sebuah modal yang diberikan menurut kesanggupan kita. Ada yang diberikan lima, dua dan satu talenta. Menurut kesanggupan kita. Kelihatannya Tuhan kok tidak adil. Namun, sekali Tuhan memberi menurut hikmatnya yang sempurna. Dengan satu tujuan, pelipatgandaan. Modal diberikan untuk dikembangkan.

Adalah penting bagi kita untuk menemukan dan menyadari potensi yang Tuhan berikan bagi kita. Tidak membandingkan dengan apa yang orang lain miliki. Inilah yang membuat penerima satu talenta jatuh dan hancur. Ia kehilangan semua berkat yang Tuhan telah siapkan.

Menjadi pribadi yang luar biasa, tidak hanya bisa terjadi ketika kita memiliki wajah yang rupawan, modal yang memadai, pengalaman yang hebat, sekolah tinggi. Untuk menjadi orang yang luar biasa, kita harus, pertama sekali, bisa menerima diri kita apa adanya. Tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Tukul Arwana dan Empat Mata. Ingat saja Tukul. (Banyak lain artis “jelek” yang sukses). Bersikap apa adanya. Wajah mereka jelas tidak terhitung dalam level yang sama dengan Brad Pitt atau Tao Ming Se. Penampilan mereka jelas bagi banyak orang kampungan. Gaya berbicara mereka menjadi olokan. Tetapi, waktu mereka bisa menerima diri mereka apa adanya. Menghargai diri mereka apa adanya. Mereka bisa bahkan bisa memanfaatkan potensi jelek itu untuk sebuah pencapaian yang luar biasa. Tukul mematahkan budaya bahwa hanya mereka yang tampan dan cantik istimewa bisa mendapat tempat di dunia broadcast. Ia sangat berhasil dan sukses hari ini—karena bisa menerima diri apa adanya. Itu potensi yang Tuhan berikan.

Catatan harian seorang Schizophrenia. Ditulis dari gadis yang memang pernah “gila”. Tidak malu mengakui kegilaannya, Ia menuliskan pikirannya dan berhasil menjadi best-seller beberapa tahun lalu di Indonesia. Itu potensi.

Dua contoh ini memberikan kepada kita kejelasan bahwa Tuhan memberikan kepada kita modal yang lebih dari cukup untuk menikmati hidup yang sukses. Yang luar biasa. Yang berhasil. Yang penuh kegemilangan. Jika saja kita cukup memahami bahwa setiap pengalaman kita di masa lalu (baik atau buruk, menyenangkan atau tragis) bisa menjadi modal yang luar biasa untuk kehidupan yang lebih baik.

Masih banyak contoh orang-orang dengan keterbatasan lain yang berhasil dalam hidup mereka? Stephen Hawkings. Joni Aereckson Tada. Penulis buta dari Jepang. [Cuplikan foto, “Wanita Cacat dan Keluarganya”]

Pertanyaannya, sudahkah anda menyadari hal ini? Sudahkah anda memaksimal seluruh potensi (talenta) yang Tuhan berikan seberapa pun terasa mustahil dan terbatas?

Jika anda senang menjahit, pernahkah anda berpikir untuk menjadikannya sebagai usaha? Jika anda menikmati bepergian, pernahkah anda berpikir untuk menjadi pemandu wisata? Jika banyak orang memuji masakan anda yang lezat, mengapa tidak berpikir untuk menjadikannya sebagai usaha?

Dan jika usaha yang anda kelola saat ini telah mengalami stagnasi dan kemerosotan sekian lama, mengapa tidak mencoba usaha baru? Penting bagi kita untuk mencoba hal-hal baru dalam kehidupan kita.

Konsisten menggali kualitas terbaik dari dalam diri kita

Ini berbicara tentang bagaimana kita menjalani hidup sehari-hari. Tentang ketekunan, kerajinan, semangat, spirit, iman, sikap, kata-kata. Tentang hati, pikiran, perbuatan dan perkataan kita. Yang pasti ada satu kualitas yang tidak Tuhan sukai, kemalasan. Ini merupakan prilaku tidak bertanggungjawab yang jelas tidak pernah mendatangkan sedikit kebaikan dalam kehidupan kita. Mengapa Tuhan menegur dengan keras orang yang menerima satu talenta? Pertama sekali, kemalasannya. Mangkirnya dari tanggung jawab.

Kedua, karena Ia sendiri telah mengutuki dirinya jauh dari segala berkat yang Tuhan telah siapkan. Tuhan tahu betapa banyak yang telah Ia siapkan bagi setiap orang. Jauh lebih banyak dari sanggup kita pikirkan. Tuhan ingin kita menikmati yang terbaik dariNya, tetapi kemalasan menjadi penghalang kita buat sendiri.

Minggu lalu ketika saya berkhotbah tentang pentingnya keberanian untuk bermimpi besar, beragam respon segera muncul. Sebagian bernada positif dan bersemangat, sebagian kecil ada juga yang justru menanggapi dengan skeptis. Mimpi jangan terlalu tinggi, nanti bisa kecewa sendiri kalau tidak tercapai. Ada juga yang bertanya, apakah berani bermimpi saja cukup? Apakah dengan doa penuh iman cukup untuk menjadi luar biasa? Tentu saja tidak!

Kepenuhan iman dan impian besar harus dibarengi dengan ketekunan melakukan. Ketekunan menghidupi iman kita dengan tepat.

Ilustrasi. Ini sama saja dengan satu cerita yang saya dengar ketika saya masih remaja. Suatu hari setelah mendengar tentang khotbah tentang iman yang bisa memindahkan gunung, seorang pelajar yang sedang bersiap-siap ujian mulai bertekun berdoa agar nilainya cukup untuk kenaikan kelas. Dan benar saja ketika Ia memasuki minggu ujian Ia berdoa dengan sangat tekun. Ia bisa berdoa lebih dari satu jam meminta kenaikan kelas kepada Tuhan. Ketika ujian tiba dan kertas soal dan jawaban dibagikan. Ia merasa tenang. Apa yang Ia lakukan? Ia berdoa dengan iman yang sangat penuh. Sangat percaya kepada Tuhan. Di dalam nama Tuhan Yesus, serunya dalam hati, semua jawaban terisi dengan ajaib. Amin! Ia membuka mata perlahan-lahan… dan menemukan kertas jawabannya masih kosong. Setelah Ia mencoba berkali-kali. Akhinya, Ia menyerah dan mengisi sebisanya masih dengan iman Ia tetap akan naik kelas.

Tentu saja, Ia gagal naik kelas. Ia kecewa pada Tuhan. Doanya gagal. Pengharapannya tidak berarti. Imannya yang sangat penuh sia-sia. Mengapa Ia gagal? Apakah imannya kurang? Bukan. Masalahnya, Ia sendiri malas belajar.

Penutup. Majalah “Kontan” edisi khusus pergantian tahun. Headlinenya berjudul, “Tantangan dan Peluang 2009”. Berita pertamanya berjudul. “Selamat Datang 2009, Penuh Potret Buram”. Itulah yang banyak digemakan akhir-akhir ini. Namun, di awal tahun baru China ini, biarlah kita mengingat dengan baik bahwa kehidupan dan keberhasilan kita sama sekali tidak tergantung pada “kerbau”. Kehidupan kita bahkan tidak tergantung pada roda perekonomian dunia. Kita memiliki Tuhan yang luar biasa! Dan Ia selalu rindu memberikan yang terbaik buat kehidupan kita. Namun, kita perlu mengerjakan bagian kita.

Ilustrasi. Tahukah anda bagaimana cara orang menjinakkan gajah? Ketika gajah masih kecil, pawang gajah mengikat kakinya dengan seutas tali. Lalu tali itu diikatkan pada sebuah tonggak yang kokoh.

Gajah yang masih lemah tadi berusaha untuk memutuskan tali yang mengikatnya, namun selalu gagal. Setelah mencoba beratus-ratus kali dan selalu gagal, pengalaman itu menjadi pesan yang kuat di dalam otaknya, “Saya tidak mungkin memutuskan tali ini.”

Waktu pun berlalu. Gajah itu menjadi semakin besar dan kuat. Gajah dewasa tentu sebenarnya dapat memutuskan tali yang mengikatnya dengan mudah, namun pengalaman-pengalaman kegagalannya telah membuat gajah tersebut tidak pernah mau mencoba memutuskan tali yang mengikat kakinya.

Setiap kali ia akan mencoba untuk memutuskan talinya, selalu ada suara di dalam dirinya yang mengatakan, “Saya tidak mungkin memutuskan tali ini.” Apa akibatnya? Gajah tersebut tidak pernah mencapai potensi maksimal yang ada di dalam dirinya.

Apakah yang menghalangi seseorang untuk mencapai potensi maksimalnya? Pikiran kita yang menyesatkan. “Saya sudah mencoba, tetapi tidak bisa”, “Bagi saya itu tidak mungkin”, “Saya belum pernah mencobanya”, “Pengalaman saya mengatakan bahwa hal itu mustahil.”

Bagaimana dengan anda? Apakah pengalaman-pengalaman buruk anda di masa lampau telah menjadi pengikat yang membatasi diri anda untuk mencapai potensi maksimal anda?

Biarlah kita senantiasa mengingat bahwa berkat, pertolongan, kelimpahan dari Tuhan tidak didatangkan begitu saja. Ada bagian yang harus kita kerjakan. [1] Kita harus membuat terobosan, [2] Kita harus membuat terobosan sekarang juga! Jangan menunda. [3] Kita harus berani bermimpi besar, dan [4] Kita harus hidup dengan memaksimalkan potensi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s