Menikmati Natal dengan Hati Seorang Anak

Siang ini saya memperhatikan gereja tidak seperti biasanya di jam kantor seperti ini. Banyak anak-anak berkeliaran di gereja dengan keceriaan anak-anak yang tanpa beban. Senyum merekah di wajah mereka. Tidak ada sesuatu yang rasanya dapat merenggut sukacita yang sedang mereka rasakan.

Apa yang mereka lakukan di gereja siang hari bolong seperti ini?

Mereka berlatih. Latihan natal untuk Ibadah Perayaan Natal Sekolah Minggu yang akan berlangsung esok hari.
Melihat pemandangan keceriaan di wajah anak-anak ketika natal mengingatkan saya akan natal saya sendiri ketika masih sangat belia. Natal memang selalu sangat menyenangkan. Selalu sangat dinantikan. Terlalu banyak kesenangan yang membuatnya selalu terasa indah untuk dilalui.

Hadiah. Kado. Baju baru untuk dipamerkan. Sepatu dengan telapak yang masih berwarna original karena baru. Gereja yang berwarna-warni. Lagu-lagu yang ceria. Dekorasi natal yang selalu menjadi latar belakang yang terasa bagus untuk berfoto bersama. Permen. Konsumsi dari gereja yang pasti istimewa. Belum lagi ditambah hadiah khusus buat anak-anak sekolah minggu yang berprestasi. Wah, lengkap rasanya semua kesenangan ini datang.

Yang paling saya nantikan, bagaimanapun juga, adalah drama natal dengan Yusuf, Maria dan bayi Yesus itu. Selalu ada rasa haru yang menyeruak masuk ketika mereka hadir dalam ruang ibadah di gereja. Tuhan yang lahir menjadi manusia untuk saya.

Namun, entah kemana semua kesenangan itu pergi saat ini. Natal tidak lagi terasa keindahan dan kesenangannya seperti dulu. Menjadi dewasa dan segala kesibukan yang lain rupanya menjadikan natal tidak lagi seindah dulu.

Ya, bahkan sebagai seorang pelayan Tuhan full-time pun harus diakui kadang natal lebih banyak menyisakan kelelahan dan kerja tambahan belaka.

Namun… melihat anak-anak sekolah minggu yang baru selesai berlatih itu membuat saya sungguh tidak ingin melewatkan natal ini lagi dengan cara “dewasa” seperti yang lalu. Saya rindu menikmati natal ini dengan hati anak-anak lagi. Hati yang polos dan tulus menantikan drama natal yang biasa itu dengan luar biasa.

Saya berharap masih ada kesempatan untuk itu. Duduk di depan mimbar dengan hati seorang anak kecil.

Tiba-tiba, sebuah suara lembut berbisik di hati saya, “Selalu masih ada kesempatan itu untukmu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s