Mistisisme dalam Budaya Jawa

Pelayanan kekristenan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk sesungguhnya sangat besar dipengaruhi oleh budaya dan filsafat Jawa yang menjadi kebudayaan terbesar yang berkembang. Falsafah kehidupan bernegara yang terwujud dalam rumusan Pancasila pun sesungguhnya mendapat pengaruh yang sangat besar dari budaya dan tradisi kehidupan masyarakat Jawa. Dengan demikian, adalah penting bagi kekristenan di Indonesia untuk sedikitnya memahami dan mengerti budaya dan filsafat Jawa untuk dapat menemukan pendekatan terbaiknya dalam pelayanan penginjilan di Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

Telaah mengenai budaya dan filsafat Jawa merupakan sebuah studi yang sangat luas dan memiliki beragam aspek yang kompleks. Karena itulah, penulis dalam makalah ini akan mempersempit pembahasan materi berkenaan dengan hal mistisisme yang berakar dalam budaya Jawa. Dalam sistematika penulisan makalah ini, penulis akan lebih dahulu memberikan sedikit gambaran tentang pemikiran religius masyarakat Jawa untuk kemudian memberikan pemaparan mengenai mistisisme dalam budaya Jawa. Berkenaan dengan mistik Jawa, penulis pun kemudian akan memberikan uraian mengenai perdukunan dalam budaya Jawa. Konsep Slamet sebagai wujud keselarasan kosmis-mistis  akan menjadi bahasan penutup mengenai mistisisme Jawa. Penulis berharap agar makalah ini dapat menjadi sebuah bahan studi yang berguna bagi perkembangan kekristenan di Indonesia, khususnya pelayanan dalam konteks budaya Jawa.

 

Pemahaman Jawa tentang Tuhan

Bagi orang Jawa yang mistis, transendensi Tuhan dimengerti sebagai “Tan kena kinaya (ng) apa”, artinya Tuhan adalah yang tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Sedangkan untuk menggambarkan imanensinya, Tuhan disebut sebagai “Sing Momong” yang dimengerti sebagai ‘yang mengasuh’.[1]  Dalam artian demikian, pribadi Tuhan menjadi pribadi yang terbuka untuk dimengerti berbeda oleh setiap orang. Setiap orang dapat memiliki gambaran ‘tuhan’-nya sendiri yang campur tangan secara pribadi maupun kelompok bagi masyarakat Jawa. Bagi masyarakat petani, misalnya, Tuhan dimengerti sebagai “sing ngedet lombok abang” atau yang mengecat cabai menjadi merah. Pada perkembangannya kemudian, orang Jawa mengenal sebutan Tuhan sebagai Hyang, yang berarti dewa, dari agama Hindu. Baru kemudian sesudah dipengaruhi Islamlah orang Jawa mengenal sebutan Allah.

Selain mengenal Tuhan yang transenden dan imanen sebagai Tuhan yang berpribadi (personal), orang Jawa juga mengenal Tuhan sebagai ‘kuasa’ yang adikodrati yang diidentifikasikan sebagai roh. Pemahaman ini jugalah yang kemudian membuat orang Jawa percaya bahwa benda-benda tertentu memiliki kuasa atau roh yang harus dihormati. Animisme dan dinamisme semacam ini berkembang dalam masyarakat sampai dengan hari ini. Masih ada begitu banyak rumah kosong, pohon dan batu besar,  bukit atau lembah yang dianggap sebagai tempat keramat. Tidak seorang pun boleh bertindak dan berlaku semena-mena terhadap benda-benda tersebut.

Orang Jawa pun menaruh percaya akan adanya benda-benda keramat yang bertuah. Keris, tombak, pedang, akik dan sebagainya dipercaya memberikan khasiat tertentu yang berguna untuk kesejahteraan hidup. Pada dasarnya kekuatan benda-benda tersebut adalah netral, tidak positif maupun negatif; tetapi benda tertentu bagi orang tertentu dapat mempunyai kuasa yang istimewa, seperti ‘pengasihan’ (mendatangkan kasih), ‘kawiryan’ (kemuliaan), dan ‘kekebalan’ (menolak penyakit).[2]

Bagi masyarakat Jawa, tokoh pemimpin rohani yang disebut ‘pendhito’, tokoh ‘pujangga’ atau penulis kitab kraton maupun tokoh politik di dalam jabatan raja, dipandang sebagai Tuhan yang ‘ngejawantah’.  Tuhan yang mewujudkan atau menampakkan diri di dunia.. Ungkapan ‘sabda pendhita ratu tan kena wolawali’ memberikan kesan bahwa bahwa raja sebagai tokoh politis dan pendhita sebagai tokoh rohani tidak mungkin berbuat salah. Karena itulah perintah mereka tidak perlu diucapkan berulang kali, tidak boleh diubah apalagi dibantah, melainkan harus dilakukan sesuai dengan perintahnya. Gelar raja seperti Hamengku Buwana (membingkai benua), Paku Buwana (paku dunia), dan Mangku Negara (memangku negara) telah menggam-barkan makna bahwa raja adalah penjelmaan Tuhan, sedikitnya menjadi wakil dan mandataris ilahi yang berkewajiban mengatur, memerintah, dan melindungi dunia ini.[3]

Dalam pandangan Jawa, manusia, alam dan kuasa adikodrati merupakan kesatuan integral yang tidak terpisahkan satu dari yang lain. Kehidupan dan nasib manusia ditentukan oleh alam, dan itu diterima sebagai kehendak ilahi yang menentukan nasibnya. Manusia yang menghendaki kesejahteraan di dalam hidupnya harus menciptakan suasana harmoni. Karena itu orang Jawa harus peka dan tanggap terhadap segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Suara ilahi dapat berbicara pada segala waktu, tempat dan keadaan.

Suara ilahi dapat berbicara melalui peristiwa alam, misalnya, gempa bumi, gerhana, gunung meletus, dan banjir. Seluruh gejala alam ini dapat diterima sebagai kuasa adikodrati yang menggunakan alam sebagai alatnya untuk berbicara kepada manusia. Apa yang terjadi dari gejala alam yang spektakuler tersebut akan dianggap sebagai rangkaian nasib dan takdir yang tidak terelakkan oleh masyarakat Jawa. Suara ilahi dapat pula berbicara melalui cara-cara lain, seperti melalui mimpi, dan melalui perintah atau nasihat raja atau pujangga. Media lain yang juga sangat mempengaruhi masyarakat Jawa dalam hal ini adalah ‘takhayul’. Buku primbon pun menjadi semacam buku pegangan wajib bagi orang Jawa dalam menafsirkan segala sesuatu dalam kehidupan.[4]

 

Mistik dalam Masyarakat Jawa

Lepas dari pengaruh keagamaan dan konsep ketuhanan dalam budaya Jawa, kehidupan masyarakat Jawa masih sangat dipengaruhi oleh mistik yang kental. Suasana mistis Jawa ini tidak akan sulit dirasakan begitu seseorang tinggal di tengah lingkungan masyarakatnya. Kentalnya mistisisme di Jawa ini sesungguhnya bukanlah sebuah hal yang baru karena sesungguhnya akar kebudayaan mereka berdasar pada hal-hal mistik sejak mulanya. S. de Jong dalam bukunya, “Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa” mengemukakan bahwa praktek mistisisme Jawa mulai berkembang lagi pada masa kini dengan melihat berkembangnya praktek kebatinan Jawa.[5]

Sejak dahulu mistik mewarnai kebudayaan dan sikap hidup masyarakat Jawa. Antara keadaan masyarakat yang nyata dan pandangan hidup yang bersifat magis-mistis terdapat suatu pertautan yang jelas.[6] Seperti Arjuna baru akan memperoleh kesaktian setelah ia berpuasa dan bersemedi, demikian pun pembangunan hanya dapat dilaksanakan bila diliputi oleh kebatinan.

Mistik Jawa tidaklah berdasarkan suatu doktrin tertentu. Namun demikian dalam aliran yang berbeda terdapat beberapa penekanan dan pandangan yang sama sbb.[7]

Kesatuan. Kebatinan selalu bertujuan mencari kesatuan di tengah-tengah beraneka macam gejala. Menurut pengalaman empiris, materi dapat saja dipisahkan dan dibedakan tetapi itu bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan empiris bukanlah kenyataan yang paling luhur dan paling benar. Pada akhirnya, setiap orang perlu mencari kebenaran hakiki yang meliputi segala sesuatu. Setiap pribadi merupakan percikan dari kesatuan hakiki tersebut dan ambil bagian di dalamnya. Benarlah jika kemudian disimpulkan bahwa semua aliran mistik mempunyai sifat antroposentris.

Manusia. Manusia terdiri dari batiniah dan lahiriah. Bagian batiniah adalah roh, sukma dan pribadinya. Bagian ini mempunyai asal-usul dan sifat ilahi.[8] Karena itulah batin merupakan kenyataan yang sejati. Sebaliknya bagian lahiriah manusia ialah tubuh dengan segala nafsu dan daya rohani. Tubuh merupakan wilayah kerajaan roh. Seseorang yang mampu menguasai tubuhnya akan disebut sebagai ‘satria pinandita’, seorang pahlawan sekaligus pendeta, juga sebagai seorang pujangga yang mengetahui akan banyak rahasia. Demikianlah tubuh dapat dibentuk menurut kehendak roh ilahi dan memulai perkembangan yang harmonis.

Perkembangan. Dengan melakukan evaluasi terhadap diri manusia, maka perkembangan dan kemajuan dunia pada prinsipnya dihalalkan. Perkembangan dan kemajuan sebetulnya merupakan usaha memulihkan kembali kesatuan yang harmonis dan selaras. Dengan mengejar kepentingan individual manusia mencari pamrih dan keuntungan diri sendiri; sebaliknya dengan mengejar atau menjalankan kebatinan manusia dapat membebaskan diri dari pamrih tersebut. Manusia harus bekerja dengan sepi ing pamrih[9] dan aktif. Kalau taraf ini tercapai, maka manusia telah sempurna menurut batinnya dan tujuan tertinggi dalam hidupnya tercapai.

Clifford Geertz mengemukakan kesimpulannya atas mistisisme Jawa dalam delapan buah rumusan sbb.[10]

1.      Dalam hidup keseharian manusia, perasaan ‘baik’ dan perasaan ‘buruk’, ‘kebahagiaan’ dan ‘ketidakbahagiaan’, adalah bersifat natural dan tidak dapat terpisahkan. Tidak seorang pun dapat bahagia senantiasa, dan juga tidak ada seorang pun yang akan terus menerus tidak bahagia. Segala sesuatunya berjalan bergantian hari demi hari. Tujuan kehidupan bukanlah untuk menghindari ketidakbahagiaan ataupun memaksimalkan kebahagiaan, melainkan meminimalkan keduanya sekecil mungkin agar pribadi dapat mencapai perasaan kepenuhan yang sejati. Tujuan kehidupan adalah ‘tentrem ing manah’ —kedamaian dalam hati.

2.      Dibawah permukaan atau dibelakang perasaan manusia sesungguhnya terdapat sebuah perasaan murni yang bernilai, yaitu rasa —yang merupakan diri pribadi yang sesungguhnya dari manusia (aku) dan juga merupakan manifestasi dari Gusti Allah di dalam pribadi manusia. Kebenaran dasar bagi kaum priyayi terwujud dalam rumusan: rasa = aku = gusti.

3.      Tujuan religius seorang manusia seharusnya adalah untuk menemukan dan merasakan rasa yang pokok ini di dalam dirinya. Hasil dari penemuan ini akan memberikan kuasa spiritual yang dapat digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan dalam dunia ini.

4.      Untuk mendapatkan ‘pengetahuan’ tersebut akan rasa, seseorang harus memiliki kehendak yang tulus (murni), harus memusatkan diri kepada diri yang di ‘dalam’ untuk satu tujuan fokus ini. Disiplin yang perlu dilakukan untuk tujuan ini adalah berpuasa, tetap terjaga dan tidak melakukan hubungan seksual. Semedi merupakan usaha sejangka waktu tertentu untuk memisahkan diri dari dunia untuk tujuan ini.

5.      Sebagai tambahan bagi disiplin rohani dan meditasi, studi empiris mengenai kehidupan emosional manusia, psikologi metafisikal juga akan menolong untuk mengerti dan mengalami rasa.

6.      Karena semua orang mempunyai perbedaan dalam kemampuan melakukan disiplin rohani, dan kenyataan bahwa tidak semua orang mampu melakukannya, maka adalah mungkin untuk menilai pribadi menurut kemampuan rohani dan keberhasilan mereka. Sistem ranking yang dapat diterapkan dalam relasi antara guru-murid agar guru dapat memiliki murid-murid yang lebih berkembang; di sisi lain, murid yang berkembang pun dapat melanjutkan pembelajarannya dengan lebih baik.

7.      Pada tingkatan tertinggi dari pengalaman dan keberadaannya, semua orang adalah satu kesatuan dan tidak ada individualitas, karena rasa, aku dan Gusti merupakan ‘sesuatu yang kekal’ —satu dalam diri semua orang. Sekalipun pada level empiris semua orang dan bangsa memiliki banyak perbedaan, namun pada dasarnya semua orang adalah sama. Hanya beberapa tokoh suci saja, semisal Gandhi, Yesus, dan Muhammad, yang mendapatkan simpati secara universal dalam hal ini.

8.      Karena tujuan dari semua orang seharusnya adalah untuk mengalami rasa, sistem keagamaan, kepercayaan dan prakteknya hanya bermakna kepada tujuan it. Hal keagaamaan hanya bernilai baik dalam kaitannya dengan pencapaian akan rasa. Hal ini mengarahkan kepada pandangan relativisme ketika semua orang dibebaskan untuk menemukan agama atau kepercayaan yang cocok bagi dirinya sendiri dalam menemukan rasa. Toleransi mutlak dalam masyarakat Jawa pun kemudian diterima dan dipraktekkan secara luas.

 

Dukun dalam Masyarakat Jawa

Di tengah arus modernisasi yang hebat pada masa sekarang sangatlah ganjil menemukan bahwa unsur mistik-tradisional masih sangat berpengaruh dalam masyarakat Jawa. Secara luas di Indonesia pun kelompok yang mempercayai hal-hal gaib dan kuasa supranatural masih tergolong kelompok yang masih mayoritas. Praktek perdukunan masih menjadi salah satu alternatif kepada siapa masyarakat mendapatkan pertolongan. Berbeda dengan praktek kedokteran yang ‘melulu’ hanya soal sakit fisikal, dukun memiliki kemampuan yang lebih luas karena kekuatan supranaturalnya.

Dalam uraiannya tentang arti mistik wayang kulit, Pangeran Mangkunagoro VII membedakan tiga tujuan mengapa dalam wayang seseorang menarik diri ke hutan untuk berlaku tapa dan semedi. Tujuan pertama, karena kerinduan mencapai pengertian tentang dirinya sendiri (rasa). Kedua, untuk mendapatkan ‘kekuasaan yang tidak terkalahkan’ untuk dapat dipergunakan untuk menghapus penderitaan ketidakadilan besar. Tiga, jika seseorang bersemedi dengan tujuan yang kurang luhur dan tidak tanpa pamrih, maka inilah yang dimaksud dengan penguasaaan ilmu hitam untuk maksud jahat.[11] Berbekal ilmu dari hasil tapa dan semedi inilah seseorang dapat berperan menjadi seorang dukun.

Seorang dukun dapat tinggal di daerah terpencil dan biasanya terkait dengan aliran kebatinan tertentu. Selain berperan sebagai penyembuh atau tabib, dukun umumnya juga memiliki kesaktian tertentu jika ia telah mencapai puncak dalam meditasinya. Ketika seseorang berada dalam tahap bersatu dengan Yang Maha Kuasa, daya luar biasa yang diperolehnya akan menjadi sumber terjadinya mukjizat dan hal gaib seperti ramalan, siddhi, sakti, telepati, bilokasi (hadir di dua tempat pada saat yang bersamaan), telekinetik (menggerakkan sesuatu tanpa menyentuh), psycurghy (menyembuhkan penyakit) dan kebal terhadap senjata. Dari beberapa pemahaman ini dapatlah disimpulkan bahwa dukun adalah seseorang yang dalam masyarakat Jawa dianggap memiliki kuasa yang lebih untuk melakukan praktek supranatural sebagaimana yang disebutkan di atas.[12]

Koentjaraningrat memberikan beberapa kriteria tentang dasar ilmu gaib, yaitu kepercayaan kepada kekuatan sakti dan cara berpikir sebab-akibat dengan hubungan asosiatif (Koentjaraningrat, 1974: 276).[13] Selain itu masih banyak orang Jawa yang percaya pada kesaktian yang terdapat dalam gejala alam seperti guntur, taufan, dan pelangi; kesaktian pada tokoh-tokoh pemimpin, pemuka agama, dukun, dan orang bule (albino); kepercayaan pada benda-benda pusaka, jimat dan lainnya. Kepercayaan semacam ini bahkan terdapat juga dalam masyarakat yang telah dipengaruhi oleh agama-agama besar seperti Islam dan Nasrani.[14]

Cara pandang sebab-akibat dalam hubungan asosiatif di atas tidak dapat dipisahkan dari pandangan orang Jawa terhadap dunia dan alam semesta. Kosmologi Jawa mengerti kehidupan dan seluruh aspek kehidupan manusia (mikrokosmos) merupakan keseluruhan atau kesatuan dengan alam semesta (makrokosmos). Hal-hal yang sedang atau telah dialami oleh manusia, seperti kelahiran, perkawinan, kematian, sakit penyakit, malapetaka, mata pencaharian, pemilihan pejabat dan hal lainnya, akan dicari kaitan atau sebabnya sampai menembus batas alam indrawi (makrokosmos).[15]

Cara pandang demikian memberikan pemahaman mengapa dukun begitu berperan dalam masyarakat Jawa. Setiap kali orang ingin mencari kejelasan tiap-tiap kejadian (dalam aspek kehidupan) atau tidak mampu menjelaskan sebab suatu kejadian, maka ia akan meminta pertolongan seorang dukun yang dianggap memiliki kemampuan untuk menjelaskan. Parsudi Suparlan mengemukakan bahwa peran dukun adalah penghubung (mediator) baik antara self (nyawa/sukma) sebagai pusat mikrokosmos dengan berbagai-bagai daya dalam suatu mikrokosmos tertentu; ataupun, antara mikroskosmos tersebut dengan elemen-elemen lain dari daya yang terdapat dalam alam semesta (makrokosmos). Seorang dukun merupakan penghubung yang menciptakan keteraturan dari ketidakberaturan, misalnya menghilangkan tenung atau menyembuhkan penyakit. Hal ini dimungkinkan karena seorang dukun memiliki kemampuan untuk mengendalikan kuasa baik dan kuasa jahat yang terdapat dalam alam semesta, dan dapat mengakumulasi kuasa tersebut dalam tangannya untuk kemudian dibagikan kepada orang lain.[16]

Dari tiga kelompok masyarakat Jawa, kaum abangan memiliki ciri dominan yang sangat percaya kepada roh, slametan, dan praktek pengobatan, sihir dan magik yang berpusat pada peran seorang dukun.[17] Namun demikian, sesungguhnya hal perdukunan ini tidak hanya dipercaya kaum abangan saja. Dalam frekuensi yang berbeda, praktek ini juga dilakukan oleh kaum santri maupun priyayi.[18]

 

Konsep Slamet sebagai Wujud Keselarasan Kosmis-Mistis

Pandangan hidup Jawa sangat menekankan penghayatan terhadap masyarakat, alam dan alam adikodrati sebagai kesatuan yang tidak terpecah-belah. Dari kelakuan yang tepat terhadap kesatuan itu tergantung keselamatan manusia.[19] Pergumulan manusia dengan alam membantu orang Jawa untuk meletakkan dasar-dasar masyarakat dan kebudayaannya. Hal ini khususnya sangat terasa dalam budaya pertanian masyarakat Jawa yang sangat menekankan aspek kekuatan alam dan kuasa yang berada di dalam lingkungan. Alam dihayati sebagai kekuasaan yang menentukan keselamatan dan kehancurannya. Dalam alam, manusia mengalami betapa ia tergantung dari kekuasaan-kekuasaan adiduniawi yang tidak dapat diperhitungkan —yang disebut sebagai alam gaib.

Penghayatan orang Jawa akhirnya sampai pada pengertian bahwa alam empiris berhubungan erat dengan alam metempiris (alam gaib). Keduanya saling meresapi. Magnis-Suseno menjelaskan hal ini lebih lanjut sbb.

Bukannya seakan-akan pengalaman-pengalaman empiris, yaitu pengalaman-pengalaman dengan alam dan manusia, dalam 2suatu refleksi falsafi belakangan dipertanyakan atas syarat-syaratnya yang metempiris dan adikodrati, di mana pengalaman langsung yang bersifat empiris dan indrawi, berdasarkan suatu iman eksplisit, ditempatkan ke dalam dimensi metafisik. Melainkan pengalaman-pengalaman empiris orang Jawa tidak pernah empiris semata-mata. Alam metempiris yang angker dan mengasikkan menjadi isi pengalaman itu sendiri. Alam empiris selalu sudah diresapi oleh alam gaib.[20]

 

Dari penuturan di atas jelaslah bagaimana kehidupan keseharian masyarakat Jawa senantiasa berada dalam keterkaitannya dengan ‘suasana’ mistik yang kental. Sifat gaib alam menyatakan diri melalui kekuatan roh-roh yang tak kelihatan dan dipersonifikasikan sebagai roh-roh dan kekuatan-kekuatan halus. Jadi orang Jawa mengalami dunia sebagai tempat di mana kesejahteraannya tergantung dari apakah ia berhasil untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan yang keramat tersebut. Dari sinilah kemudian orang Jawa ingin mengharapkan keselarasan dan mendapatkan slamet —suatu keadaan damai dan sejahtera, terlepas dari segala kesulitan dan bencana yang bisa didapat dari kuasa adikodrati mana pun.

Secara sederhana, slamet merupakan sebuah keadaan psikis dimana seseorang merasakan ketenangan batin, ketentraman dan rasa aman.[21] Berkenaan dengan kosmologi Jawa secara luas, slamet juga merupakan wujud atau hasil dari keselarasan kosmik —manusia, alam dan alam adikodrati. Keselarasan kosmis ini hanya dapat dicapai jika manusia atau pribadi-pribadi telah mencapai keselarasan batin. Demi tujuannya ini, manusia harus mengontrol hawa nafsunya dan dalam dalam batinnya mengembangkan sikap sepi ing pamrih. Dengan sikap inilah, seseorang dapat mencapai slamet yang diharapkan tersebut.

Berbicara mengenai slamet, pembahasan mengenai slametan sebagai prakteknya mau tidak mau harus disinggung pula. Slametan merupakan sebuah ritual religius orang Jawa yang sangat penting dan sangat umum diadakan. Pelaksanaan slametan ini harus mengundang seluruh tetangga dan keselarasan di antara para tetangga dengan alam raya dipulihkan kembali.[22] Ritual ini sederhananya merupakan perjamuan makan seremonial yang mengungkapkan nilai kebersamaan, ketetanggaan, kerukunan dan keselarasan —selain juga menggambarkan warna mistik dan kesatuan sosial.[23] Sahabat, tetangga, rekan kerja, sanak saudara, roh-roh setempat, roh nenek moyang, dan ilah-ilah, semuanya dipersatukan untuk dapat mengembalikan keselarasan di antara semuanya. Pelaksanaan acara slametan ini merupakan respon terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seseorang, keluarga atau pun kelompok tertentu. Kelahiran, pernikahan, pengorbanan, kematian, pindah rumah, mimpi buruk, panen, ganti nama, pembukaan pabrik, sakit penyakit, pemujaan kepada roh penjaga desa, sunatan dan peresmian dimulainya sebuah pertemuan politis, seluruhnya ini dapat menjadi alasan dilaksanakannya slametan.  Walaupun maksud dan penekanan pelaksanaan dapat berbeda karena keragaman tersebut, dalam hal aspek kosmis-mistik keselarasan dan keharmonisan tetap adalah satu tujuan utamanya.

 

Penutup

 Dari pengalaman penulis sendiri ketika melayani jemaat kristen yang berlatar belakang Jawa, penulis menemukan betapa kuatnya pengaruh mistisisme dalam budaya Jawa. Fenomena ini tidaklah dapat disangkali jika kita berhadapan atau tinggal di tengah masyarakat Jawa yang sangat luas ini. Budaya dan filsafat Jawa yang terkesan kompleks ternyata berusaha memberikan jawaban sederhana bagi praktek hidup keseharian masyarakatnya. Khususnya dalam hal mistisisme dalam budaya Jawa yang dibahas dalam makalah ini, penulis menemukan bahwa filsafat Jawa sesungguhnya melahirkan warna sinkretis-relativistik bagi orang Jawa dalam memegang agama atau kepercayaan pribadi lepas pribadi.

Dengan demikian, tantangan pelayanan kristen bagi masyarakat Jawa sesungguhnya tidaklah sederhana. Prinsip keagamaan dan pengenalan orang Jawa akan Tuhan, misalnya, menyulitkan iman kristen diterima sebagai yang iman yang eksklusif. Hal yang sama pun sesungguhnya dialami oleh kaum muslim. Walaupun nampaknya tradisi Islam lebih memberi pengaruh dalam budaya dan pemikiran Jawa, sesungguhnya pengaruh Islam pun telah dilebur menurut tradisi dan budaya Jawa sehingga tidak pernah berjalan sepenuhnya menurut iman Islam.[24] Hal ini tidak mengherankan karena memang budaya Jawa pada dasarnya menganggap semua agama sama karena slamet yang diharapkan adalah bergantung pada pribadi, bukan pada agama atau kepercayaan tertentu. ·

 


DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

De Jong, S. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Kanisius, 1976.

 

Geertz, Clifford, The Religion of Java. Chicago: University of Chicago, 1960.

 

Magnis-Suseno, Franz, Etika Jawa. Jakarta: Gramedia, 1999.

 

Singgih, E.G. “Contextualisation and Inter-Religious Relationship in Java: Past and Present” Asia Journal of Theology XI/2 (October 1997).

 

Tioe, Lie Sing, “Peran Dukun dalam Konteks Sosio-Budaya Jawa” Bina Darma X/39 (1992).

 

Widyatmanta, Siman, “Suara Ilahi dalam Budaya dan Agama Jawa” Penuntun III/9 (Oktober 1996).

 

——————–, “Pandangan Hidup Jawa sebagai Sumbangan terhadap Kerukunan Hidup Beragama” Gema Duta Wacana 47 (1994).



[1]Siman Widyatmanta, “Suara Ilahi dalam Budaya dan Agama Jawa” Penuntun III/9 (Oktober 1996) 105.

[2]Ibid. 106.

[3]Bdk. Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa (Jakarta: Gramedia, 1999) 100-107. Magnis-Suseno menyatakan bahwa sesungguhnya raja merupakan pemusatan kekuatan kosmis. Secara negatif, kekuatan raja terbukti apabila tidak ada lagi kekacauan, kritik, perlawanan…

[4]Widyatmanta, “Suara Ilahi” 111.

[5]S. de Jong, Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa (Yogyakarta: Kanisius, 1976) 10. Masa kini yang dimaksudkan de Jong adalah sekitar tahun 1975-an ketika ia menuliskan bukunya tersebut.

[6]Ibid. 11.

[7]Ibid. 13-15

[8]Bdk. Siman Widyatmanta, “Pandangan Hidup Jawa sebagai Sumbangan terhadap Kerukunan Hidup Beragama” Gema Duta Wacana 47 (1994) 63. Widyatmanta menjelaskan bahwa orang Jawa mengakui bahwa manusia sebagai mahluk Tuhan. Proses terjadinya manusia bukan sebagai “creatio ex nihilo”, melainkan secara emanasi (mengalir). Artinya, dari ‘potensi’ Tuhan (kemampuan yang ada pada Tuhan)  mengalir keluar sebagai proses yang terjadi dari sebutir biji menjadi pohon. Ini berarti dalam diri manusia ada unsur yang sama dengan Tuhan.

[9]Magnis-Suseno menjelaskan sepi ing pamrih berarti merasa bebas dari tekanan dalam dirinya untuk selalu egois, memikirkan diri sendiri. Tentu saja pengendalian diri melawan hawa nafsulah yang menjadi perhatiannya.  Sikap sepi ing pamrih ini adalah mengenai relasi dengan Yang Ilahi, mengenai batin sendiri dan mengenai sesama. Keluhuran budi seseorang akan dianggap menyatakan kehadiran ilahi dalam diri manusia. Magnis-Suseno, Etika Jawa 141.

[10]Clifford Geertz, The Religion of Java (Chicago: University of Chicago, 1960) 310-312.

[11]Magnis-Suseno, Etika Jawa 180-181.

[12]Lie Sing Tioe, “Peran Dukun dalam Konteks Sosio-Budaya Jawa” Bina Darma X/39 (1992) 51.

[13]Sebagaimana dikutip dalam Tioe, ‘Peran Dukun” 54.

[14]Ibid.

[15]Ibid.

[16]Supardi Suparlan, “The Javanese Dukun” dalam Majalah Indonesia V/2 (Desember 1978) sebagaimana dikutip oleh Tioe, “Peran Dukun” 54.

[17]Geertz, Religion 86.

[18]Ibid. 116.

[19]Magnis-Suseno, Etika Jawa 84.

[20]Ibid. 88. [Cetak miring dari penulis]

[21]Ibid. 196.

[22]Ibid. 15.

[23]Bdk. Geertz, Religion 11.

[24]Lih. E.G. Singgih, “Contextualisation and Inter-Religious Relationship in Java: Past and Present” Asia Journal of Theology XI/2 (October 1997) 249-251.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s