Manajemen Keuangan, Manajemen Keinginan

Mazmur 10:3 | Amsal 21:5

Pendahuluan. Michael Vick adalah seorang pemain belakang liga NFL yang sangat populer di Amerika. Penghasilannya pada tahun 2006 saja senilai 15 juta dolar atau sekitar Rp 150 milyar. Yang berarti penghasilannya sebulan senilai duabelas setengah milyar. Lebih detil lagi itu berarti Ia digaji sekitar 80 juta per jam. Luar biasa, ya?

Sayangnya, kebodohannya mengelola uangnya telah membuatnya terpaksa tinggal di penjara hari ini. Entah mengapa, Ia sangat suka mengadu anjing. Tidak heran, Ia membeli banyak anjing petarung yang mahal untuk dijadikan jagoannya. Masalah muncul karena seekor anjing petarung yang dibelinya senilai enamratus juta rupiah mati karena terlalu sering diadu. Begitu diketahui oleh para pecinta hewan, Michael dilaporkan ke polisi karena menganiaya binatang sampai mati. Hukum mengenai perlindungan hewan di Amerika membuatnya harus rela di penjara selama dua tahun.

Apakah Ia sudah cukup menderita karena di penjara? Belum. Ia harus merogoh koceknya senilai 9,3 milyar untuk menghidupi seluruh anjing petarung peliharaannya sampai mati dalam kenyamanan. Anjing-anjing itu hidup dengan sangat nyaman sekarang. Makanan makanan anjing terbaik dalam kandang terbaik. Dan memiliki kekayaan sembilan milyar lebih sebagai hak mereka.

Karena di penjara, Michael kehilangan kontrak kerjanya di Atlanta Falcon. Klub ini saat bahkan melaporkan Michael juga ke pengadilan, menuntutnya memberikan ganti rugi puluhan milyar karena kerugian kontrak yang terjadi. IRS (dinas pajak) juga masih menuntutnya membayar pajak penghasilan senilai 10 milyar rupiah yang belum dibayarnya. Sebagian sisa uangnya yang masih milyaran pun habis untuk melunasi hutang kartu kreditnya yang memiliki limit tak terbatas.

Singkat kata, Michael jatuh miskin dalam hitungan hari. Dari hidup yang sangat glamor, Ia terpuruk habis di penjara. Dari gaji duabelas setengah milyar per bulan, penghasilannya sebulan sekarang hanya 12 dolar 89 sen. Atau, 130 ribu rupiah per bulan dalam penjara. Kini makanan anjingnya jauh lebih mahal daripada makanannya di penjara. Ironis.

Apa yang terjadi disini? Sebuah kehidupan hancur dalam hitungan hari hanya karena salah mengelola uangnya.

Peristiwa ini membuat kita belajar bahwa uang sungguh-sungguh bisa menghancurkan hidup. Kegemilangan hidup bisa justru membawa kita ke tempat yang paling buruk. Tepatnya, sedikit kesalahan dalam pengelolaan keuangan dapat membuat hidup seperti di neraka.

Anda mungkin berpikir, saya tidak mungkin kehilangan ratusan M sekejab karena tidak memiliki harta sebanyak itu. Tetapi, jangan lupa bahwa berapa pun yang anda miliki saat ini, sedikit kekeliruan bisa membuat anda kehilangan semuanya.

Dua minggu yang lalu, pertemuan tim kreatif mengemukakan sebuah fakta kebanyakan orang (termasuk mereka rasanya) tidak menyadari kemana uang mereka habis setiap bulannya. Penghasilan setiap bulan tidak pernah mencukupi pengeluaran. Kartu kredit yang sering dianggap malaikat penolong ujung-ujungnya justru paling membuat pusing.

Lalu bagaimana sebaiknya kita mengatur keuangan kita?

Hari ini kita akan belajar apa yang Firman Tuhan katakan mengenai hal ini. Ada satu kebenaran yang akan kita perhatikan hari ini… manajemen keuangan terbaik dimulai dari bijak mengelola keinginan. Bagaimana kita dapat mengelola keuangan kita secara efektif dan efisien dimulai dari bagaimana kita mengelola dan mengendalikan hati dan pikiran kita.

Apa hubungan antara keuangan dengan keinginan?

Saya kira, setiap kita mudah mengerti kaitannya. Keinginan yang tidak pernah puaslah yang seringkali menghabiskan uang kita tanpa arti. Keinginan memiliki handphone baru, laptop, baju baru, barang-barang menarik hati di pusat perbelanjaan… kesitulah kebanyakan uang kita berakhir. Keinginanlah yang umumnya membuat kita bangkrut, bukan kebutuhan. Inilah yang sangat penting untuk dikendalikan. Karena keinginan seringkali memburu-buru kita seakan harus dipuaskan sesegera mungkin. Disinilah awal jebakan banyak orang jatuh secara finansial.

Firman Tuhan dalam Mazmur 10:3 berkata, “Orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba (serakah) mengutuki dan menista TUHAN.”

Jelas sekali dikatakan bahwa terus berusaha memuaskan keinginan adalah perbuatan orang fasik. Siapa itu orang fasik? Orang yang terus hidup jauh dari Tuhan. Tidak mau hidup dalam kebenaran Tuhan. Orang yang tidak akan menikmati berkat Allah.

Mengapa meninggikan keinginan diri menjauhkan kita dari berkat Tuhan? Karena dorongan untuk memuaska keinginan dan keserakahan (keinginan mendapatkan yang lebih dari sewajarnya) dikatakan juga mudah membuat kita mengabaikan Tuhan.

Anda pasti sesekali atau bahkan sering menemukan beberapa orang berpikir urusan ke gereja dan Tuhan bisa nanti-nanti saja, sekarang yang penting cari uang dulu. Beberapa orang susah diajak ke gereja karena tidak rela menutup toko. Cari duit dulu, urusan Tuhan dan rohani nanti saja!

Anda ingin tahu bagaimana mengelola keuangan secara efektif? Mulailah dari mengendalikan keinginanmu. Manage-lah keinginan dan kebutuhan anda secara bijak.

Pentingnya Rencana Pengeluaran

Amsal 21:5, “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.”

Bagaimana cara mengendalikan keinginan di atas kebutuhan kita secara bijak? Firman Tuhan berkata dengan jelas bahwa rancangan atau perencanaan yang baik akan mendatangkan kelimpahan! Seluruh detil penerimaan dan pengeluaran anda harus DIRENCANAKAN! Dan mereka yang tidak menyempatkan diri akan terus mengalami kekurangan.

Rencana atau anggaran keuangan akan menolong kita tahu kemana uang kita pergi. Dan kita tidak lagi perlu terus berusaha mengingat-ingat kemana uang anda dihabiskan. Setiap kita harus memiliki rencana keuangan yang rapi. Jika anda tidak memiliki anggaran, anda sedang berjalan ke arah bencana. Anda tidak akan pernah mengalami kebebasan finansial—bebas dari stres karena uang dan hutang piutang. Itu firman Tuhan yang ajarkan.

Anda harus merencakan kemana uang anda akan digunakan.

Anda mungkin berkata catatan atau anggaran tidak akan menolong. Ah, hamba Tuhan ya gampang aja ngomong gitu. Lebih pintar sayalah yang sudah bekerja dan bergumul dengan uang selama bertahun-tahun. Tetapi, saya ingin anda mengingat baik-baik bahwa ini adalah apa firman Tuhan ajarkan.

Anda berpikir anggaran tidak akan menolong. Yang saya butuhkan hanyalah penghasilan atau gaji yang lebih besar. Jika saja penghasilan atau gaji saya lebih besar, pasti masalah saya akan selesai. Pasti hidup saya akan lebih terkendali. Saya beritahukan anda hari ini… anda tidak akan memiliki keuangan yang baik hanya karena penghasilan bertambah. Itu sebuah kebohongan yang kita sering katakan kepada diri kita sendiri.

Mengapa? Karena firman Tuhan berkata bahwa keinginan kita akan selalu lebih dari penghasilan kita. Anda selalu ingin membelanjakan lebih dari anda hasilkan. Selalu.

Kebebasan finansial tidak tergantung pada berapa banyak penghasilan anda. Tetapi bergantung kepada berapa banyak yang anda belanjakan. Tekanan keuangan kita tidak akan beres dengan penghasilan yang lebih, tetapi dari kedisiplinan mengurangi belanja (pengeluaran) anda. Pada dasarnya, berapa pun penghasilan anda, anda dapat memiliki keuangan yang merdeka.

Itulah alasan kuat mengapa firman Tuhan mengajarkan untuk membuat perencanaan.

Buatlah anggaran keuangan yang detil sebagai pedoman. Tuliskan dengan detil pemasukan anda dan rencanakan dengan detil pengeluaran anda sebaik mungkin dengan urutan prioritas yang disiplin. Secara sederhana kita dapatkan mengurutkan rencana pengeluaran kita menjadi lima bagian sbb.

1. Saya pasti butuhkan. i.e. Konsumsi. Biaya operasional rumah. Kebutuhan dasar rumah tangga. Kredit rumah.

2. Saya butuhkan untuk masa depan. i.e. Tabungan.

3. Saya butuhkan, tetapi bisa ditunda. e.g. Mengganti TV yang rusak.

4. Saya pikir saya butuhkan. e.g. Laptop. Handphone lebih dari satu. Simpan emas.

5. Saya inginkan. e.g. Barang-barang baru. Baju. Aksesoris. Mobil baru. Makan enak di restoran.

Pada prinsipnya, yang harus kita sangat perhatikan adalah kedisiplinan membedakan antara yang kita inginkan dan yang kita butuhkan. Antara keinginan dan kebutuhan, dari sinilah berkat atau kutuk kita dimulai. Bagaimana kita mengelola keinginan-keinginan kita akan menentukan segera apakah kita diberkati berlimpah atau terjerat kutuk hutang yang terus mengejar.

Saya kira kita bisa menyebutnya sebagai managemen keinginan. Tanpa pengendalian diri yang tepat keuangan kita akan memburuk. Dan itu berarti kita menempatkan keluarga kita dalam ancaman. Anak bisa berhenti sekolah. Tidak punya biaya berobat ketika anggota keluarga ada yang sakit.

Keinginan hanya memberikan kepuasan dan kesenangan sesaat—lalu umumnya mudah juga kita sesali. Dapat membeli handphone baru, senang sekali, setelah mengotak-atik beberapa hari dan melihat handphone teman yang entah mengapa terlihat lebih keren, kita sudah menyesal. Mampu kredit mobil baru, bangga sekali, tetapi setelah lewat dua-tiga minggu dan satu goresan, tiba-tiba mobil yang tadinya terasa keren kok jadi biasa-biasa saja. Apalagi setelah melihat mobil baru milik teman yang entah kenapa terlibat lebih keren.

Jika terus demikian, waspadalah. Keinginan hati anda tidak akan pernah berakhir… dan menjebak.  Mari berhati-hati dengan keinginan-keinginan kita. Sebab berkat Tuhan akan berkelimpahan hanya bagi mereka yang merancangkan dengan baik keuangan pribadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s