Welcome!

Selamat datang ke Max125, sebuah blog yang berisi ide, naskah khotbah, renungan, dan ilustrasi yang telah saya kumpulkan selama beberapa tahun terakhir ini.

Blog ini saya rindukan boleh menjadi sarana bagi kita untuk berbagi ide, pemikiran, materi khotbah, dan bahkan berbagi cerita tentang pelayanan yang kita hidupi di dalam Tuhan.

Saya bermimpi ada sebuah blog berbahasa Indonesia yang mengumpulkan rekan-rekan hamba Tuhan yang melayani di Indonesia dalam sebuah jejaring yang saling memberkati.  Tempat dimana kita berbagi materi-materi pelayanan yang telah kita kembangkan dalam pelayanan kita selama ini.

Saya percaya setiap hamba Tuhan telah diberikan banyak kesempatan untuk mempersiapkan pelayanan dalam bentuk naskah tertulis (mis. naskah khotbah) tetapi mungkin hanya kita khotbahkan sekali di mimbar gereja yang kita layani.   Jika demikian, sayang sekali rasanya, bukan? Jadi mari berbagi melalui blog ini.

Running Out of Time (Kehabisan Waktu)

Saya ingat sewaktu saya masih kecil sampai saya beranjak remaja, kami sekeluarga (papa, mama dan tiga jagoan bersaudara) bisa dikatakan sering makan bersama sebagai keluarga, terutama saat makan malam. Kadang kami pergi makan keluar, atau juga makan bersama di rumah.  Jika diingat lagi, itu adalah pengalaman sederhana yang sangat menyenangkan. Namun, saya tidak terlalu yakin bahwa hari ini masih ada banyak keluarga yang mempunyai kesempatan untuk makan bersama satu meja sekarang. Karena itulah, beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga pergi ke sebuah restoran dan saya melihat satu keluarga cukup besar masuk ke restoran yang sama dan kemudian duduk tidak jauh dari meja kami. Melihat mereka masuk saya seakan bernostalgia membayangkan bagaimana saya dulu duduk makan bersama di restoran dengan papa, mama dan dua adik.  Saya tersenyum melihat waktu mereka masuk membayangkan kebiasaan kami dulu makan sekeluarga. Tapi, nostalgia saya terganggu waktu mereka mulai duduk, memesan dan menunggu pesanan mereka.

Mereka duduk bersama, tetapi tidak seorang pun berbicara satu dengan yang lain selama beberapa menit. Mengapa? Semua sibuk dengan gadget dan handphone masing-masing. Si Papa berbicara di telpon. Si Mama senyum-senyum sambil memencet bb-nya. Dua anak bermain dengan bb masing-masing, sementara anak yang paling kecil bermain NDS. Hanya satu orang yang tidak sibuk mengutak-atik bb dan duduk dengan manisnya. Tebak siapa? Si Nenek.

Hal serupa sangat umum terjadi saat ini dalam beragam variasi yang berbeda, bahwa ada banyak orang lebih sibuk dengan gadget dan dunianya sendiri sehingga mengurangi kontak nyata dengan orang lain. Teknologi dewasa ini berkembang semakin personal sehingga mengurangi relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita.

Ilustrasi. Videoclip “Disconnect to Connect”.

Penting untuk disconnect dari gadget untuk connect dengan orang-orang penting di sekitar kita. Teknologi membuat yang jauh semakin dekat, dan yang dekat semakin jauh. Penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang baik akan nilai sebuah hubungan. Penting bagi kita untuk memiliki disiplin demi membangun relasi yang bernilai dalam kehidupan kita.

waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali

Bagaimana kita membangun relasi dan hidup kita hari ini, saat ini, sangat penting karena kita akan kehilangan “hari ini” besok. Waktu (dan kesempatan) adalah hal yang tidak terbeli. Harta yang sangat (kalau tidak mau dibilang paling) berharga.

Waktu kita untuk menikmati keluarga kita tidak akan bertambah. Kesempatan kita untuk mendidik anak-anak kita tidak akan bertambah. Waktu dan kesempatan kita akan terus berkurang.  Apa yang sudah lewat tidak akan kembali.

Lukas 10:38-40a. 38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani.

Anda kenal kisah ini… [kisahkan secara singkat]

Maria dan Marta adalah kakak beradik yang sama sekali berbeda dalam cara mereka menggunakan waktu mereka. Marta selalu berpikir dia tidak punya cukup banyak waktu untuk melakukan banyak hal, sementara Maria mengambil kesempatan terbaik untuk duduk dekat dan mengalami kehadiran Tuhan Yesus.  Untuk itulah Maria mendapatkan pujian dan berkatNya.

Menarik diperhatikan bahwa baik Maria dan Marta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengalami Tuhan secara pribadi. Tuhan hadir dalam rumah mereka. Apa yang anda lakukan kalau tahu sebentar lagi Tuhan akan datang ke rumah anda?  Maria tentu punya banyak aktifitas rumah harian yang harus Ia lakukan, mungkin ada baju kotor yang belum dicuci, piring bekas makan yang belum dirapikan, mungkin ada beberapa belanjaan yang harus dibeli, dsb. Atau mungkin Ia bisa saja menyapu, mengepel dan rapi-rapi. Tetapi, Maria memutuskan untuk menangkap moment itu untuk Ia nikmati bersama dengan orang yang penting dan sangat disayanginya, Tuhan Yesus.

Maria berkata, “Saat ini, ketika aku memiliki kesempatan ini untuk dekat dengan Tuhan, aku tidak akan menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Aku akan menangkap kesempatan ini untuk menikmati waktuku dengan Tuhan selagi aku bisa.” Ia mengambil pilihan yang bijaksana. Ia tahu tidak selalu Tuhan akan ada di sana. Ia tahu tidak selamanya orang yang dikasihinya akan selalu sempat mampir datang ke rumahnya. Ia tahu tidak banyak waktu Ia bisa mendengar suara Tuhan Yesus. Ini kesempatan yang tidak akan kembali lagi.  Maria bukan bermalas-malasan, Ia hanya memilih untuk fokus pada apa yang terpenting.

Saya pernah katakan ini beberapa waktu lalu tentang pentingnya keluarga. Anak kita tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Istri kita tidak akan selamanya muda. Suami kita tidak akan selamanya bisa diajak bepergian. Orangtua kita tidak akan selamanya ada bersama kita. Sahabat terbaik sekalipun tidak akan selalu tinggal di kota yang sama dengan kita. Kita perlu membangun hubungan terbaik denga orang-orang yang kita kasihi sekarang!  Kita bisa dengan segera kehabisan waktu untuk dinikmati bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.

Mitos: Sibuk adalah tanda kesuksesan. Tidak punya waktu adalah sinyal keberhasilan. Adalah keren jika seseorang ingin bertemu dan kita dapat berkata, “Sebentar ya, aku harus cek jadwal dulu!”

Seperti Maria, kita perlu belajar untuk memilih untuk mengisi waktu kita yang terbatas hanya untuk hal-hal yang terpenting. Ini soal prioritas. Jangan sekadar melakukan hal-hal yang penting, tetapi lakukanlah hal terpenting. Ini soal prioritas. Sebab, waktu yang sudah lewat tidak akan pernah kembali.

bagaimana memaksimalkan sebuah hubungan?

dimana pun anda berada, berada disanalah sepenuhnya

Saat  ini, ketika anda sedang duduk dalam ruang ibadah ini, entah ada berapa banyak pikiran yang berseliweran di benak anda sekarang. Umumnya, kita memiliki begitu banyak hal yang kita pikirkan dalam pikiran kita sekaligus. Itu salah satu yang membuat kita seringkali bisa berhenti di tengah doa, lupa tadi sedang ngomong apa pada Tuhan. Apakah anda sering mengalaminya?  _^

Serupa dengan itu, saat anda sedang duduk disini sekarang, beberapa orang kemungkinan mengalami masalah besar untuk tetap fokus pada ibadah dan khotbah. Pikiran kita bisa tiba-tiba, tanpa direncanakan, terpikir eh mau makan dimana setelah ibadah selesai? Aku ada janji nanti nonton nanti sore, ada film apa aja yang sedang tayang ya?  Besok kiriman stok baru masuk untuk toko. Ada tagihan yang harus dibayar hari Rabu. Pacar sebentar lagi ulang tahun mau kasih kado apa. Eh lupa, mobil sudah lama dak ganti oli. Mau ganti oli dimana ya?  Baju Novi hari ini bagus nian, beli dimana ya dia? dsb, dst.

Ketika anda sedang bersama dengan orang yang anda kasihi, selalu ada kemungkinan pikiran kita tidak berada di tempat yang sama. Ya, saya jujur itu pun seringkali saya alami.  Tidak jarang saat kami sedang mengobrol, saya sepertinya mendengar apa yang Vina katakan, manggut-manggut, “Iya, bener! Masak?” Tetapi tiba-tiba Vina bertanya sesuatu beberapa kali, akhirnya sambil berteriak, “An!” Refleks saya jawab, “Iyo!” Lalu, saya sendiri bingung tadi dia sampai dimana ceritanya, lalu perlahan tanya, “Tadi kau ngomong apo?”  Teng tong! Wajar kalau dia sering kesel kalau ngobrol _^

Dimana pun kita berada, berada disanalah sepenuhnya. Hadir secara utuh. Bukan sekadar tubuh yang ada di rumah atau di meja makan, tetapi seluruh hati dan pikiran.

mengobrollah dengan hati

Berbicara dan mendengarlah dengan hati. Berkomunikasi dengan hati. Jangan hanya sekadar bertukar informasi. Bukan hanya sekadar bicara tentang hal kecil (bayar listrik, kapan pergi belanja), tetapi tentang apa yang perasaan dan hati. Ketika bertengkar, komunikasi mudah menjadi buruk ketika kita membuat penilaian tentang orang yang kita ajak bicara. Bicaralah lebih tentang apa yang menjadi isi hati anda. Itu akan mendatangkan simpati.

berdisiplinlah membangun waktu bersama

Kebijakan keluarga. Andi Stanley, “The Best Question Ever”, Pertanyaan terbaik yang membangun kehidupan, apakah bijak…?

mengapa relasi penting dibangun?

relasi adalah investasi penting untuk kehidupan

Pengkhotbah 4:9-12. 9 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. 10 Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! 11 Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? 12 Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

Hubungan atau relasi adalah sebuah investasi besar. Investasi berarti ada sesuatu yang harus kita “tanam” untuk kemudian menghasilkan keuntungan balik yang menambah nilai kehidupan kita.

Relasi adalah investasi penting untuk pertumbuhan dan kebahagiaan.

Lima Penyesalan Terbesar Menjelang Ajal. Bonnie Ware, seorang perawat Australia, telah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dalam unit perawatan khusus bagi pasien yang tinggal memiliki waktu hidup kurang dari 12 bulan karena penyakit yang dideritanya. Setelah bertahun-tahun mendampingi banyak orang menjelang kematian mereka, Bonnie menemukan bahwa ada begitu banyak pasiennya yang menemukan kejelasan tentang arti hidup sementara mereka hampir mati. Ketika mereka ditanya tentang penyesalan mereka dalam hidup, beberapa tema selalu berulang dibicarakan oleh mereka yang hampir meninggal.

Lima penyesalan yang paling umum dikatakan adalah sbb.

  1. Seandainya saja aku punya keberanian untuk hidup jujur dengan diri sendiri, bukan sekadar hidup seperti yang diharapkan orang lain.
  2. Seandainya saja aku tidak bekerja begitu keras. Bonnie menambahkan bahwa semua pasien prianya mengatakan hal yang sama.
  3. Seandainya saja aku mempunyai keberanian untuk mengekspresikan perasaanku.
  4. Seandainya saja aku terus berhubungan dengan teman-temanku. Semua orang merindukan teman dan sahabat mereka. Menyesal bahwa mereka tidak memberikan cukup waktu dan usaha untuk membangun hubungan yang baik dengan teman dan sahabat.
  5. Seandainya saja aku membiarkan diriku untuk merasa bahagia. Banyak orang tidak sadar bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan, sampai akhirnya mereka tidak punya kesempatan lagi untuk bahagia.

 

 

 

Komunitas

[Preached at IEC (GII Hok Im Thong) Singapore - 5 Agustus 2012]

Don’t Waste Your Time Being A Christian.  Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya minggu lalu di internet, “Don’t Waste Your Time Being A Christian”  yang ditulis oleh Frank Voila. Ia menulis tentang betapa banyak orang bisa begitu mudah menghabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna.

Demikian pun dalam perjalanan rohani kita dengan Tuhan, kehidupan rohani orang percaya, dalam kehidupan gereja Tuhan, keluarga Allah dan komunita kristen. Kita bisa melakukan banyak hal yang sia-sia, tidak berguna, bahkan cenderung merusak kehidupan kita pada akhirnya.

Ada sepuluh hal yang umum dilakukan orang Kristen yang sesungguhnya sama sekali membuang waktu, alias tidak berguna. Inilah sepuluh hal yang jika kita lakukan adalah hal yang, menurut Voila, membuang waktu dan sia-sia:

  1. Membiarkan diri menyimpan akar pahit kepada orang yang melukai kita [v]
  2. Menggunakan waktu, uang dan energi hanya untuk kesenangan dan kebutuhan diri sendiri [v]
  3. Tidak punya waktu untuk berdiam diri hanya bersama Tuhan
  4. Mengabaikan pembacaan firman Tuhan (Alkitab) setiap hari
  5. Membicarakan orang lain dibelakang mereka (khususnya saudara seiman) [v]
  6. Jarang (bahkan tidak pernah) membaca buku rohani
  7. Tidak punya hubungan yang berkualitas dengan saudara seiman [v]
  8. Membiarkan iri hati menguasai hati dan tindakan kita  [v]
  9. Tidak pernah belajar dari kesalahan
  10. Menyia-nyiakan krisis (masalah hidup) sebagai kesempatan untuk mengalami Tuhan.

Hal yang sia-sia kita lakukan sebagai orang Kristen, dua bicara tentang disiplin rohani, tiga tentang pengembangan diri pribadi, dan lima tentang relasi dengan sesama saudara seiman!  Lima problem terburuk kita bicara soal relasi yang buruk dengan sesama saudara seiman, rekan sepelayanan, teman segereja. Dan rupanya itulah yang memang selalu menjadi masalah mengapa banyak gereja tidak dapat berkembang secara maksimal untuk Tuhan—karena disunity, ketidaksatuan keluarga Tuhan.  Ketidaksehatian. Selalu ada alasan kita punya masalah ketidaknyamanan dengan orang-orang tertentu yang membuat kita tidak dapat menjadi gereja, keluarga, komunita, seperti yang Tuhan ciptakan.

Dunia masa kini sangat jauh berbeda dengan cara hidup jemaat gereja mula-mula di abad pertama. Hari ini kita akan belajar melihat bahwa orang percaya dimaksudkan untuk berdiri sebagai satu komunita yang saling membangun.

Continue reading

Christmas Is Not Your Birthday

Masa natal segera datang. Dan saya kira semua orang memiliki perasaan yang berbeda menjelang natal akhir tahun ini. Ada pengharapan, tentu saja, bahwa natal ini akan berlangsung dengan indah untuk menutup tahun ini.

Entah kapan dimulainya, kita menjadi terbiasa melewati natal setiap tahun dengan penilaian tertentu. Natal terbaik, natal terindah, natal yang buruk, natal yang menyedihkan, dsb. Kita tentu berharap bahwa pada akhirnya, setelah semua kemeriahan natal berakhir, kita dapat berkata, “Ini natal terbaik atau terindah buatku!” Ini harapan yang umum. Tetapi, faktanya ada saja waktunya kita bisa berkata, “Ini natal terburuk!”, “Natal tahun ini biasa saja”, dsb.

Sewaktu saya sekolah Minggu, natal selalu menyenangkan dan mudah menjadi natal “terbaik” selama ada hadiah natal, hadiah prestasi, snack dan bingkisan makanan ringan beraneka warna. Sekali waktu natal masa kecil saya menjadi buruk karena ada waktu saya memang tidak bersekolah minggu selama beberapa waktu sehingga hadiah natal saya minim. Bayangkan, perasaan saya melihat anak lain membawa lebih banyak hadiah natal dari saya karena mereka lebih rajin! Bad christmas.

Ada waktunya ketika saya masih kecil natal bernilai baik dan indah ketika saya berhasil tampil dengan baik dalam drama, paduan suara, gerak dan lagu, atau acara apapun pengisi acara natal di gereja.

Lalu, ketika beranjak remaja, natal menjadi semakin “asik” dilalui karena ritual christmas carol yang baru bagi saya yang berusia 12-13 tahun. Ini berarti perjalanan semalaman bersama dengan teman segereja (tanpa orangtua) berkunjung kerumah-rumah. Agendanya, 10 menit menyanyi lagu “Malam Kudus” di jalan di malam hari, lengkap dengan lilin di tangan, dan mengucapkan dengan keras “Selamat Hari Natal dan Tahun” beramai-ramai. Plus, 20 menit menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah. Wow, ini dia!

Natal terbaik yang bisa saya ingat ketika remaja terjadi tahun 1994, terlibat banyak persiapan dan pelayanan natal, christmas carol (10 menit acara, 20 menit makan di setiap rumah). Natal itu menjadi natal terindah karena satu faktor tambahan: itu natal pertama saya bersama pacar pertama saya, Vina! Haha. (Saya pikir, apalagi yang meng-indah-kan natal seorang remaja selain dua faktor itu: pacar dan banyak makanan gratis di depan mata!)

Tentang natal yang buruk? Ya, saya juga punya pengalaman itu. Terjadi tahun 2001 dan 2002, tanpa pelayanan apapun di gereja, liburan seminari yang sepi, tanpa pacar. Masa putus terjadi. Bad christmas.

Saya percaya setiap anda yang hadir hari ini juga punya pengalaman serupa. Kita memiliki perasaan tertentu berkenaan dengan natal. Kita mengharapkan semua yang baik dan indah terjadi ketika natal, tetapi faktanya hal-hal buruk juga bisa terjadi. Keluarga bisa bertengkar. Keuangan dapat memburuk. Anak atau orangtua yang kita kasihi sakit. Seseorang bisa dipecat. Orang-orang tetap bisa meninggal di masa natal. Kebenarannya adalah masalah dan kesulitan tidak pernah pergi berlibur dari kehidupan kita, termasuk saat natal. Problem and trouble never takes a holiday, even at christmas.

Ada beberapa hal yang dapat dengan mudah membuat kita kehilangan kesukacitaan yang Tuhan berikan ketika natal tiba: [1] masalah kesehatan, [2] masalah dalam usaha dan pekerjaan, [3] masalah emosional pribadi, [4] masalah dalam keluarga, dan [5] masalah relasi dengan Tuhan.
Ada lagi soal: [A] kesibukan studi atau pekerjaan, [B] kesibukan pelayanan yang melelahkan, [C] keinginan atau harapan yang tidak terpenuhi. “Rasa” natal kita (baik atau buruknya) harus diakui akhirnya sangat bergantung kepada hal-hal semacam ini. Natal yang seharusnya indah bisa berakhir dengan buruk.

Tetapi, seharusnya kita tidak aneh bahwa tidak ada natal yang sempurna—karena bahkan natal pertama pun bukanlah gambaran tentang natal yang sempurna. Di tengah segala keajaiban dan kesukacitaan, sesungguhnya terjadi banyak hal yang tidak menyenangkan. Terjadi banyak hal yang menyakitkan. Terjadi banyak luka.

Jika kita memperhatikan lagi kisah natal dalam Matius 2:13-23, kita akan menemukan bahwa ada hal-hal buruk, menyakitkan dan luka yang terjadi. Tetapi, di tengah semua itulah kehadiran bayi natal memberikan pengharapan.

Matius 2:13-23. 13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” 14 Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” 16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. 17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: 18 “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Natal dapat dipenuhi oleh ketidaknyamanan (v. 13-15)

Bagi beberapa orang natal dapat berarti kesibukan dan pengeluaran ekstra yang membuat sangat tidak nyaman. Banyak waktu dihabiskan untuk mengerjakan ini dan itu. Persiapan dekorasi di gereja, di rumah. Persiapan pelayanan natal yang mendesak. Beberapa orang bisa stres berusaha memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik. Belum lagi, pekerjaan menjelang akhir tahun justru sangat sibuk bagi beberapa orang. Audit akhir tahun. Belum lagi kalau ada anak atau pasangan yang minta liburan di masa natal dan akhir tahun yang pasti mahal. Natal bisa dengan mudah dipenuhi oleh banyak hal-hal yang tidak menyenangkan. Hal yang serupa juga terjadi bagi Yusuf dan Maria di natal pertama.

Masalah pertama, Maria hamil. Mereka bertunangan, tetapi belum menikah. Yusuf sudah siap melepaskan diri dari semua masalah itu, tetapi malaikat Tuhan mencegahnya. Bagaimana Yusuf stres memikirkan bagaimana cara menceraikan Maria baik-baik. Bagaimana menjelaskan hal itu kepada papa mamanya dan seluruh keluarganya bahwa Maria hamil. Bagaimana perkataan orang banyak nantinya.

Tetapi itu baru masalah pertama, tidak lama setelah itu, kaisar mengadakan sensus besar-besaran dan semua orang harus kembali ke kota kelahirannya dan membayar aturan pajak yang baru. Itu perjalanan yang tidak dipersiapkan oleh Yusuf. Pengeluaran pajak baru yang juga tidak masuk dalam budgetnya. Padahal, Maria segera akan melahirkan.

Yusuf mengumpulkan semua sisa miliknya, berangkat ke Betlehem dan menemukan masalah lainnya, tidak ada tempat di penginapan. Tidak ada pilihan karena Maria hampir melahirkan, Ia tinggal disatu-satunya akomodasi yang bisa diberikan pemilik penginapan: di kandang. Di kandang yang bau itulah, tanpa bantuan dokter, tabib, bidan; tanpa peralatan steril; dan tanpa obat penahan sakit apapun, Maria melahirkan di kandang dengan selamat.

Tetapi, situasi tenang tidak berlangsung lama, setelah Yesus dilahirkan, seorang malaikat datang membawa pesan pada Yusuf (v. 13-15) untuk membawa Maria dan bayi Yesus lari ke Mesir dan tinggal di sana karena Herodes berencana membunuh anak itu.

Bagaimana anda mungkin meresponi semua masalah dan ketidaknyamanan ini? “Tuhan, cukuplah! Mengapa Tuhan tidak membuat Herodes terkena serangan jantung atau stroke saja? Kan beres. Apa kami belum cukup susah selama ini? “ Tetapi Yusuf menyiapkan keluarga kecilnya dan segera berangkat ke Mesir.

Berulang-ulang kali Yusuf dan Maria bertahan melalui semua ketidaknyamanan itu demi anak mereka. Tetapi perhatikan hal yang lain: dalam setiap ketidaknyamanan dan masalah, Tuhan menyediakan pertolongan. Tuhan mengirimkan malaikat untuk menjelaskan apa yang sedang dikerjakannya pada Yusuf dan Maria. Ia menyediakan dana untuk ke Betlehem. Menyediakan tempat di kandang. Setidaknya, masih ada tempat. Dia mengirimkan harta berharga orang-orang majus untuk mendanai aksi penyelamatan dari kekejaman Herodes.

Lagi dan lagi, berulang-ulang kali kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu menyediakan pertolongan untuk menolong kita melewati masalah dan ketidaknyamanan yang kita alami. Tuhan mungkin tidak menyingkirkan semua masalah kita, tetapi Ia selalu memberikan kekuatan untuk melaluinya. Dia bukan Santa Klaus yang memberi semua yang kita minta, tetapi Ia selalu dan pasti menyediakan kebutuhan kita. Dia mungkin tidak akan mengirim petir untuk menyambar orang yang melukai dan menjahati kita, tetapi Tuhan selalu menjaga dan memimpin kehidupan kita.

Jika natal kita dipenuhi oleh ketidaknyamanan, ingatlah bahwa Tuhan memenuhi kita dengan pertolongan dan anugerahnya.

Natal dapat dipenuhi oleh luka (v. 16-18)

This is the truth… masalah tidak pernah berlibur—bahkan ketika natal. Kita masih bisa terluka.
Pada malam natal sekalipun seseorang bisa dijambret, sebuah rumah bisa kemalingan, seorang anggota keluarga bisa sakit tiba-tiba. Hal-hal buruk terjadi. Kehilangan yang menyakitkan bisa terjadi.

Ilustrasi. Dua tahun lalu, ada sebuah berita di Amerika tentang seorang ibu dan bayinya yang baru dilahirkan tiba-tiba berhenti bernafas pada hari natal. Kisah ini menjadi heboh di Amerika karena tidak berapa lama setelah dinyatakan meninggal oleh dokter, si ibu dan bayinya tiba-tiba bernafas dan hidup lagi. Stacy Hermanstorfer, si ibu meninggal selama 30 menit, sementara bayinya meninggal selama 5 menit. Bayi kecil itu sampai disebut sebagai Coltyn, The Christmas Miracle Baby. Kisah yang berakhir indah di hari natal, tetapi tidak semua masalah berakhir bahagia pada saat natal.

Pada natal pertama sesungguhnya malah ada begitu luka, kehilangan dan kepahitan yang muncul memenuhi langit kota Betlehem. Herodes yang meledak murkanya karena dikhianati oleh para majus memerintahkan untuk membunuh semua anak berusia di bawah dua tahun.
Bayangkan bagaimana perasaan orangtua yang anaknya dibunuh. Bayangkan berapa banyak orangtua yang terbunuh karena berusaha menyelamatkan anak mereka. Mereka semua yang menjadi korban bahkan tidak tahu mengapa perintah yang begitu kejam bisa dikeluarkan. Mereka bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bayangkan berapa banyak pertanyaan “mengapa” yang muncul malam itu.

Kita juga mungkin melewati natal dengan pertanyaan yang sama. Tuhan mengapa hal ini terjadi padaku? Mengapa engkau mengambil orang yang kusayangi? Mengapa aku harus melewati natal ini sekali lagi dengan perasaan yang sama? Mengapa Tuhan belum memberikan apa yang kudoakan selama bertahun-tahun? Mengapa Tuhan membiarkan aku terluka dan merasa sakit natal ini?

Saya tidak punya jawaban atas semua pertanyaan semacam itu. Tetapi, sekalipun saya mengetahui semua jawabannya, saya tidak yakin itu akan memulihkan luka dan rasa sakit yang anda alami. Yang kita dapat ketahui dengan pasti adalah fakta bahwa Tuhan ada di tengah segala pergumulan yang kita alami. Dia hadir di sisi kita. Tuhan menjanjikan kehadiranNya dalam kita.

Mazmur 34:19-20. 19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. 20 Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu

Ilustrasi. Seorang pegolf profesional, Paul Azinger, didiagnosa kanker yang kemudian memaksanya untuk pensiun dari karirnya yang gemilang. Suatu kali Ia menulis tentang reaksinya setelah menerima diagnosa penyakit itu: “Saya dengan jujur berkata bahwa saya tidak pernah berkata, ‘mengapa saya, Tuhan?’ Ada dua jalan anda dapat bereaksi setelah mendapat kabar buruk seperti ini. Ada dapat berkata, ‘Mengapa saya, Tuhan? Mengapa saya?’ Atau, anda dapat menghadapinya saja dan datang pada Tuhan dan bersandar padaNya untuk mendapatkan ketenangan dan pengharapan. Itulah yang saya lakukan.”

Setahu saya, Tuhan hampir tidak pernah menjawab pertanyaan “mengapa” yang diajukan padaNya. Dia juga tidak selalu mengambil rasa sakit dan kesedihan kita. Jadi apa yang dapat kita lakukan? Berlari pada Yesus dan bersandar padaNya seperti seorang anak yang bersandar pada bahu ayahnya.

Jadi kesimpulannya, natal tidak menjanjikan kehidupan yang lepas dari masalah, ketidaknyamanan dan luka. Tetapi, ini kebenaran yang penting untuk kita pahami, yaitu bahwa natal menawarkan sesuatu kepada mereka yang sedang terluka dan dalam pergumulan.

Natal memberikan pengharapan yang baru

Malam ketika bayi Yesus dilahirkan sesungguhnya pengharapan baru lahir dalam kehidupan semua orang.

Malam ketika para gembala menerima pesan malaikat tentang kelahiran bayi natal, seorang tunarungu bermimpi bahwa suatu hari kelak Ia akan mendengar.

Seorang yang buta sejak lahir boleh bermimpi bahwa Ia akan melihat keindahan dunia.

Seorang kusta yang telah kehilangan banyak jari kaki dan tangannya mendapatkan pengharapan bahwa tubuhnya akan menjadi utuh kembali.

Seorang wanita yang mengalami pendarahan selama duabelas tahun mendapatkan kesempatan untuk disembuhkan.

Seorang pria yang telah mati suatu hari kelak akan berkata, “Aku pernah mati, tetapi jenazahku tidak sampai ke kuburan karena seseorang menghidupkan aku kembali! Aku pernah mati, dan aku tidak mempunyai kuburan.”

Inilah alasan kita merayakan natal. Kita merayakan pengharapan yang Tuhan bawa melalui bayi natal itu. Kita merayakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Kita merayakan Tuhan.

iPad: Hadiah Natal Paling Ditunggu Anak-anak. WASHINGTON, KOMPAS.com — Mendekati Black Friday atau masa promo besar-besaran menjelang liburan Natal di AS bagi sebuah produk, anak-anak paling banyak mengincar iPad. Hal tersebut mencuat melalui survei yang dibikin oleh Nielsen terhadap anak-anak berusia 6-12 tahun pada awal pekan ini. Dari gadget yang ada di pasaran, 31 persen anak-anak AS yang disurvei Nielsen menginginkan iPad dan menyusul iPod Touch. Hanya 11 persen dari anak-anak itu yang menginginkan e-reader dan hanya 12 persen yang menginginkan Microsoft Xbox 360. Bandingkan dengan Nintendo yang diimpikan oleh 25 persen anak-anak atau Sony PlayStation 3 yang diinginkan oleh 21 persen anak-anak.

Tidak dapat dipungkiri bagi banyak orang—bukan hanya anak-anak—natal hampir identik dengan suasana, keceriaan, hadiah, event perayaan, momen kebersamaan, dan hadiah. Dan disanalah akhirnya seringkali rasa bahagia-tidak-bahagia kita tertambat. Apakah ini natal terbaik, indah, biasa atau bahkan terburuk.

Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak anak yang gagal merasakan kesukacitaan natal karena tidak mendapat hadiah yang mereka inginkan. Atau, liburan yang diharapkan.

Berapa banyak karyawan dan pengusaha yang tidak merasakan kesukacitaan natal karena terjerat kesibukan pekerjaan yang meningkat di akhir tahun.

Berapa banyak orang yang tidak dapat merasakan kesukacitaan natal karena masalah kesehatan, usaha pekerjaan, problem emosional, masalah dalam keluarga dan hubungan dengan Tuhan yang buruk.

Berapa banyak yang gagal menemukan (lagi) kasih Tuhan karena keinginan pribadi yang tidak terpenuhi natal ini.

Saya berdoa agar kita semua tidak melewati dengan sia-sia seperti itu. Mari siapkan hati kita untuk menjelang kelahiran Tuhan. Mari siapkan diri kita untuk menikmati natal ini dengan kesukacitaan surgawi seperti yang Tuhan rindukan bagi kita.

Epilogue. Saya tidak tahu apa yang anda inginkan dan harapkan natal ini. Beberapa orang mungkin mengharapkan perayaan natal yang gegap gempita. Beberapa mungkin menginginkan liburan bersama keluarga. Beberapa mungkin hanya ingin santai di rumah. Beberapa mungkin ingin Blackberry baru. Beberapa mungkin mengharapkan kehamilan sebagai hadiah natal dari Tuhan. Beberapa mungkin hanya ingin beristirahat pada akhir tahun. Beberapa mungkin mengharapkan khotbah natal yang menyentuh.

Saya tidak tahu apa yang anda inginkan. Tetapi saya ingin berkata bahwa jika hal-hal semacam itulah yang kita inginkan, natal ini mungkin sekali akan berakhir dan berlalu begitu saja arti jika itu tidak terpenuhi. Christmas is not our birthday!