Apa yang dimiliki anak kecil itu? Bukan sekadar lima roti dan dua ikan. Ia memiliki…
1. Ketidakmengertian
2. Kesederhanaan pola pikir
3. Ketulusan
Anak ini tidak memiliki iman yang “bagaimana-bagaimana”. Ia tidak pernah membayangkan lima roti dan dua ikannya akan dipakai untuk memberi makan lima ribu orang. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa kedua tangannya yang mengulurkan lima roti dan dua ikannya akan terus menjadi pembicaraan tanpa henti selama duaribu kemudian. Ia tidak memiliki motivasi untuk mendapatkan lebih dari apa yang telah diberikannya. Ia hanya memberikannya. Titik.
Itulah yang terjadi di sana di gunung itu hari itu. Limaribu orang duduk dengan setia menantikan Tuhan Yesus. Limaribu perut yang kelaparan. Tuhan bertanya kepada murid-muridnya dari mana bisa didapatkan makanan bagi limaribu orang itu. Sementara murid-murid kebingungan dan mendebat Tuhan untuk memulangkan mereka semua. Seorang anak kecil datang dan memberikan apa yang adalah miliknya—lima roti dan dua ikan. Dan terjadilah mukjizat itu.
Formula terbaik untuk melihat luar biasanya pekerjaan Tuhan:
5 Roti + 2 Ikan = 12 Keranjang Sisa Makanan + 5000 Perut Kekenyangan
Semua terjadi karena Tuhan, tentu saja. Namun, perhatikanlah betapa besar peran anak kecil itu dalam kisah nyata ini. Ia hanya memiliki ketidakmengertian dan ketulusan, namun Tuhan bekerja dengan indah mengubahkan hal biasa itu menjadi sangat luar biasa. Betapa indahnya jika setiap orang percaya memiliki hati dan ketundukan yang sedemikian.
Mengapa kisah serupa ini tidak banyak kita dengar terjadi pada masa kini?
Karena banyak orang Kristen tidak memiliki apa yang dimiliki oleh Si Anak 5 Roti 2 Ikan. Tidak banyak orang yang memiliki ketidakmengertian, kesederhanaan pola pikir, dan ketulusan.
Yang lebih banyak kita miliki saat ini justru…
- Terlalu merasa mengerti – seperti para murid. Kita pikir kita lebih tahu keadaannya dari Tuhan. “Di sini ada sih seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tapi apa artinya bagi orang sebanyak ini?”
- Terlalu banyak pertimbangan—yang kadang bisa terdengar baik dan rohani. Kalau begini, nanti mereka begitu. Kalau aku memberi persembahan terus bagi gereja, nanti gereja jadi manja.
- Motivasi yang tidak tulus.
Hari ini, saya secara khusus berbicara mengenai memberi bagi Tuhan.
Hati memberi.
Memberi bukan untuk mendapatkan lebih. Memberi bukan sebagai sogokan bagi Tuhan. Namun, memberi karena memang Tuhan menyukai pemberian kita untuk mendukung pelayanannya di tengah dunia.
Betapa indahnya jika kita memiliki hati Si Anak 5 Roti 2 Ikan.
Mereka yang dipakai secara luar biasa oleh Tuhan adalah mereka yang tidak mengerti apa-apa, yang pikirannya sederhana dan memiliki ketulusan untuk memberi. “Aku tidak mengerti bagaimana aku bisa melakukan pekerjaan Bapa yang luar biasa, tapi yah aku hanya punya sedikit ini. Aku akan memberinya bagi Tuhan karena Tuhan memintaku memberi. Dan karena aku tahu itu menyenangkan hati Tuhan.”