Bukan Sekadar Natal yang Lain: Perselisihan di Tengah Natal

Rasanya hampir tidak pernah terjadi: sebuah panitia natal bekerjasama dengan begitu baiknya, tanpa perselisihan sedikit pun selama Desember.  Rasanya memang tidak pernah terjadi.  Sudah pernah terjadi tahun lalu, dua tahun lalu, lima tahun lalu, dan sekarang juga terjadi tahun ini.  Saya mendengar beberapa rekan yang terlibat dalam persiapan natal di gereja mulai mengeluh.  Masalahnya setiap tahun umumnya masih juga hal-hal yang sama selama bertahun-tahun.

  • Tim kreatif marah karena ide mereka diubah tanpa mereka ketahui.
  • Beberapa orang mengeluh karena bendahara belum mengucurkan uang.
  • Bagian konsumsi jengkel karena terlalu banyak orang yang merasa harus tahu menu apa yang akan dihidangkan.
  • Yang lain mengeluh karena merasa bekerja sendirian dan tidak didukung.
  • Sie transportasi bingung karena tidak ada yang terlihat terbeban untuk membantu antar jemput jemaat pada malam natal.
  • Beberapa pemain musik marah karena rekan satu tim yang sering terlambat datang pada waktu latihan.
  • Gembala sidang marah karena persiapan natal yang terlihat asal-asalan.
  • Beberapa orang sakit hati karena merasa diperlakukan tidak pantas.
  • Majelis diomongin di belakang sebagai orang yang cuma mau tahu beres saja, tanpa pernah terlibat.
  • Beberapa aktivis mulai jatuh sakit dan menyalahkan teman yang lain karena tidak menolong.
  • Sutradara semakin sering naik nada tinggi ketika mengarahkan pemain dramanya.
  • Pemain gitar merasa kesal karena tidak diijinkan main dengan cara yang disukainya oleh pemain lain, dengan alasan harmonisasi.

Wow, tiba-tiba rasanya hampir semua pribadi yang terlibat dalam persiapan natal merasa berhak untuk marah dan menumpahkan emosinya karena rasa lelah dan merasa bekerja sendirian. 

Di tengah segala persiapan pelayanan rohani yang besar di akhir tahun seperti ini, itulah yang sangat sering terjadi.  Saya tidak ingin menyebutnya sebagai hal yang “pasti selalu” atau “sudah biasa” terjadi.  Namun, fenomena ini memang sangat tidak jarang terjadi di banyak gereja, saya kira.

Mengapa hal seperti ini bisa begitu jamak terjadi?

Saya tidak ingin terlalu menyederhanakan masalah, tetapi saya pikir pergeseran fokus hati pelayanan setiap oranglah yang berperan dalam timbulnya masalah ini.  Karena alasan lelah dan perasaan kurang diperhatikan, mudah sekali bagi setiap kita secara tanpa sadar lupa untuk siapa kita melakukan semua pelayanan ini.

Kita terkadang lupa bahwa ini bukanlah soal “saya”, tetapi soal Tuhan. Terkadang kita bias memahami bahwa aku melakukan ini untuk Tuhan, bukan sekadar berbagi pekerjaan dengan teman-teman gerejaku.

Waktu kita lurus berpikir “aku melakukan semua pelayananku ini untuk Tuhan”, maka pastilah kita tidak akan menilai apa yang orang lain lakukan atau tidak lakukan.  Kita tidak akan sempat untuk itu. Karena fokus kita sepatutnya hanyalah bagaimana aku bisa melakukan ini yang terbaik untuk Tuhan.  Kita akan melakukannya dengan tulus tanpa keluhan atau tuntutan agar orang lain juga melakukan apa yang kita lakukan.

Bagaimana cara mengetahui lalainya fokus kita terarah?

Mudah sekali.  Tanyakanlah secara jujur pada hati anda ketika anda merasa marah, kesal, dan kecewa akan rekan pelayanan anda di gereja, apakah itu sungguh hanya karena anda rindu memberi yang terbaik buat Tuhan, atau karena rasa lelah, frustrasi, kesendirian, dan rasa tidak didukung?

Jika alasan anda adalah sungguh memberi yang terbaik buat Tuhan, anda tentu akan tahu bahwa Tuhan perselisihan, kegeraman, kemarahan dan kekecewaan yang anda simpan tidak akan membuat Tuhan tersenyum.

Jika anda mengakui jujur bahwa “Iya, aku meledak emosi karena aku lelah dan merasa tidak dibantu”, maka anda perlu menyadari bahwa semua rekan anda yang lain juga lelah dan sibuk mengerjakan sesuatu yang mungkin tidak anda ketahui. Anda perlu belajar lebih menghargai rekan-rekan anda.

Bagaimana langkah praktis agar tidak terjadi pergesekan (perselisihan) dalam kepanitiaan natal?

Buatlah sebuah peraturan bagi diri anda sendiri. [1] Selalu tersenyum dalam mengerjakan apapun bagian anda.  Tersenyumlah selalu untuk menunjukkan kepada Tuhan bahwa anda senang mengerjakan pelayanan itu bagi Dia. [2] Aturlah waktu dengan baik. Salah satu pemicu perselisihan terbesar adalah ketidakdisiplinan dalam waktu latihan dan janji pertemuan. [3] Jagalah kata-kata anda agar tidak melukai hati rekan anda.

Mari, jangan biarkan perselisihan dan rasa tidak nyaman di hati membuat natal anda berlalu tanpa arti.  Jangan biarkan kesukacitaan natal anda terenggut hanya karena emosi yang tidak terkendali.

3 thoughts on “Bukan Sekadar Natal yang Lain: Perselisihan di Tengah Natal

  1. nice story …

    next mampir …

    bukan tidak mungkin kita menemui masalah ditengah jalan dengan beberapa teman dan rekan kita. tapi yang membedakan dalah respon kita untuk menyikapi nya…

    • Salam kenal! Terima kasih sudah mampir.
      Kita terus doakan saja agar natal ini memberikan pengalaman yang berbeda dengan rekan-rekan sepelayanan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s