The Special Gift

Baru terjadi 6 Desember lalu, seorang pemuda bernama Robert Hawkins (19) masuk ke sebuah mal besar di kota Omaha. Dan menembakkan senapan mesin secara membabi-buta ke arah pengunjung mal di sekitarnya. 8 orang mati seketika dan 2 orang dalam kondisi kritis. Setelah puas menembak membabi-buta, pemuda itu menembak mati dirinya sendiri dengan senjata yang sama. Sebuah pesan bunuh diri yang ditulisnya berkata, “Aku tahu semua orang akan mengingatku sebagai monster atau semacamnya, tetapi mengertilah bahwa aku hanya tidak ingin menjadi beban bagi orang-orang yang kukasihi sepanjang hidupku. Aku hanya menginginkan sedikit perhatian bagi diriku sendiri.”

Betapa sebuah kehidupan yang sia-sia. Ibu pemilik kosnya berkata bahwa Hawkins baru-baru ini diputusi oleh kekasihnya. Ia juga dipecat dari pekerjaannya di McDonalds. Dan akhir pekan lalu, ia ditangkap karena masalah alkohol. “Ia seperti seorang anak anjing yang tidak punya arah tujuan dan tidak seorang pun menginginkannya.” Tidak heran jika dalam sebuah pengakuan Hawkins berkata bahwa Ia merasa dirinya hanyalah beban dan hanyalah sampah. Sampai akhirnya Ia memutuskan untuk bunuh diri dan mati terkenal. Betapa sebuah kehidupan masa muda yang sia-sia.

Adakah di antara kita yang hadir malam ini pernah merasakan rasa ketidakberartian hidup seperti yang Robert Hawkins alami? Adakah Saudara saat ini juga sedang merasa sangat jenuh dengan hidup dan masalah yang rasanya tidak pernah berhenti menghantui? Adakah di antara kita malam hari ini yang pernah berpikir untuk bunuh diri karena merasa begitu kecewa akan hidupmu? Sungguhkah hidup begitu tidak berharga dan tidak berarti sehingga tidak seorang pun peduli akan hidup kita?

Natal adalah sebuah bukti akan Allah yang peduli akan hidup Saudara dan saya. Natal adalah sebuah kegenapan kasih Allah yang rindu menyentuh kebutuhan kita yang terdalam untuk dikasihi. Kelahiran bayi mungil Kristus sesungguhnya adalah bukti akan Tuhan yang sungguh mengerti.

Bapa mengutus Anaknya yang tunggal bukanlah untuk bersenang-senang. Dia tidak datang untuk sekadar berkunjung dan melihat keadaan yang hancur dan kesulitan. Bayi Yesus tidak lahir di dunia sekadar iseng karena bosan dengan surga yang begitu sempurna. Dia lahir sebagai manusia untuk merasakan segala yang kita rasakan. Dia adalah Tuhan yang mengerti alasan kita tertawa. Juga Dia adalah Tuhan yang mengerti air mata kita. Dia Tuhan yang peduli akan hidupmu.

Karena itulah natal merupakan pengingatan akan sebuah hadiah istimewa Tuhan berikan bagi kita.

Mengapa hadiah ini begitu istimewa?

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Mengapa hadiah itu begitu istimewa dan penting sekali untuk kita ingat dan maknai pada hari Natal?

Hadiah ini bukanlah hadiah yang layak untuk kita terima

Mengapa hadiah ini tidak layak untuk kita terima?

Karena kita sendirilah yang telah memilih jalan kita sendiri untuk melawan perintah Allah dan berbuat dosa. Kita ini manusia yang berdosa, kotor dan najis dihadapan Allah. Apakah layak kita mendapatkan yang terbaik dari Tuhan sementara kita terus berkubang dengan dosa kita? Apakah layak kita mendapatkan penghargaan ketika kita justru melakukan perbuatan jahat?

Bayangkan ini, seorang teman sekolah atau kuliah kita (sebut saja si Cecep) adalah seorang yang luar biasa menjengkelkan. Setiap hari selalu terlambat kuliah setidaknya 1 jam kuliah. Setiap kali kuliah berlangsung semua orang tahu bahwa Cecep tidak pernah memperhatikan. Kepalanya selalu tertunduk ke bawah meja di depannya, main handphone tanpa henti. Seringkali sebelum kuliah berakhir, ia suka tiba-tiba keluar dari kelas dengan berbagai alasan untuk pulang. Surat palsu untuk absen tidak jarang dia buat untuk melegalkan keabsenannya di kelas. Beberapa kali dia bisa tiba-tiba setel wajah sakit atau murung sekadar akting untuk mendapatkan ijin keluar kelas.

Di luar jam kuliah, kerjaannya setiap hari hanya tidur panjang, main game online dan tidak pernah belajar. Semua orang juga tahu kalau dia terlibat dengan narkoba karena terlihat jelas dari sorot matanya setengah redup setiap saat. Alhasil, setiap tugas kuliah tidak pernah beres dan semua ujian tidak bisa dia kerjakan.

Suatu hari, pada akhir masa ujian, Cecep tertangkap tangan sedang mencuri laptop milik dosennya sendiri. Wah, semua orang jelas marah besar! Tetapi, bayangkan jika setelah semua perkara buruk yang dia lakukan, si Cecep akhir semester itu mendapatkan nilai A di seluruh mata kuliah. IP-nya 4,0. Lulus dengan gelar cum laude. Ketua yayasan kampus lalu mengangkat Cecep menjadi dosen dan rektor di kampus itu. Gajinya setiap bulan senilai seratus juta rupiah. Kampus memberikan rumah dan mobil BMW baru sebagai bonus.

Apa yang kita pikirkan jika semua ini terjadi? Bah, yang benar saja!

Kita pasti merasa bahwa Cecep amat sangat tidak pantas untuk mendapatkan seperti itu perlakuan itu. Seharusnya ia dihajar habis-habisan seperti pencuri yang tertangkap di pasar. Seharusnya ia masuk penjara. Seharusnya ia dikeluarkan dari sekolah. Seharusnya ia direhabilitasi. Tentu tidak seorang pun setuju akan segala hadiah yang ia terima. Tidak pantas.

Namun, sesungguhnya natal memberikan kepada kita hal yang sama. Hadiah terindah yang kita terima pada natal pertama sesungguhnya tidak layak kita terima.

Apakah pantas kita mendapatkan hadiah untuk setiap kenajisan dosa yang telah kita perbuat? Apakah saudara merasa pantas mendapatkan hadiah yang indah mengingat dosa-dosa yang engkau perbuat ketika engkau sendirian dan tidak seorang pun tahu apa yang kau lakukan?

Mengapa hadiah ini begitu istimewa?

Karena kita, manusia berdosa, tidak pantas menerimanya, namun Allah memberikannya juga bagi kita.

Ilustrasi. Beberapa tahun yang lalu di sebuah musim panas di Florida bagian selatan, seorang anak kecil memutuskan untuk pergi berenang di sebuah danau di belakang rumahnya. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar pintu belakang sambil melepaskan sepatu, kaus kaki dan kaosnya, terjun ke air yang dingin. Dia berenang dan berenang terus tanpa disadarinya bahwa dia sudah berada di tengah-tengah danau. Bersamaan dengan itu, seekor buaya besar juga sedang berenang ke arah yang sama. Ibunya dari dalam rumah memandang ke arah jendela dan melihat anaknya dan buaya tersebut semakin lama semakin mendekat satu dengan yang lain. Dengan ketakutan yang luar biasa, dia berlari ke dekat pinggir danau tersebut sambil berteriak kepada anaknya dengan sekuat tenaga. Ketika mendengar teriakan ibunya, anaknya sadar dan berbalik berenang ke arah ibunya. Namun terlambat. Buaya besar tersebut sudah berhasil menjangkaunya. Dari dermaga, sang ibu menggapai lengan anak lakinya bersamaan dengan buaya besar tersebut menyambar paha dari anaknya.

Terjadilah tarik-menarik yang sangat mengerikan antara keduanya. Tentu saja, buaya besar tersebut jauh lebih kuat dari ibunya, namun demikian ibunya bertahan mati-matian untuk tidak menyerah dan membiarkan anaknya terlepas. Seorang petani yang kebetulan lewat di sekitar lokasi mendengar teriakan ibu tersebut, bergegas turun dari mobilnya dan menembak buaya besar itu. Gigitan maut buaya itu terlepas memang, namun jelas telah melukai anak itu begitu parahnya.

Secara luar biasa setelah berminggu-minggu di rumah sakit, anak laki-laki tersebut berhasil diselamatkan dan disembuhkan. Yang menarik adalah bahwa bekas luka yang unik pada tubuhnya. Luka-luka pada tubuhnya seakan terbagi dua bagian: bagian paha ke bawah dan bagian lengan ke atas.

Pahanya penuh dengan bekas luka dari serangan buaya yang sangat ganas itu dan di bagian lengannya juga terdapat bekas luka cakaran dari kuku-kuku ibunya yang menancap pada daging lengannya sebagi usaha mempertahankan nyawa anaknya yang dikasihinya. Setelah lewat masa-masa traumanya, seorang wartawan surat kabar yang mewawancarai anak laki-laki tersebut meminta dia untuk menunjukkan bekas luka-luka di pahanya. Anak tersebut kemudian mengangkat celananya, namun dia secara bangga juga berkata kepada si wartawan, “Lihat bekas luka-luka di tanganku. Luka ini terjadi karena ibu tidak pernah menyerah dan tidak melepaskan aku.”

Aplikasi

Kita semua punya bekas luka-luka, bukan dari gigitan buaya atau binatang yang lain, tapi kita memiliki bekas luka pada hati kita. Ada waktu dimana kita merasa Allah menjahati kita. Ada waktu engkau meragukan Dia. Engkau mungkin melihat luka-luka itu sebagai sesuatu yang buruk dan menyakitkan. Namun kalau kita dapat melihatnya dari sudut pandang Tuhan, kita dapat melihat itu semua sebagai bukti kasih Allah yang tidak rela melepaskan kita dari cengkeraman “si jahat”.

Seperti sang ibu dan buaya yang lapar itu, Tuhan berhadapan muka dengan iblis untuk menarik kita pada keselamatan, kehidupan yang berharga, kebahagiaan. Allah tidak ingin kita menyerah pada kesulitan, pergumulan, dan permasalahan apapun yang saat itu sedang engkau alami. Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Allah tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia peduli akan hidupmu. Dan inilah sejatinya natal bagi pribadi kita masing-masing seharusnya.

Adakah natal ini hatimu masih tersentuh secara pribadi oleh kelahiran Tuhan Yesus? Atau adakah natal sudah sekadar menjadi sebuah kesibukan gerejawi yang melelahkan?

Adakah hidup kita dipenuhi dengan sukacita karena hadiah terindah telah diberikan kepada kita? Adakah hati kita masih dipenuhi dengan ucapan syukur?

Mari pada natal ini, kita menerima hadiah istimewa itu dengan berkata, “Tuhan Yesus… terima kasih untuk hadiah istimewa yang telah Engkau berikan. Sesunggguhnya aku tidak layak menerima hadiah seindah ini Tuhan, namun aku tahu sekarang bahwa hanya karena kasih dan kepedulianMu atas hidupku, maka aku telah menerimanya. Tuhan, jangan biarkan natal berlalu begitu saja akhir tahun ini. Namun, biarlah ini boleh menjadi sebuah penguatan dan penghiburan yang menguatkan kehidupan dan pelayananku di masa depan. Aku tidak sendirian. Aku bukanlah orang yang tidak berguna. Sebab Tuhan, Engkau saja telah memandangku begitu berharga. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s