Yusuf – Pribadi yang Terlupakan

Jason Grisham seharusnya tidak lagi hidup. Dalam sebuah upayanya mengukur sebuah menara listrik, pemuda berusia 22 tahun itu tersetrum hebat yang biasanya berakibat fatal. Dalam perjalanan memanjatnya ke ujung menara, listrik sekuat 69000 volts menghantam tubuhnya jatuh kembali ke tanah. Walaupun luka cukup parah, Ia dapat bertahan hidup. Untunglah.

Mengapa pemuda itu sampai terlibat masalah begitu buruk? Sesungguhnya itu bukanlah kecelakaan. Sebuah pagar setinggi dua meter lebih ada mengelilingi menara listrik tersebut. Di atas pagar juga sudah dipasangi kawat berduri. Di pagar itu juga dituliskan besar-besar “Danger/High Voltage”.  Grisham celaka karena Ia mengabaikan peringatan yang sangat penting.

Hari itu, Jason Grisham baru belajar arti penting ketaatan. Setiap pesan dari otoritas yang benar sesungguhnya tidak dapat ditawar.

Ketidaktaatan, kekerasan hati, keinginan yang tidak terkendali… memimpin kepada kehancuran. Ketaatan sangat penting dalam hidup.

Dalam kisah natal, Yusuf tercatat berhasil sebagai ayah dari Anak Allah dimulai dari ketaatannya akan panggilan Tuhan. Hari ini dari keteladanan Yusuf, kita akan belajar bahwa…

Ketaatan pada kehendak Allah akan memimpin orang percaya untuk menikmati kekayaan kemuliaan surgawi

Jika bicara jujur, tidak seorang pun menginginkan perubahan hidup yang tidak terkendali. Kita tidak suka hidup kita dipukul oleh peristiwa yang menghancurkan impian kita.

Kita tidak suka bangkrut setelah menikmati segala kemewahan. Kita tidak suka dipaksa untuk menjadi orang yang tidak kita sukai. Kita tidak suka terlibat dalam situasi yang tidak dapat kita kuasai.

Tidak mudah hidup sebagai Yusuf. Pemuda rata-rata tanpa keahlian yang memungkinkannya menjadi konglomerat.

Alkitab tidak pernah menuliskan satu kata langsung pun yang diucapkan dari mulut bibir Yusuf.

Ketika Maria mendengar panggilan Tuhan, Ia masih sempat berbicara kepada malaikat Tuhan. Maria masih bertanya, dan pada akhirnya berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk. 1:38).

Empat kali Yusuf menerima pesan dari Tuhan dan ia melakukannya segera.

Pertama – 1:20-24

Yusuf mempertimbangkan untuk menceraikan Maria diam-diam agar ia tidak hidup malu dengan aibnya, namun malaikat Tuhan menyuruhnya untuk tidak takut menikahi Maria dan memberi nama Yesus…

Yusuf segera melakukannya setelah bangun tidur.

Kedua – 2:13-15

Yusuf menerima pesan untuk lari ke Mesir yang jauh dan belum dikenalnya untuk melindungi Maria dan Yesus kecil…

Malam itu juga Yusuf membangunkan Maria dan membawa serta bayi Yesus berangkat ke Mesir.

Ketiga – 2:19-21

Herodes mati, Yusuf menerima pesan dalam mimpi untuk kembali ke tanah Israel.

Setelah terbangun Yusuf segera membawa Maria dan Yesus kecil kembali ke Israel.

Keempat – 2:22

Yusuf mendengar Arkhelaus menggantikan Herodes, ayahnya, berkuasa. Yusuf takut, malaikat Tuhan menasihatkannya untuk ke Nazaret.

Yusuf langsung berangkat tanpa bertanya ke Nazaret sehingga genaplah nubuat Yesus akan disebut sebagai orang Nazaret.

 

Empat pesan. Empat panggilan yang spesifik. Namun keempatnya hanya melalui mimpi. Namun demikian… Yusuf tidak meragukan perkataan malaikat Tuhan tersebut.

Ia selalu bersegera mengikuti kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan dirinya. Ia tidak memusingkan impian-impian pribadinya.

Ia berangkat begitu saja untuk hidup mengikuti kehendak Tuhan.

Ia tahu hidupnya bukanlah miliknya sendiri. Hidupnya adalah milik Allah yang menciptakannya.

Hidup tidaklah selalu soal apa yang kita inginkan. Tetapi… apa yang Tuhan kehendaki.

Disinilah ketaatan mendapatkan nilai berharganya.

Yusuf dapat saja berkata, “Ach hanya mimpi…” dan mengabaikan pesan itu. Masuk akal jika ia tidak terlalu ambil pusing dengan mimpi aneh itu. Normal jika menganggap mimpi itu sebagai bunga tidur biasa. Adalah biasa rasanya jika kita tidak ambil pusing dengan mimpi.

Disinilah justru Yusuf menjadi luar biasa… karena ia taat tanpa membuat alasan untuk dirinya sendiri.

Ketika Tuhan memanggil kita. Ada nada urgensi yang mengiringi panggilan tersebut. Dan kita perlu untuk bersegera melakukan kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Yusuf memiliki ketaatan yang mengagumkan. Tuhan memanggilnya melakukan sesuatu, dan ia bersegera melakukannya.

Ketaatan yang tidak ragu. Kepatuhan yang tidak mempertanyakan.

Dunia membutuhkan ketaatan Yusuf untuk bertahan. Dunia sementara ini sedang menuruni jurang curam ke lembah kehancuran.

Terlalu banyak alasan untuk melakukan ketidakbenaran.

Terlalu banyak excuse menghadapi kebenaran.

Saya percaya bahwa dunia bukan tidak tahu apa yang benar dan salah. Saya pikir dunia tahu apa yang sepantasnya dilakukan dan apa yang sepatutnya dihindari. Saya percaya dunia masih memiliki ruang yang memikirkan moralitas.

Masalahnya bukan dunia tidak punya nurani. Namun dunia lebih suka berkompromi dengan standar moral benar/salah untuk membenarkan diri melakukan dosa.

Ketidaktaatan adalah jalan yang dunia pilih sebagai kesempatan untuk menikmati dosa.

Kita membutuhkan ketaatan seperti Yusuf untuk melanjutkan hidup berhasil di dalam kasih karunia Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s