Setelah Natal Berlalu

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. [Lukas 2:20]

Ilustrasi. Sebuah survey yang diadakan pada tahun 2002 menemukan sebuah fakta yang ironis mengenai perayaan natal dalam media televisi pada masa modern ini. National Religious Broadcasters (Lembaga Penyiaran Tayangan Religius Nasional) di Amerika menganalisa 48.000 jam program seputar natal pada Desember 2002 lalu. Hasilnya adalah bahwa 90% tayangan seputar natal tersebut sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan hal kerohanian. Ada juga sekitar 7% tayangan bernuansa rohani, tetapi sama sekali tidak menyinggung langsung mengenai Tuhan Yesus yang lahir. Sisanya menunjukkan bahwa hanya 3% program televisi bertema natal yang memfokuskan tema pada Tuhan Yesus. Hanya 3%! Betapa ironis. Lalu, dimanakah Tuhan Yesus dalam 97% tayangan bertema natal lainnya? Entahlah.

Yang jelas, telah sangat nyata bahwa sesungguhnya banyak orang merayakan natal hanya sebagai sebuah perayaan, kesenangan, momen nostalgia, masa liburan yang menyenangkan. Natal dilewatkan sebagai sebuah masa bersenang-senang. Banyak orang menikmati natal tanpa Tuhan Yesus. Tanpa merasa perlu tahu atau merenungkan kembali kelahiran bayi natal. Natal tanpa Tuhan Yesus, itulah ironisnya yang banyak terjadi dewasa ini.

Perhatikan saja lagu-lagu natal yang kita sering kita dengar dari album penyanyi-penyanyi dunia yang kita miliki. Cermati. Adakah Tuhan Yesus yang menjadi tema dalam lagu-lagu tersebut? Sedikit sekali.

Hampir seluruh dunia bergempita merayakan natal secara luar biasa setiap tahun. Namun, sedikit sekali perjumpaan dengan Tuhan Yesus di sana. Tidak heran jika kemudian setelah natal berlalu yang tersisa hanyalah kelelahan dan beban baru yang harus dilakukan. Tidak heran jika natal tidak banyak lagi meninggalkan jejak rohani bagi masing-masing kita. Tidak heran jika natal tidak lagi membawa perubahan.

Jika kita mau jujur, berapa banyak di antara kita yang masih meneteskan air mata haru pada malam natal yang baru lewat minggu lalu?

Perjumpaan banyak orang dengan Kristus dalam Perjanjian Baru telah menjadi natal yang mengubahkan bagi masing-masing pribadi.

Keistimewaan berkat natal pertama itu telah diberikan kepada para gembala. Malam itu Yesus bukan hanya lahir di Betlehem, namun bayi natal itu lahir juga dalam hati para gembala. Dan itulah alasan mengapa sejak hari itu diubahkan menjadi gembala yang tidak biasanya lagi. Kehidupan mereka tidak lagi datar dan monoton, dikatakan, “kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang telah mereka dengar dan mereka lihat.”

Dan sejak hari itu, natal tidak pernah berhenti terjadi sampai hari ini.

Secara etimologis, natal memiliki arti harafiah “lahir” atau “kelahiran”. Dan kelahiran bayi Yesus di Betlehem duaribu tahun yang lalu, tidak lebih penting daripada kelahiran Tuhan Yesus dalam hidup kita.

Seperti Bartimeus, si buta, yang mengalami natal ketika Tuhan mencelikkan matanya. Hidupnya diubahkan. Ia tahu persis betapa ia diberkati. Hari perjumpaannya dengan kasih karunia Kristus adalah hari natal pribadi. Kelahiran barunya. Hari itu telah menjadi natal baginya sekalipun ia sama sekali sekali tidak pernah bertemu dengan bayi Yesus. Namun, hidupnya tidak lagi pernah akan sama. Perjumpaannya dengan Kristus telah menjadi natalnya.

Dan firman Tuhan berkata orang-orang yang menerima kasih karunia Kristus kemudian hidup untuk memuliakan nama Tuhan. Mereka menceritakan segala pekerjaan ajaib yang telah Tuhan Yesus lakukan. Mereka menceritakan natal mereka untuk dapat menjadi natal bagi orang lain.

Beberapa catatan Injil Lukas menjelaskannya dengan indah.

Luk. 5:25 Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. [Seorang lumpuh yang dibawa di atas tempat tidur]

Luk. 13:13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. [Seorang wanita yang telah kerasukan setan selama 18 tahun sehingga sakit bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak]

Luk. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring. [Yesus menyembuhkan 10 orang kusta]

Luk. 18:43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. [Yesus menyembuhkan seorang buta, Bartimeus (Mat. 20)]

Dalam hal ini, natal mereka telah menjadi natal yang bersifat kronos (momen yang mengubahkan kehidupan secara progresif, tidak terbatas waktu tertentu); bukan kairos (satu momen yang berlangsung sekali dan selesai). Sangat mungkin bahwa orang-orang yang disentuh oleh kasih karunia Kristus ini hanya bertemu dengan satu kali itu saja dalam hidup mereka. Dan, saya yakin, masing-masing pribadi juga tidak mengadakan perayaan sentuhan ajaib Kristus dalam hidupnya setahun sekali pada tanggal tertentu.

Natal, perjumpaan mereka yang pertama dan satu-satunya dengan Kristus itu saja cukup untuk mengubahkan kehidupan mereka.

Paulus, misalnya, tidak pernah memperingati natal pribadinya dengan Tuhan di ruas jalan ke Damsyik. Dan Ia terus progres dalam pelayanan dan hatinya untuk Tuhan. Apakah kehidupannya begitu sempurna dan tenang sehingga Ia tidak perlu mengingat kembali pertobatannya yang ajaib setahun sekali pada waktu tertentu? Tentu tidak! Kita tahu bahwa Paulus dapat dikatakan adalah seorang rasul yang paling banyak mengalami bencana dan penganiayaan. Namun, natal pertamanya cukup untuk membuatnya hidup sebagai pribadi yang mendapatkan kasih karunia.

Saya harap Saudara tidak salah menangkap maksud saya. Saya tidak sedang berkata bahwa perayaan natal kita beberapa hari ini sesungguhnya tidak penting dan tidak berarti. Tidak. Saya juga tidak sedang berkata, “Marilah mulai tahun depan kita berhenti merayakan natal dengan acara-acara setiap sekitar tanggal 25 Desember.” Tentu ini pun tidak. Yang ingin firman Tuhan ajarkan adalah bahwa sesungguhnya yang lebih penting adalah natal dalam diri kita yang sejati dan yang mengubahkan kehidupan kita secara progresif setiap hari sepanjang tahun—sampai waktunya Tuhan bagi kita tiba.

Natal seringkali hanya menjadi momen refreshing rohani setahun sekali. Jika kita terlalu mengagungkan natal sebagai perayaan, kita mudah sekali terjebak dengan aktifitas rohani yang menggila setiap bulan Desember. Kalau persiapan natal, barulah kita mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Kalau hanya ibadah atau persekutuan mingguan ya latihan seadanya saja sudah cukuplah. Kalau natal, bolehlah memberikan persembahan yang banyak, tapi kalau hari-hari biasa ya seadanya sajalah. Cukup. Tentu bukan seperti ini yang Tuhan mau!

Tuhan menginginkan kita memiliki semangat dan kegairahan natal setiap hari dalam kehidupan kita.

Mengapa sesungguhnya dunia tidak lagi membutuhkan hari natal? Karena dunia telah memiliki kita untuk menjadi penerima dan pembawa kasih karunia. Natal pribadi yang mengubahkan kehidupan itu hanya dapat dilakukan dengan keteladanan kasih karunia setiap hari. Pengampunan setiap hari. Hidup sebagai pribadi yang diampuni dan mengampuni. Hidup sebagai penerima anugerah dan pembawa anugerah. Hidup seperti para gembala tersebut yang melanjutkan hidup mereka “memuji dan memuliakan Allah”.

Jika saja kita cukup berusaha untuk hidup seperti ini, betapa indahnya masa depan hidup kita, gereja dan dunia. Betapa indahnya jika anak-anak Tuhan dapat melanjutkan semangat kasih karunia natal setiap hari bagi dunia yang hancur ini.

Ilustrasi. Tony Campolo merayakan ulang tahun seorang pelacur bernama Agnes di bar di Hawai pada pkl. 03.30 pagi. Harry, si pemilik bar, akhirnya bertanya, “Hei, kamu tidak pernah memberitahuku bahwa kamu seorang pendeta. Dari gereja macam apa kamu berasal?” “Aku berasal dari sebuah gereja yang mengadakan pesta ulang tahun bagi para pelacur pada jam 03.30 di pagi hari,” jawab Pdt. Tony Campolo.

“Tidak, kamu tidak berasal dari gereja seperti itu. Mana ada gereja seperti itu? Tidak ada! Jika benar ada, aku mau bergabung!” [Love Beyond Reason, p. 213]

Tidakkah kita semua menginginkannya? Tidakkah kita semua bergabung dengan sebuah gereja yang menerima kita apa adanya dalam kondisi seperti apapun? Tidakkah dunia membutuhkan penerimaan tanpa syarat seperti ini? Bukankah untuk orang-orang seperti itulah Bayi Natal lahir ke dalam dunia ini? Tidakkah kita semua menginginkan gereja seperti ini? Dan betapa kita sangat merindukannya karena begitu sulitnya menemukan gereja, anak Tuhan atau kekristenan yang semacam itu.

Yang jelas, gereja seperti itulah yang Tuhan Yesus dirikan. Siapa saja yang membaca Perjanjian Baru tahu bahwa Tuhan Yesus senang melimpahkan anugerah kepada mereka yang terabaikan, yang berdosa, yang dibuang, yang dijauhkan dari masyarakat. Tuhan senang melimpahkan anugerahNya kepada mereka yang bagi dunia telah dianggap hina dan kotor. Dan sebaliknya, orang-orang berdosa sangat senang walaupun hanya sekadar dekat denganNya. Karena mereka merasa diterima, disayang, diperhatikan walaupun menurut hitungan dunia mereka tidak layak mendapatkan perhatian itu.

Demikianlah seharusnya kekristenan. Seperti itulah seharusnya gereja. Itulah yang sepatutnya kita lakukan setelah natal berlalu.

Gereja bukanlah kumpulan orang-orang kudus. Sejatinya, gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa yang bobrok. Dan siapa yang lebih tahu akan hal ini selain masing-masing diri kita sendiri? Seberapapun rohani dan hebatnya pelayanan yang kita kerjakan, kita tahu beban dosa yang masih masing-masing kita lakukan secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Kita tidak mungkin dapat berani menjawab pertanyaan, apa baik dan hebatnya diri saya di hadapan Allah yang Mahatahu?

Ya, begitulah gereja. Begitulah anak-anak Allah. Setiap kita yang duduk di sini adalah orang-orang berdosa. Kita bukan orang kudus sejati. Namun… puji Tuhan, kabar baiknya adalah bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang telah menerima anugerah. Kasih karunia. Sederhananya, kita adalah orang berdosa yang beruntung.

Seperti seorang pekerja yang kerjanya malas-malasan, suka tidur di kantor, sesekali mencari keuntungan dari perusahaan, suka bikin gosip yang bikin pusing, kalau dimarahin malah bisa bales marah, tapi tiba-tiba eh… akhir bulan, terima gaji 500 juta dari bos besar. Sangat tidak masuk akal. Dan jelas tidak pernah terjadi di dunia.

Namun… peristiwa itu telah terjadi di antara dunia dan surga ketika bayi Yesus lahir. Kelahiran Bayi Natal menjadi jalan bagi kita orang-orang yang berdosa untuk mengenal dan hidup dalam anugerah. Momen natal menjadi pengingatan bagi kita betapa luar biasanya kasih Allah bagi kita masing-masing.

Kita yang disebut sebagai anak-anak Allah, seringkali masih sesekali bersinggungan dengan jalan yang mendukakan hati Tuhan. Kita sebagai anak-anak terang, seringkali masih hidup tidak bedanya dengan anak-anak kegelapan. Kita malas ke gereja, malas pelayanan, tidak punya hati untuk memberi, pelayanan setengah hati, namun… toh natal tetap terjadi. Kasih Allah tetap untuk kita.

Sejatinya natal adalah

… untuk menjadi penyembuh bagi segala luka dan kehancuran hati dunia

… untuk mengobati segala kekecewaan kita atas pengharapan palsu yang dunia tawarkan

… untuk melumasi sendi kegerakan semangat kehidupan yang telah kering

… untuk memberikan damai sejahtera sejati

… untuk memulihkan segala luka batin kita

sebab hanya “natal” yang memberikan kepada kita segala jawaban atas pertanyaan kita akan kehidupan dan kematian.

Biarlah kepada kita yang telah menerima anugerah ini tidak menjadi tawar hati. Tetapi, justru kegairahan yang baru menyegarkan hati dan semangat kita untuk melanjutkan hidup dan pelayanan bagi Tuhan. Hanya dengan cara inilah, natal menjadi natal yang berarti dalam hidup pribadi kita. Dengan cara inilah, natal menjadi berarti bagi dunia.

Baiklah seperti para gembala, setelah natal ini berlalu, biarlah kita boleh hidup menjadi pembawa kabar baik akan anugerah Allah bagi sekeliling kita. Biarlah kita hidup senantiasa dengan kegairahan akan panggilan untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan.

Tuhan mengasihi kita supaya kita mengasihi. Tuhan mengampuni kita supaya kita mengampuni. Tuhan memberkati kita supaya kita memberkati. Tuhan mengorbankan kenyamanan dirinya bagi kita supaya kita pun rela mengorbankan kenyamanan diri kita bagi orang lain yang membutuhkan kasih kita. Biarlah kehidupan kita setelah natal sungguh boleh menggairahkan kita kembali menjadi berkat bagi banyak orang lain. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s