Selalu Bersyukur

Suatu kali ada seorang raja yang senang sekali berburu jauh dari kerajaannya. Dalam setiap perjalanan berburu, ia selalu didampingi oleh penasihat dan pengawalnya. Suatu hari dalam sebuah perburuan, entah bagaimana, sang raja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan jari kelingking kirinya terputus karena anak panah. Sang raja merasa begitu sakit dan jengkel luar biasa walaupun hal itu terjadi karena kelalaiannya sendiri. Untuk menenangkan hati sang raja, si penasihat berkata pelan kepadanya, “Sudahlah Raja, tentu ada maksud yang baik dari segala peristiwa buruk. Bersyukurlah setidaknya Raja tidak mengalami bencana yang mengancam nyawa Raja.” Mendengar hal itu, bukannya tenang, sang raja justru begitu marah dan memerintahkan si penasihat untuk di penjara. “Lihatlah, apa yang baik bagimu jika engkau dipenjara.”

Maka raja pun kemudian mendapatkan seorang penasihat baru untuk mendampinginya. Setelah lewat beberapa masa, raja pun kemudian berangkat berburu lagi dengan didampingi oleh penasihat baru dan para pengawalnya. Kali itu pun terjadi hal yang mengerikan. Sang raja dan rombongannya tanpa sadar memasuki sebuah wilayah perkampungan suku asing. Dalam pertempuran, seluruh pengawal terbunuh sehingga raja dan penasihat pun tertangkap.

Tak disangka, suku asing itu memiliki ritual kepercayaan mempersembahkan orang-orang asing bagi dewa yang mereka sembah dengan cara dibakar hidup-hidup. Maka disiapkanlah sebuah upacara untuk mempersembahkan sang raja dan si penasihat. Begitu ketakutanlah sang raja dan penasihatnya mengetahui hal itu. Namun, ketika segala sesuatunya sudah siap, seluruh anggota suku sudah siap, pembakaran sudah siap; beberapa orang suku asing itu mengetahui bahwa salah satu dari orang yang akan mereka persembahkan tidak memiliki jari yang lengkap. Lalu mereka pun melepaskan sang raja, dan hanya membakar si penasihat.

Singkat cerita, sang raja sampai pulang ke kerajaannya dengan begitu bersyukur. Ia teringat dengan perkataan penasihatnya yang dipenjara, dan menyuruhnya dilepaskan. Raja bahkan memberikan jabatan penasihat itu kembali padanya. Sang raja tersenyum dan berkata, “Benar apa yang kau katakan. Dulu aku begitu marah kehilangan satu jariku, namun sekarang aku tahu bahwa sepatutnya bersyukur untuk hal itu. Jika saja aku tidak kehilangan jariku, aku pasti sudah mati.” Si penasihat menjawab, “Terima kasih Baginda telah memenjarakan hamba selama ini.” Raja kaget dan bertanya, “Apa maksudmu?” “Jika saja Baginda tidak memenjarakan hamba, maka pastilah hamba yang sudah mati dibakar oleh suku asing itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s