Bukan Sekadar Natal Berikutnya

Kurang dari enam minggu menjelang natal, seperti biasa saya mulai menulis naskah khotbah untuk pelayanan malam natal di gereja kami tengah bulan November seperti ini.  Sejak tema “Seharusnya Natal” menjadi semacam panggilan yang serius untuk digemakan natal ini di gereja kami memang saya terus memikirkan khotbah seperti apa yang Tuhan inginkan untuk diberitakan di tengah jemaat yang saya gembalakan. Namun, saya tidak pernah menduga betapa kuat pesan yang Tuhan bisikkan ketika saya mulai merenungkan dan menuliskan naskah khotbah itu. 

Malam minggu lalu (15/11) tepatnya saya mulai membuka laptop dan menuangkan apa yang Tuhan berikan. Perikopnya sangat sederhana dan klasik “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk. 2:7).  Sebenarnya ini tema yang sangat sering didengungkan setiap natal, tetapi entah mengapa, tiba-tiba saja semuanya menjadi begitu pribadi dan menegur ketika direnungkan secara pribadi:  Tuhan berada di tempat yang tidak sepantasnya… untuk saya.

Air mata saya mengalir mengiringi rasa bersalah yang menggelayut tiba-tiba. Istri dan anak saya pun tidak mengetahuinya, mereka tidur dengan pun pulas karena memang sudah lewat tengah malam ketika saya mulai duduk di depan laptop. 

Natal masih sekitar lima minggu lagi, namun pengalaman dua tahun ini mengajarkan bahwa menikmati natal dengan cara yang terbaik adalah mempersiapkan “perjumpaan” dengan bayi natal itu jauh hari sebelumnya.  Tidak seorang pun dapat menikmati natal yang “indah” tanpa melewati proses persiapannya yang panjang. 

Sebagian jemaat saya sering berkata natal berlalu tanpa kesan ketika mereka sama sekali tidak terlibat dalam kesibukan mempersiapkan pelayanan rangkaian ibadah natal.  Ketika natal hanya dinikmati sebagai suatu hari yang lain, tidak heran kita tidak akan menikmati apa-apa selain pesta dan keceriaan sesaat.

Saya merindukan hal yang sama natal ini. Biarlah ini tidak sekadar menjadi natal berikutnya untuk dilalui hanya dengan kesukaan sesaat. Bukan sekadar natal berikutnya yang membisikkan tipis kebahagiaan yang pudar dengan segera.  Bukan sekadar pesta natal. Bukan sekadar ibadah natal, bahkan.  Tetapi natal yang adalah natal–kelahiran sebuah alasan kesukacitaan yang tidak pernah pudar: Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s