Menanti Janji Tuhan

Pendahuluan. Seorang pria bernama Bill Lacovara suatu hari sedang memancing di teluk Atlantic City, New Jersey, ketika Ia melihat sebuah kantong plastik mengambang di atas air. Di dalamnya, Ia cukup kaget menemukan 300 surat doa yang dialamatkan ke pendeta setempat. Lebih mengagetkan lagi, Ia menemukan kebanyakan surat tersebut belum dibuka sama sekali. Rupanya pendeta gereja lokal telah meninggal dua tahun sebelumnya, dan polisi berasumsi bahwa surat-surat tersebut telah dibuang sebagai sampah dari garasi si pendeta setelah rumahnya dibersihkan.

Kebanyakan surat doa yang ditemukan ternyata sangat mengharukan. Suami atau istri yang terluka, anak-anak dan para janda, yang berseru menantikan jawaban dan pertolongan Tuhan. Beberapa berdoa untuk sanak saudara yang menggunakan narkoba, terjerat judi, dan menjahati mereka. Seorang pria menulis satu surat dari penjara, berkata bahwa Ia tidak bersalah dan sangat rindu pulang ke rumah untuk berkumpul dengan keluarganya. Seorang remaja putri berdoa memohon Tuhan mengampuni dosanya dan memohon kesempatan kedua, “Tuhan, aku mengakui aku telah melakukan dosa aborsi. Aku telah membunuh satu malaikatmu. Tidak sehari pun berlalu tanpa ingatan dan rasa bersalah karena kesalahan yang telah kuperbuat.”

Bill begitu sedih membaca satu demi satu surat-surat doa ini. Menurutnya semua telah ditulis dengan sia-sia hanya untuk berakhir di laut lepas. Ia bertanya, “Berapa banyak surat doa semacam ini di seluruh dunia yang tidak pernah dibuka dan diperhatikan oleh seorang pun? Betapa sia-sianya doa-doa ini dituliskan.”

Saya percaya setiap kita pun sesekali bisa merasa doa-doa kita sia-sia. Doa terasa berbicara kepada tembok. Seperti berkata sia-sia kepada angin. Sudah lama berdoa, namun tidak ada jawaban. Sudah banyak berdoa, namun kehidupan tidak menjadi lebih baik seperti yang diharapkan. Akhirnya, kita pun sesekali dapat mengalami kemunduran rohani karena beban dan pergumulan hidup.

Ketika pergumulan berat terjadi, kita berdoa sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan… lalu semuanya terasa sia-sia. Tidak ada jawaban yang kita temukan. Tidak ada titik terang untuk pemulihan.

Usaha kita bangkrut, kita menunggu pertolongan Tuhan memulihkan keadaan kita, tetapi tidak terjadi. Bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang anak, tetapi tidak ada tanda-tanda kehamilan. Pasangan jiwa yang kita doakan sejak lama, bertahun-tahun tidak muncul sementara usia terus bertambah. Sakit penyakit yang diderita juga lama belum ada kesembuhan total. Pemulihan keluarga yang kita impikan juga tidak terjadi setelah bertahun-tahun hidup dalam ketegangan.

Kita menantikan Tuhan… tetapi rasanya terlalu lama. Kita tidak lagi tahan menunggu. Dan tidak jarang pertanyaan itu pun terlintas dalam benak, “Sungguhkah Tuhan akan menolong?”

Menanti memang adalah aktifitas yang tidak menyenangkan. Tetapi, hari ini kita akan belajar bahwa menantikan Tuhan adalah sebuah proses yang harus kita lewati untuk menikmati yang terbaik dari Tuhan—pada waktu yang terbaik. Hanya mereka yang bertekun menantikan dan yang tidak menyerah di tengah jalanlah yang akan menerima pertolongan dan berkat terbaik dari Tuhan.

Yesaya 40:29-31. Tuhan memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Perikop ini sebenarnya menggambarkan Tuhan sebagai Allah segala Allah. Raja segala raja. Tuhan segala Tuhan. Tidak seorang pun yang menandingi kasih dan kuasa Allah di dalam dunia. Tidak seorang pun memberikan nasihat kepada Allah. Tidak seorang pun mampu mengatasi segala kuasa yang dimilikiNya.

Setelah semua pengakuan akan kehebatan Tuhan tersebut, baru pada bagian akhir, pada ayat 27, dikatakan bahwa Israel mengeluh karena seakan-akan hidup mereka tersembunyi dari TUHAN, dan hak mereka tidak diperhatikan. Apa yang menjadi masalah bagi umat Israel? Sederhana saja, mereka berada dalam pembuangan. Mereka hidup dalam sengsara dan hina. Mereka berdoa agar Tuhan menolong dan mengangkat derajat mereka kembali. Mereka menantikan Tuhan menghalau semua musuh yang memperlakukan mereka dengan buruk. Tetapi… semua doa mereka seakan sia-sia. Mereka menanti sampai kehilangan asa.

Dan saat itulah firman Tuhan menegaskan: Tuhan memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat orang-orang yang tak berdaya. Siapa yang akan mendapat kekuatan baru dari Tuhan? Jawabnya, ya orang-orang yang menantikan Tuhan.

Pertanyaannya, tidakkah orang Israel selalu menantikan Tuhan menolong sejak bangsa mereka hancur? Tidakkah mereka sudah percaya kepada Tuhan selama ini? Mengapa mereka tidak mendapatkan cukup kekuatan untuk bersabar dan menantikan Tuhan?

Ya, tentu mereka merindukan pembebasan dari penjajahan. Tetapi, sesungguhnya mereka rupanya tidak sungguh-sungguh mempercayai Tuhan selama ini. Apa yang mereka nantikan bukanlah Tuhan yang memang mereka percayai, tetapi… mereka hanya menantikan kelepasan yang mereka inginkan. Dan ada perbedaan besar di antara kedua kerinduan ini. Yang satu berfokus kepada Tuhan, yang satu berfokus pada diri sendiri.

Masih ingatkah anda mengapa Israel sampai tercerai berai dan dihancurkan bangsa lain? Karena Tuhan meninggalkan mereka. Mengapa Tuhan meninggalkan mereka? Karena mereka tidak lagi percaya kepada Tuhan Allah. Kenyataannya, sebelum Tuhan murka dan meninggalkan mereka, bangsa Israel mulai hidup seperti bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Mereka hidup jauh dari kehendak Tuhan. Menikah semaunya dengan bangsa yang Tuhan tolak. Mereka hidup seperti orang-orang berdosa lain yang tidak mengenal Tuhan. Dan mereka memelihara bukit-bukit pengorbanan bagi para dewa-dewa.

Dengan semua keberdosaan ini, apakah mereka selama ini (sebelum hancur) sungguh-sungguh telah percaya hanya kepada Tuhan? Tidak! Dan itulah masalah mereka.

Dalam masa kesusahan pun, mereka sesungguhnya tidak berfokus pada Tuhan. Hati mereka belum sungguh-sungguh kembali pada Tuhan. Mereka hanya menantikan pertolongan Tuhan, bukan menantikan Tuhan.

Di dalam kesukaran dan pergumulan hebat seperti inilah, iman kita diuji.

Ilustrasi. Suatu hari seorang wanita muda yang sedang putus asa berbicara dengan seorang pendeta. Wanita muda itu berkata, “Pak Pendeta, sewaktu saya berusia 22 tahun. Saya mengalami kecelakaan yang hebat dan kekasih saya tewas dalam peristiwa itu. Saya sendiri harus melewati beberapa kali operasi besar dan akhirnya selamat. Walaupun secara fisik saya kembali sehat, tetapi saya rohani, saya telah kehilangan iman saya. Saya tidak lagi percaya kepada Tuhan. Tidak ada sesuatu yang baik terjadi dalam hidup saya.”

Pernyataan seperti ini tidak selalu mudah untuk dijawab. Diperlukan hikmat Tuhan yang khusus untuk memberikan jawaban atas kisah putus asa seperti ini. Setelah senyap sebentar, si pendeta menjawab, “Apakah anda tahu ketika para ahli membangun kapal laut yang hebat, mereka tidak mengujinya di daratan. Para ahli tidak membiarkan kapal laut itu terdampar di daratan, lalu menyemprotnya dengan air yang deras untuk mengetahui bocor atau tidak. Mereka membawanya ke lautan lepas dan menceburkannya untuk diuji menghadapi laut yang sesungguhnya. Ujian ini tidak dimaksudkan untuk menenggelamkan kapal itu. Ujian ini dimaksudkan untuk melihat apakah kapal itu layak disebut kapal laut atau tidak. Seperti itu juga, ujian-ujian atau pergumulan hidup terjadi untuk mengetahui apakah kita memiliki iman yang sungguh atau tidak. Bolehkah saya bertanya secara jujur, apakah menurutmu anda kehilangan iman anda atau memang anda sesungguhnya belum memiliki iman selama ini?”

Wanita muda itu menjawab dengan jujur, “Pak Pendeta, saya pikir anda benar. Saya selama ini belum memiliki iman seperti yang anda maksudkan. Saya belum sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.”

Aplikasi. Hari ini, jika anda sedang mengalami pergumulan yang hebat dan iman anda mulai goyah, ijinkan saya bertanya, “Menurut anda, apakah anda mulai kehilangan iman karena masalah anda, atau memang anda belum memiliki iman percaya kepada Tuhan selama ini?” Jangan buru-buru menjawabnya, tetapi renungkanlah pertanyaan itu satu-dua hari ini dengan serius. Jika anda ternyata memiliki masalah dalam iman anda, sharingkan kepada komsel anda untuk didoakan. Atau, anda dapat menghubungi saya untuk berbicara dan didoakan.

Dalam menghadapi tekanan dan pergumulan yang berat, apa yang perlu kita lakukan?

Satu: Percayai Tuhan!

Percayai Tuhan! Terdengar sangat sederhana memang—apalagi dikatakan dalam ibadah yang notabene dihadiri oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang percaya. Tetapi, barusan kita telah sadari bahwa sesungguhnya ada banyak orang Kristen yang belum sungguh-sungguh percaya pada Tuhan Yesus.

Ini bukan soal percaya pada janji berkatNya. Bukan soal percaya pada janji pemulihan, pertolongan, dan kelepasannya. Tetapi… soal mempercayai Tuhan sebagai Pribadi yang hebat dalam hidup anda! Pribadi yang selalu anda rindukan dan butuhkan untuk hidup. Untuk menikmati segala yang terindah dan terbaik dari Tuhan, kita harus mempercayainya dengan sungguh.

Ilustrasi. Pada 2006, surat kabar St. Petersburg Times melaporkan berita tentang kematian seorang berkebangsaan Ukraina di Kebun Binatang Kiev. Kematiannya terhitung mengenaskan karena Ia mati diterkam singa. Tetapi… tidak seorang pun pihak kebun binatang yang diperiksa terkait peristiwa mengerikan ini. Hal ini dikarenakan pria itu rupanya diketahui jelas mengumpan dirinya sendiri ke harimau.
Yang menarik, pria tersebut rupanya nekad memasuki kandang singa dengan alasan Ia percaya bahwa Tuhan akan melindunginya. Ada kemungkinan besar Ia terinspirasi dari kisah Daniel di lubang singa.

Seorang petugas kebun binatang menjelaskan bahwa pria itu menurunkan dirinya sendiri ke kandang yang dihuni empat ekor singa dengan menggunakan seutas tali. Sesampainya di dasar kandang, Ia berteriak nyaring, “Tuhan akan menolongku, jika Ia sungguh ada.” Saking nekadnya, Ia melepaskan sepatunya dan melemparkannya ke arah singa-singa tersebut.
Tidak butuh waktu lama, seekor singa mendekatinya. Menerkamnya tanpa ampun, membantingnya ke tanah, dan segera menyobek arteri darahnya. Tidak butuh waktu lama pula bencana yang diundang itu merenggut nyawanya. Petugas kebun binatang menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi di hadapan publik yang ramai itu merupakan yang pertama terjadi di dunia.

Menurut anda, apakah pria Ukraina ini sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan? Menurut saya, tidak!
Mengapa? Karena jika Ia sungguh-sungguh percaya, Ia tidak perlu menguji Tuhan sekonyol itu. Sebaliknya, perbuatannya justru menunjukkan bahwa Ia putus asa dan meragukan Tuhan.

Karena itu, percayai Tuhan dengan segenap hatimu! Dan tunjukkan sikap iman yang tepat untuk menunjukkan bahwa anda sungguh percaya padaNya.

Dua: Setia dan Bertekun pada Janji Tuhan

Bagaimana menunjukkan kepada Tuhan bahwa anda sungguh mempercayai Dia? Mudah saja. Setialah dan bertekun pada janji-janji Tuhan. Teruslah berdoa meminta pertolongan dan berkat terbaik dari Tuhan—seberapa pun terasa mustahilnya. Jangan biarkan kekecewaan berakar. Jangan berhenti menantikan janji Tuhan. Sebab hanya mereka yang bertekun menantikan dan yang tidak menyerah di tengah jalanlah yang akan menerima pertolongan dan berkat terbaik dari Tuhan.

Ilustrasi. Bencana kekeringan di musim panas pada 2007 lalu di Amerika telah membuat para ilmuwan dan arkeolog di Florida menemukan harta karun tersembunyi selama ratusan tahun di Danau Okeechobee.

Okeechobee adalah danau terbesar kedua di Amerika. Karena musim panas yang hebat, permukaan air danau itu pun turun drastis sampai ke titik terendahnya. Di beberapa bagian, wilayah pantai danau tersebut kering sejauh sekitar satu kilometer. Menciptakan sebuah daratan baru dari dasar sungai yang kering. Beberapa artifak peninggalan kuno yang selama ini tidak diketahui tertinggal di dasar danau pun terlihat dengan jelas.

Sisa-sisa gerabah keramik, anak panah, peralatan pertukangan dan liontin berharga tergeletak begitu saja di dataran kering dasar sungai. Semua peninggalan sejarah itu memberikan banyak masukan ilmu pengetahuan mengenai sejarah masa lalu Amerika. Semua peninggalan yang selama ini tersembunyi di dasar sungai itu ditaksir bernilai setara ratusan milyar rupiah.
Bayangkan semua harta karun tak ternilai itu tersembunyi di dasar sungai selama ini. Dibutuhkan sebuah musim panas yang hebat dan kekeringan untuk membuat harta tak ternilai itu ditemukan.

Seperti itu pula, masa pergumulan dan pencobaan tidaklah menyenangkan untuk dilalui, namun kesusahan dan masa ujian bagi iman pada masa kesukaran tersebut dapat menyingkapkan banyak harta berharga tak ternilai dalam kehidupan kita… jika saja kita ma u bertahan melaluinya.

Karena itu, apa pun pergumulan anda, apapun yang anda nantikan dari Tuhan saat ini, jangan menyerah! Teruslah berdoa. Teruslah percaya. Teruslah berharap dalam iman. Bertekunlah. Ibrani 10:35-36 berkata, “Janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Kamu memerlukan ketekunan, supaya kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

Penutup. Dusty Miller adalah seorang hamba Tuhan yang pernah melayani sebagai sukarelawan di Jepang selama Perang Dunia Kedua. Ia mengalami begitu banyak kesusahan dan penderitaan selama di kamp konsentrasi tentara Jepang yang dilayaninya. Banyak rekannya yang meninggal akibat perang yang terjadi, tetapi Ia terus bertahan. Banyak rekannya menjadi putus asa karena disesah juga seperti halnya seorang tahanan perang. Bagaimana Miller dapat bertahan dalam beratnya tekanan fisik dan mental di medan perang? Ia berkata, “Setiap orang dapat menanggung rasa sakit yang hebat dan penderitaan selama Ia masih memiliki iman pengharapan. Ketika seseorang kehilangan pengharapannya, itu adalah saat kematiannya.”

3 thoughts on “Menanti Janji Tuhan

  1. Menanti Janji Tuhan

    I am having some feeling problems rite now..
    The feeling of lost of love, hope, and faith..
    Rite now I have so many thought in my head..

    I just lost her… my best friend that become my partner of life before..
    but now things just change so fast..
    and I am so lost here.. and feeling afraid, lonely, and worry.. whether I will able to get someone better than her..
    I am so worry..

    blue12@hotmail.com

  2. Pingback: 2010 in review « Max125

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s