Bukan Sekadar Natal yang Lain: Sukacita Natal

Minggu pertama di bulan Desember. Entah dengan anda, tetapi saya merasakan ada kehangatan yang menyeruak masuk dalam jiwa.  Sebentar lagi natal.  Semua aktifitas natal dan akhir tahun yang sibuk seperti biasa membuat rasa yang berbeda.

Atmosfir yang selalu dinantikan sejak kecil. Suasana kekeluargaan yang berbeda. Reunian bersama teman dan kerabat. Pohon natal berbalut pernak-pernik meriah.  Lagu dan nada-nada natal yang selalu terasa nyaman.  Interior gereja yang berbeda. Mimbar yang terkesan kaku dikalahkan oleh pengaruh pohon dan dekorasi yang santai dan meneduhkan.

Saya kira ini akan menjadi natal yang indah. Tapi, saya merindukan sungguh ini bukan sekadar menjadi natal yang lain. Bukan natal yang sekadar terasa “indah” biasa dengan segala aksesorisnya. Bukan pula sekadar kemeriahan ibadah dan perayaan natal di gereja. Bukan karena seluruh anggota keluarga yang berkumpul. Tetapi, natal yang sekali lagi membawa pengingatan akan kasih Tuhan yang luar biasa.

Ini yang tidak mudah didapatkan. Kesukaan yang tidak pudar setelah 25 Desember berlalu. Kesegaran setelah 1 Januari lewat. Sulit menemukan kesenangan yang bertahan lama.  Padahal kesukacitaan inilah yang paling diimpikan.

Setelah puncak kemeriahan di malam natal (24) dan ibadah natal yang khusuk (25), seringkali tiba-tiba saja semua kesenangan terasa menguap pergi. Kebanyakan kesenangan natal kita segera pudar bahkan sebelum tengah malam 26 Desember datang.  Bahkan malam tahun baru pun terasa sebagai kesenangan “yang  lain”.  Itu paket yang berbeda dari natal yang terasa “rohani”.  Tidak heran hari pertama bekerja di awal tahun seringkali terasa sangat berat dilalui.  Selain I don’t like Monday, rupa ada juga I don’t like January.

Mengapa ya semua kesukaan natal mudah sekali menguap?

Saya pikir itu terjadi karena alasan yang sederhana, yaitu karena memang kita tanpa sadar lebih banyak menggantungkan alasan kesukacitaan kita pada pesta, perayaan, suasana, dan “atmosfir” yang umum terasa pada saat natal.  Kita terlalu menggantungkan harapan kita untuk bersukacita pada event, bukan pada Pribadi Tuhan yang hadir.  Kebanyakan orang, tanpa sadar, lebih menggantungkan alasan kesenangan kita pada lampu natal, pohon natal, dekorasi, dan kado–sementara kita semakin kurang memikirkan arti kehadiran Tuhan melalui natal. Tidak heran ketika pohon natal mulai disimpan, lampu-lampu hias diturunkan, drama natal yang haru berakhir, semua alasan kesukacitaan kita pun seakan direnggut untuk disimpan. Ditutup dengan kain dan plastik. Dimasukkan ke dalam gudang.  Untuk dibuka kembali satu tahun kemudian.

Betapa bodohnya kita selama ini yang tanpa sadar melewati natal hanya sekadar seperti itu.

Saya berharap saya tidak sekadar melewatkan natal yang lain akhir tahun ini. Saya ingin menikmati natal sebagai “natal” dalam alasan yang sebenarnya. Natal ini ada bukan sekadar untuk memasang pohon, lagu, dekorasi, dan aksesoris yang menyenangkan sejenak. Tetapi natal ini ada untuk mengingatkan kembali betapa beruntungnya saya memiliki Tuhan yang begitu mengasihi saya.

Lalu, apa yang saya lakukan untuk dapat menikmati natal dengan keindahan yang bertahan lama?

Inilah yang saya lakukan. Saya memulai natal lebih cepat. Saya bangun setiap pagi berdoa bersyukur untuk kehadiran Tuhan dalam kehidupan saya sejak minggu terakhir November.  Berterimakasih dan mengucap syukur untuk natal sebelum pohon, lampu dan hiasan mulai bergelantungan di rumah dan di gereja setidaknya menolong saya lebih fokus bersukacita karena Tuhan dalam natal, bukan alasan yang lain.

This works for me!  Hal ini cukup berhasil baik buat saya.  Saya kira adalah sangat tidak merugikan jika anda pun mencobanya. 

Katakan setiap hari dengan penuh kesungguhan dalam doa-doa anda setiap hari sepanjang Desember ini, “Selamat ulang tahun, Tuhan Yesus.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s