Pola Doa Tuhan Yesus

Sepanjang sejarah kehidupan orang percaya salah satu pertanyaan yang terus menerus ditanyakan—umumnya oleh orang yang baru percaya—adalah bagaimana seharusnya saya berdoa? Lukas 11:1 mengisahkan kepada kita tentang murid-murid Tuhan Yesus meminta, “Tuhan, ajarlah kami berdoa…”. Dan pada waktu itulah Tuhan Yesus mengajarkan kepada mereka mengucapkan Doa Bapa Kami.

Mari kita memperhatikan Markus 14:36 untuk memperhatikan lebih dalam bagaimana Tuhan Yesus berdoa. Kita akan memperhatikan pola doa Tuhan Yesus yang dapat kita teladani. Kita akan belajar bahwa…

Doa yang sejati sesungguhnya membutuhkan pengenalan yang benar akan Allah

Menurut teladan doa Tuhan Yesus, pengenalan seperti apakah yang perlu kita miliki tentang Allah ketika kita berdoa?

1. Mengenal Allah sebagai Bapa [Ya Abba, ya Bapa]

Sebutan Allah sebagai bapa atau ayah bukanlah suatu sebutan yang umum pada masa Tuhan Yesus. Para ilah atau para dewa yang banyak dikenal pada masa itu merupakan tokoh yang seakan-akan menguasai hidup manusia. Orang-orang tunduk pada para dewa atau ilah mereka sebagai pribadi yang jauh, yang sewaktu-waktu dapat melakukan apa pun dalam hidup mereka. Jika para ilah atau dewa ini tidak senang, maka bencana akan menimpa kehidupan mereka. Karena itulah para penyembah berhala ini terus menerus—secara berkala—harus mempersembahkan sesuatu untuk “menyogok” ilah atau dewa mereka agar tidak memberikan bencana. Para ilah dan dewa menjadi pribadi yang tidak tergapai, tidak terjangkau, jauh, sewenang-wenang, dan harus selalu disenangkan dengan persembahan. Tetapi Tuhan Yesus memanggil Allah sebagai Bapa. Dan sejak itulah orang-orang percaya memanggil Allah sebagai Abba, Bapa (Rm. 8:15).

Apa pentingnya mengenal Allah sebagai Bapa?

Kita adalah orang-orang yang beruntung memiliki Tuhan sebagai Bapa. Sebagai Bapa, Tuhan bukanlah Tuhan yang otoriter. Ia tidak sewenang-wenang. Ia bukan Tuhan yang suka mendatangkan bencana dalam hidup kita. Ia bukan Allah yang terus menerus harus kita sogok atau suap agar Dia mau mengasihi dan memberikan berkat bagi kita.

Sebagai Bapa, Ia tentu tidak akan memberikan “batu jika kita minta roti”, Ia tidak akan memberikan “ular ketika kita minta ikan” (Mat. 7:9). Kita beruntung memiliki Allah yang mengasihi kita seperti seorang ayah mengasihi anaknya. Mengenal Allah sebagai Bapa menunjukkan bahwa kita tahu bahwa kita memiliki status istimewa sebagai anak yang dikasihi oleh Tuhan.

2. Mengenal Allah sebagai Pribadi yang Berkuasa [tidak ada yang mustahil bagiMu]

Frasa yang kedua ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus percaya bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu. Allah berkuasa menyembuhkan segala sakit penyakit. Ia sanggup menghentikan gerakan matahari. Tuhan sanggup membelah laut Merah. Allah berkuasa atas segala kemustahilan bagi manusia. Allah sanggup dan Allah mampu melepaskanNya dari ancaman salib tersebut.

Ketika kita berdoa, kita pun perlu sungguh-sungguh percaya bahwa Allah sanggup menolong kita. Dalam keadaan atau tekanan seperti apa pun, Tuhan sanggup. Tidak ada yang mustahil bagi Dia. Dengan iman kepada Allah yang Maha Kuasa inilah kita hidup. Mengapa kadang doa-doa kita terasa hampa? Salah satu penyebabnya adalah karena kita kurang percaya kepada Tuhan. Kita ragu, “mungkinkah Tuhan mampu menolong kesulitan saya yang begitu hebat?” Keraguan inilah yang membuat doa kita terasa hampa. Kosong. Sia-sia. Tanpa sadar, ketika kita tidak percaya atau ragu mau-tidak-mau doa pun menjadi terasa kering.

Karena itulah sebelum kita berdoa, sebelum kita memohon sesuatu kepada Tuhan, tanyakan pada diri kita sendiri, adakah saya percaya bahwa tiada yang mustahil bagi Tuhan? Adakah saya percaya bahwa Tuhan sanggup menolong saya? Jika saudara percaya, lanjutkanlah berdoa! Jika saudara masih ragu, ingatlah Tomas yang tidak percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus. Jika saudara sulit percaya, berdoalah sederhana, “Tuhan, berikanlah iman yang teguh supaya aku boleh percaya bahwa Engkau berkuasa atas segala kemustahilan yang kupikirkan.” Baru kemudian, berdoalah.

Mengenal Allah sebagai Pribadi yang Berkuasa menolong kita memiliki iman percaya yang kuat akan Tuhan.

3. Mengenal Allah sebagai Pribadi yang mendengar segala permohonan [ambillah cawan ini daripadaKu]

Cawan pada masa itu merupakan simbol pergumulan, penderitaan atau kesulitan yang hebat dalam hidup—bahkan kematian. Bagi Tuhan Yesus cawan itu adalah salib yang dihadapinya. Banyak orang berpikir bahwa penderitaan Tuhan Yesus bermula ketika Ia mulai memanggul salib besar itu menuju Golgota. Bukan! Itu tidaklah tepat. Tekanan yang dirasakan oleh Tuhan Yesus telah dimulai ketika Ia berada di Taman Getsemani malam itu. Ingatlah bahwa Yesus juga adalah Tuhan yang Maha Tahu, Ia tahu apa artinya salib itu sebelum ia memanggulnya. Tuhan Yesus dapat merasakan segala sakit dan penderitaan di kayu salib itu sebelum Ia harus dipaku dan dipancangkan ke tanah. Ia dapat merasakan darahNya sendiri mengalir keluar sebelum mahkota duri dan paku besar itu menembus tubuhnya. Bisakah saudara bayangkan apa yang Yesus lalui malam itu. Cawan itulah ingin Tuhan Yesus hindari. Dan Itulah yang Tuhan mintakan kepada Bapa. Yesus jujur kepada Tuhan apa yang ia inginkan. Ia mengatakannya dengan jelas, “ambillah cawan ini daripadaKu.”

Sdr, kita pun selalu memiliki kesempatan untuk mengatakan apa pun yang kita inginkan kepada Tuhan. Kita boleh mengatakan apa pun yang ingin kita katakan kepadaNya. Kita tidak perlu ragu. Allah ada di sana dan Ia mendengarkan kita. Ia memperhatikan apa yang kita katakan. Ia mendengar apa yang kita minta.

Mengapa kadang—atau mungkin malah sering—kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan dari Tuhan? Salah satu sebabnya adalah karena kita tidak berdoa, tidak meminta kepada Tuhan. Mungkin sekali itu karena kita berpikir, “kalau Tuhan sayang kepada saya, seharusnya Dia tahu apa yang saya inginkan jadi saya tidak harus berdoa.” Ini adalah kesalahan umum yang banyak dilakukan orang percaya. Inilah juga mungkin alasannya mengapa kebaktian doa di banyak gereja selalu hanya dikunjungi kurang dari 15% persen jemaatnya. Gereja selalu menuntut diri untuk berkembang, tetapi bagaimana bisa bertumbuh tanpa berdoa?

Dengan meminta kepada Tuhan, kita menaruh pengharapan kita kepadaNya. Dengan berdoa, kita menggantungkan hidup kita kepadaNya. Inilah yang Tuhan inginkan—agar kita senantiasa berserah dan bergantung kepada Tuhan. Kita menginginkan sesuatu dalam dunia ini, siapa sih yang menciptakan segala keberadaan dalam dunia ini? Kepada Dialah kita seharusnya meminta dan berdoa.

Mengenal Allah sebagai Pribadi yang mendengar doa menunjukkan bahwa kita mengimani bahwa Ia adalah Allah yang peduli.

4. Mengenal Allah sebagai Pribadi yang Maha Tahu [tetapi bukanlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki]

Tuhan Yesus telah mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihinya, yang sanggup menolongnya dari segala kemustahilan, dan Ia telah mengatakan apa yang diinginkanNya. Kalimat yang terakhir ini merupakan penyerahan dirinya secara utuh kepada Tuhan. Berserah penuh. “Tuhan, [1] saya tahu Tuhan mengasihi saya. [2] Saya tahu Tuhan sanggup melakukan sesuatu untuk menolong saya. [3] Saya telah mengatakan apa yang saya inginkan. Sekarang, [4] Tuhan, saya menyerahkan diri kepada Tuhan secara utuh. Saya percaya Tuhan akan menolong saya seturut dengan waktu dan kehendak Tuhan.”

Dengan mengatakan kalimat terakhir ini kita memberikan seluruh kendali kehidupan kita kepada Tuhan. Kita memberikan keleluasaan kepada Tuhan untuk menolong kita. Kita tidak membatasi pekerjaan Tuhan untuk menolong kita. Mungkin Tuhan tidak mengerjakan seperti yang kita inginkan, tetapi Dia akan menolong kita tepat pada sasarannya—seturut dengan waktu dan kehendakNya. Dengan demikian yang perlu kita lakukan adalah menantikan Tuhan.

Mengenal Allah sebagai Pribadi yang Mahatahu menolong kita sabar menantikan waktu dan cara terbaik Tuhan untuk menolong setiap pergumulan kita.

Penutup. Dari perenungan ini, kita tahu bahwa sesungguhnya doa bukanlah sekedar berkata-kata kepada Tuhan. Doa bukanlah sekedar meminta dan mau “tahu-beres” dari Tuhan. Doa bukan soal kata-kata yang indah. Doa adalah pengenalan kita akan Allah. Doa membutuhkan pemahaman yang benar akan Allah. Bukan soal rangkaian kata-kata, tetapi soal relasi hati yang dekat dengan Tuhan. Doa bukanlah sekadar komunikasi, tetapi lebih merupakan relasi. Karena itu adalah penting bagi setiap kita untuk lebih merindukan Tuhan sebagai Pribadi, bukan sekadar menginginkan berkatNya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s