Kondom, AIDS dan Budaya

Sekitar sebulan yang lalu sebuah iklan layanan masyarakat seputar hari AIDS sedunia menarik perhatian saya. Sebuah kalimat, khususnya, sangat menggelitik hati: Memakai kondom adalah perilaku bertanggungjawab dalam pergaulan bebas.

Hah?! Saya terhenyak. Sudah dari beberapa tahun lalu saya merasa sangat terganggu dengan kampanye pemakaian kondom sebagai jalan keluar dari penularan virus HIV/AIDS, tetapi sekarang saya benar-benar terhenyak.

“Memakai kondom adalah perilaku bertanggungjawab”?

Saya kira ini justru adalah pesan yang tidak bertanggungjawab. Isi pesan yang bias. Mudah memberikan arti bias bahwa prilaku seks bebas itu dapat  diterima jika anda melakukannya tanpa merugikan orang lain. Betapa mengerikannya!

Ini sebuah kampanye yang memang menitikberatkan pesan untuk kesehatan. Penanggulangan dan pencegahan AIDS dengan meminimalkan setiap resiko. Tetapi… nada yang diberikan untuk pesan seperti ini cenderung justru memberikan pesan yang keliru pada masyarakat umum yang menerima pesan ini secara luas.

Dalam kerangka media televisi yang jelas terbuka bagi siapapun, pesan ini dapat dengan mudah mempersepsikan seks bebas sebagai hal yang lumrah. Terima kasih untuk kampanye seperti ini yang menolong kemorosotan moral mendapatkan penerimaannya.

Saya kira terlalu banyak pesan yang buruk dalam kalimat yang menarik yang bermunculan di media kita. Ini hanyalah salah satu contoh yang sangat mengganggu. Sangat mengusik hati saya.

Tidakkah anda merasakan yang sama?

3 thoughts on “Kondom, AIDS dan Budaya

  1. Saya pun bergumul dengan hal yang sama ketika melihat metode yang digunakan untuk mencegah penyebaran AIDS. Kita ingin agar bukan saja AIDS tidak lagi menyebar, kita juga tidak ingin perilaku seks bebas semakin menjamur.

    Namun ada sebagian diri saya yang berpikir:
    Jika ada seseorang yang (telah) memutuskan untuk melakukan seks bebas, bukankah cara yang bertanggungjawab untuk melakukan hal itu adalah dengan memakai kondom?

    Bagaimana menurut anda?

    • Terima kasih untuk comment anda.

      Saya sangat menghargai masukan dan pemikiran anda. Tetapi, saya masih berpikir bahwa sebuah pesan yang lebih efektif perlu dipikirkan untuk menjangkau mereka yang “telah memutuskan” untuk hidup dengan seks bebas. Media televisi kita memiliki bias yang terlalu besar untuk sebuah pesan tentang kebertanggungjawaban dalam perilaku seks bebas. Pesan iklan dalam media nasional seperti itu, saya kira, sangat mungkin memberikan efek yang justru berbalik daripada yang diharapkan. Alih-alih mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka yang hidup dalam seks bebas, pesan tersebut justru menjadi konsumsi anak-anak muda yang justru melihat sebuah “pembenaran” bagi prilaku seks bebas: boleh dilakukan asal pakai kondom.

      Pesan seperti iklan layanan masyarakat tersebut saya pikir terlalu beresiko seperti itu.

      Kalimat “Menggunakan kondom adalah prilaku bertanggungjawab” masih dapat diperdebatkan panjang. Ada banyak masalah dalam kata demi kata yang dikampanyekan yang dapat diperdebatkan. Inilah yang mengambil banyak perhatian saya.

      Bagaimana menurut anda?

  2. “Alih-alih mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka yang hidup dalam seks bebas, pesan tersebut justru menjadi konsumsi anak-anak muda yang justru melihat sebuah “pembenaran” bagi prilaku seks bebas: boleh dilakukan asal pakai kondom.”
    Untuk ini saya sangat setuju dengan anda.

    Tapi…
    Untuk hal ini saya melihat ada dua lapisan (misalnya untuk seks bebas):
    1. Dosa – dalam hal ini kita harus memiliki prinsip yang benar – dosa adalah dosa, bagaimanapun kita memberi label. Kita harus memberi zero toleransi terhadap dosa.
    2. Konsekuensi dosa – yaitu akibat yang ditimbulkan dari dosa kita. Dalam hal ini, jika seseorang sudah memutuskan untuk berdosa (mis. melakukan seks bebas), tentu perlu (?) dipikirkan bagaimana agar konsekuensinya juga minimal.

    Seorang misionaris dari AS, teman saya yang berintegritas tinggi dan menjunjung kekudusan berkata kepada saya “Saya tidak mengijinkan ataupun merestui anak saya untuk melakukan seks pranikah. Tapi jika mereka memutuskan untuk melakukan hal itu, saya akan beritahu mereka untuk memakai kondom…”

    Jadi mungkin istilah ‘bertanggung jawab’ sendiri akan memiliki tingkatan (?) Misalnya,
    paling bertanggung jawab: no free sex,
    kurang bertanggung jawab: free sex, with condom,
    tidak bertanggung jawab: free sex, without condom
    Mungkin…

    Saya juga merasa bahwa ini penting, dan berterima kasih karena anda sudah membuka diskusi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s