Between two worlds: Kehidupan sekuler & Kehidupan rohani

1 Korintus 9:22-23

Pendahuluan.  Dalam pelayanan selama bertahun-tahun, tidak jarang saya (masih) mendengar orang-orang kristen berkata bahwa kebenaran rohani tidak dapat diterapkan dalam dunia sekuler sehari-sehari. Ada anggapan umum bahwa di tengah aktifitas pekerjaan, studi dan pergaulan sekuler masa kini iman tidaklah boleh atau tidaklah bisa dilakoni setiap saat.  Ada saat-saat dimana kita “terpaksa” melanggar atau mentoleransi hal-hal yang kita ketahui sebagai dosa ketika sedang beraktifitas di luar gereja.  Yang ironis, semakin lama mitos ini semakin banyak dikumandangkan untuk mentolerir kelalaian kita melakukan firman Tuhan dengan setia di tengah dunia “non-rohani” kita.

Ya, saya menyebut ini sebagai mitos karena memang ini sebuah ketidakbenaran. Dan betapa bodohnya kita membiarkan ketidakbenaran ini telah menjauhkan kita dari berkat yang Allah yang luar biasa.

Hari ini kita akan belajar bahwa sesungguhnya kita dipanggil untuk menghidupi kebenaran rohani dalam seluruh aspek kehidupan kita untuk menikmati kelimpahan berkat Tuhan. Di antara dunia sekuler dan dunia rohani sepatutnya tidak ada pembedaan.

 Ilustrasi.  Adalah seorang bernama Collin Powell. Ia adalah seorang panglima angkatan darat dan pernah menjabat sebagai menteri luar negeri Amerika (dibawah kepresidenan George W. Bush) yang sangat dihormati dan disegani oleh siapapun yang mengenalnya di seluruh dunia.  Ia suatu kali pernah berkata, “Pada saat prajurit anda tidak lagi membawa masalah-masalah mereka kepada Anda, pada saat itu juga Anda tidak lagi menjadi pemimpin mereka.”  Kalimat ini adalah prinsip dasar kepemimpinan yang dipegang teguh oleh Powell.  Pada intinya ingin berkata, “Pada saat orang tidak (lagi) datang pada anda untuk berbagi kehidupan mereka, sesungguhnya Anda telah kehilangan pengaruh bagi dunia ini-bagi orang lain.”

Powell pada esensinya tidak pernah membuat jarak antara dirinya dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak berusaha memisahkan statusnya sebagai pemimpin terhormat dengan rekanan-bahkan bawahannya dengan pangkat terendah sekalipun. Ia membuat dirinya selalu dapat ditemui sebagai pribadi yang utuh dan terbuka untuk berbagi. Sekalipun Ia pejabat dengan pangkat tertinggi di kesatuannya, prinsip hidup dan rohaninya tetaplah sama: hidup dengan utuh dan terbuka apa adanya dimana pun berada.  Setiap hari Ia melakukan kebiasaan berjalan kaki sore hari dimana Ia dapat ditemui oleh siapapun yang ingin berbagi dengannya-bahkan prajurit dengan pangkat terendah sekalipun.

Karena hal inilah, Powell menjadi pribadi yang luar biasa. Sebagai seorang Kristen yang taat firman, Powell menghidupi imannya tidak hanya di gereja atau di tengah kumpulan orang percaya. Tidak banyak yang menyadari bahwa prinsip persahabatan dan penerimaan yang terbuka dengan siapapun tersebut adalah kebenaran Alkitab yang Ia terapkan dalam semua aspek kehidupannya. Ia membawa kehidupan rohaninya di ladang pekerjaannya sehari-hari. Dan sebaliknya, Ia membawa kehidupan pekerjaannya sebagai bagian penting dalam kehidupan rohaninya. Di antara dua dunia yang seringkali dikotak-kotakkan itu, Powell tidak membuat pembedaan.  Dengan cara itulah Powell memberikan pengaruhnya bagi sekitarnya.

Dalam pelayanannya, Paulus meneladankan kehidupan yang tidak mengkotak-kotakkan kehidupan rohani berbeda dari kehidupan sehari-hari.  Dengan prinsip itulah Paulus membuka sebesar mungkin kesempatan untuk menjadi saksi Kristus yang nyata bagi siapapun yang ada di dekatnya.

LAI, 1Kor. 9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

“Aku menjadi seperti…” (LAI) | “Aku berlaku seperti…” (BIS)

Bersama dengan orang bukan Yahudi, aku berlaku seperti orang bukan Yahudi. Dengan orang Yahudi, ya bersikap sebagaimana halnya orang Yahudi. Di tengah orang lemah, aku berlaku seperti orang lemah. Di tengah orang bodoh, ya aku tidak boleh terkesan berlagak pintar.  Namun di tengah orang-orang terpelajar, aku mempertahankan imanku sebagaimana orang pintar melakukannya.  Bersama dengan karyawan, aku berlaku seperti seorang karyawan.  Di tengah para pengusaha, aku pun dapat bersikap seperti seorang pengusaha.  Dan bahkan di tengah orang berdosa, aku berlaku seakan orang berdosa juga! 

Wah mengapa Paulus bersikap seakan seperti orang plin-plan seperti ini?  Apakah Paulus adalah orang yang tidak berprinsip?  Adalah salah besar jika kita menyimpulkan demikian! 

Paulus menunjukkan bahwa hidupnya sebagai orang ercaya tidaklah berada dalam lingkungan nyamannya sendiri bersama sekumpulan orang percaya lainnya.  Ia menunjukkan sebuah kehidupan yang selalu berusaha mengambil tempat dalam komunita orang-orang dunia. Orang-orang sekuler.  Ia meneladankan kehidupan yang selalu berusaha mendapatkan tempat di hati orang belum percaya untuk dapat menarik perhatian mereka. Ia menempatkan dirinya berbeda sedemikian rupa dalam beragam kesempatan supaya “dengan jalan yang bagaimana pun juga aku bisa menyelamatkan sebagian dari mereka.” 

Apa yang terjadi di sini adalah kesadaran Paulus untuk membawa kebenaran rohani yang telah diterimanya dalam kehidupan non-rohaninya.  Apa yang terjadi di sini adalah kesadaran Paulus akan panggilan hidupnya untuk membawa terang kepada dunia yang gelap gulita karena dosa.

Dari ayat 22, dengan gamblang Paulus menunjukkan bahwa Ia justru meneladankan satu prinsip sederhana untuk menjangkau jiwa, yaitu: Prinsip Kontekstual.  Dalam bahasa teologisnya saya sebut sebagai Prinsip Inkarnasi.  Sederhananya, kita sebut saja Prinsip Berlaku Seperti. Maksudnya, dalam usaha menjangkau orang untuk mengenal Kristus, kita harus mampu menempatkan diri seakan sama dengan orang atau komunita yang kita sedang kita jangkau.

Ketika Ia bertemu dengan mereka yang bukan Yahudi, Paulus bersikap seperti orang bukan Yahudi. Karena jika Ia memperkenalkan dirinya dengan identitas Yahudi, maka Ia sudah pasti tertolak.

Ketika Ia bertemu dengan orang-orang yan kurang pengetahuan, Ia berlaku dan berbicara dengan bahasa yang sederhana-supaya tidak dianggap sombong dan tertolak sebelum Ia menyampaikan Injil pada mereka.

Demikian pula, ketika kita bertemu dengan seorang yang belum mengenal Tuhan, penting bagi kita untuk tidak terkesan tinggi hati dan merendahkan mereka yang belum percaya.  Itulah yang seringkali menggagalkan sampainya berita Injil.  Sikap orang percaya yang terkesan “Aku punya kebenaran yang sejati dan anda membutuhkan ini!” sudah pasti gagal karena membuat mereka yang belum percaya merasa kita fanatik dan sombong.

Paulus tidak melakukannya dengan cara seperti itu. Ia terus berusaha menancapkan pengaruhnya dengan kerendahan hati untuk berlaku seperti mereka yang sedang berusaha dijangkaunya. Ia terus menerus menggunakan prinsip berlaku seperti. [Bukan berarti ketika bersama dengan orang berdosa, aku menjadi orang berdosa. Tetapi, aku menjadi seperti orang berdosa.]

“Aku lakukan itu supaya aku bisa menarik mereka menjadi pengikut Kristus” (v.21). Ini adalah soal relasi seperti apa yang harus kita bangun dengan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.  Orang-orang yang berada di wilayah penjangkauan kita. Paulus “berlaku seperti” apapun dengan hanya dengan satu tujuan: supaya menarik orang-orang untuk menjadi pengikut Kristus.  Supaya memberikan daya tarik yang tidak bisa ditolak oleh orang-orang disekitarnya.

“Pendeknya, aku menjadi segala-galanya untuk semua orang supaya dengan jalan yang bagaimanapun juga aku bisa menyelamatkan sebagian dari mereka.”

Mengapa penting untuk menghidupi kebenaran rohani justru dalam kehidupan sekuler kita setiap hari di antara orang-orang belum percaya?  Karena itulah sejatinya panggilan hidup kita. 

Kita tidak dipanggil untuk hidup kudus di tengah orang kudus. Kita tidak diselamatkan dari dosa untuk kemudian melepaskan diri dari dunia. Bukan itu yang Tuhan inginkan.  Bukan itu panggilan kita.

Sekalipun Saudara dan saya dipanggil keluar dari dosa, kita tidak pernah dipanggil untuk keluar dari dunia yang berdosa. Kita dipanggil untuk tetap berada di tengah-tengah lingkungan orang berdosa yang belum mengenal Tuhan supaya kita dapat menolong mereka menikmati berkat keselamatan.

Kehidupan rohani yang sehat tidaklah hanya berkutat soal bagaimana relasi pribadi kita bersama dengan Tuhan. Kesehatan rohani kita dibentuk dan diasah semakin bertumbuh dalam relasi kita dengan dunia-orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita setiap hari.

Kita tidak pernah dimaksudkan untuk hidup eksklusif dalam komunita sesama orang percaya semata. Kita dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi sekitar kita.  Kita dipanggil untuk hidup di tengah dunia. Anda dipanggil untuk hidup dengan panggilan yang unik dan khusus bagi lingkungan tempat kerja, sekolah, keluarga dan lingkungan pergaulan anda!  Bukan sekadar dipanggil untuk hidup kudus di dalam gereja, namun diluar sanalah ujian kekudusan dan kesungguhan kehidupan rohani itu harus dilewati.

Lebih dari tigapuluh tahun Tuhan Yesus hidup di bumi dan menghayati kehidupan yang saat ini kita lewati.  Tuhan telah melewatinya sama seperti kita saat ini. Dan Tuhan Yesus tidak pernah membedakan antara kehidupan rohani (agamawinya) dengan kehidupannya di luar bait Allah.  Yesus tidak pernah mengkotak-kotakkan gaya hidup rohaninya berbeda dengan pekerjaan atau aktifitas sekuler (duniawinya).

Perhatikan baik-baik bahwa bagi Tuhan: tidak ada itu yang namanya kehidupan sekuler yang harus dibedakan dengan iman.  Tidak ada kehidupan dan aktifitas duniawi dimana iman kita dalam Kristus tidak dapat diterapkan!

Di hadapan Tuhan tidak ada musik yang namanya musik sekuler. Yang ada hanyalah musik yang membawa kita jauh dari kebenaran Allah (mis. lagu dengan tema selingkuh itu indah atau sephia).

Tidak ada pekerjaan sekuler. Yang ada cuma ambisi kekayaan yang menjauh kita dari berkat sejati Allah. Hal yang mana terjadi jika pekerjaan atau usaha kita telah menjadikan kita sebagai hamba uang.  Jika anda adalah pengusaha toko, itu adalah pekerjaan rohani. Jika anda bekerja sebagai karyawan di perusahaan sesungguhnya itu pun adalah pekerjaan dengan tanggung jawab rohani untuk “menjadi terang” di sana.

Tidak ada itu aktifitas sekuler.  Dalam bahasa kita, tidak ada karaoke, futsal, lari pagi, makan malam bersama itu masuk kelompok aktifitas sekuler. Pada prinsipnya tidak ada kegiatan, pekerjaan, kesenangan, aktifitas apapun dimana kita bebas dari panggilan kita untuk menjadi berkat dan tidak menjadi batu sandungan. Tidak ada waktu dimana kita bebas dari kehidupan rohani yang utuh. Itulah yang Paulus maksudkan ketika Ia menuliskan 1 Korintus 9 tersebut. 

Jadi adalah salah besar jika seseorang berkata, “Kebenaran Alkitab memang luar biasa-tapi… mana bisa diterapkan di dunia sekuler.  Bedalah.”  Atau, “Wah benar ya, melakukan firman Tuhan itu memang membawa berkat rohani yang luar biasa. Tapi, kalau disuruh hidup taat firman 100% mana bisa makan hari gini.  Hari gini disuruh jujur… dak usah sekolahlah anak-anak aku.”  “Aku tahu Alkitab mengajarkan untuk mengampuni orang-orang bersalah pada kita, tapi kalau aku terapkan di toko pada karyawan-karyawan aku, bisa besak palak galo.  Dak pacaklah terapin hal-hal rohani di toko.”

Jika kita selama ini hidup dengan pikiran seperti ini, sesungguhnya kita telah begitu banyak berkat Injil yang Tuhan telah siapkan.

“supaya aku juga turut diberkati…”

Jika anda masih membiarkan pikiran anda mengkotak-kotakkan kehidupan antara hal rohani dan non-rohani, sesungguhnya kita telah kehilangan paket kehidupan yang Tuhan telah percayakan pada anda.  

Setiap kita ingin diberkati berlimpah oleh Tuhan, namun tidak banyak sungguh dapat merasakan berkat-berkat yang berlimpah dalam hidupnya.  Mengapa?  Kemungkinan besar masalahnya adalah bahwa kebanyakan orang tidak mengerti bagaimana “sistem” paket berkat Tuhan.

Jika anda membiarkan jadwal anda dipadati oleh aktivitas-aktivitas gerejawi dan tidak menyisakan waktu untuk menjembatani jarak anda dengan mereka yang belum percaya, sesungguhnya anda telah gagal menjalani panggilan anda untuk memberkati dan diberkati. Sesungguhnya kita gagal dalam kehidupan rohani yang kita rindukan bertumbuh.  Tidak ada pertumbuhan rohani tanpa sentuhan dengan mereka yang belum percaya.

Kemana doa-doa seharusnya kita bawa?  Dimana doa-doa orang Kristen sepatutnya dikenali? 

Bukan dalam gereja. Bukan sekadar dalam ibadah dan persekutuan doa. Tetapi di rumah sakit, di rumah yang sedang mengalami kedukaan.

Bukan sekadar doa pribadi dalam diam di rumah makan. Tetapi doa dengan suara yang penuh iman di telinga teman, sahabat, kerabat saudara yang sedang mengalami pergumulan.

Bukan sekadar doa syafaat yang panjang dan dibanjiri air mata di rumah sendiri.  Tetapi doa dan kata-kata berkat yang dikatakan dengan keyakinan di rumah kenalan kita yang belum mengenal Kristus.

Doa orang percaya seharusnya dibawa di sisi pembaringan rekan kerja yang sedang sakit.  Doa kita sepatutnya dikenali di rumah teman sekolah kita yang sedang menangis karena pergumulannya.  Doa kita seharusnya dibawa ke rumah-rumah sakit, ke rumah duka, ke rumah teman kita, ke rumah rekan kerja kita yang membutuhkan pertolongan, ke sisi pembaringan kerabat kita yang lemah tubuh!

Pada prinsipnya, kita harus membangun jembatan antara dua dunia yang selama ini kita sering bedakan. Saudara harus membawa kehidupan rohani Saudara dalam studi, usaha dan pekerjaan sehari-hari. Dan sebaliknya, penting juga untuk mengerti bahwa kehidupan “non-rohani”  Anda sebagai bagian penting dalam pertumbuhan rohani.  Di antara dua dunia yang seringkali dikotak-kotakkan itu, kita seharusnya tidak membuat pembedaan.  Dengan cara itulah kita memberikan pengaruh bagi dunia. Dan dengan cara itulah berkat Tuhan tercurah atas hidup Saudara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s